Drama Medsos ITB-Bobotoh Mereda, Ini Kata Rektor & Viking

Sorajabar.com - Polemik sengit yang sempat memanas di jagat media sosial antara oknum mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) dan kelompok suporter Persib, Bobotoh, kini telah mereda. Ketegangan yang dipicu oleh unggahan kontroversial dan isu SARA ini bahkan sempat diwarnai kabar dugaan aksi pelemparan bom molotov ke gerbang Kampus ITB Ganesha. Namun, berkat pertemuan antara pimpinan ITB dan perwakilan Bobotoh, suasana kondusif kembali tercipta di Kota Bandung.

Awal Mula Ketegangan di Dunia Maya

Api konflik ini bermula dari serangkaian unggahan di media sosial yang dianggap menyinggung perasaan Bobotoh dan mengandung unsur SARA. Narasi yang berkembang di dunia maya kemudian menciptakan opini seolah-olah ITB sebagai institusi berseberangan dengan Bobotoh, pendukung setia Persib Bandung. Situasi semakin memanas ketika muncul informasi mengenai dugaan aksi pelemparan bom molotov ke area gerbang kampus ITB pada dini hari Senin (25/5/2026), sebuah insiden yang menambah kekhawatiran publik akan potensi konflik yang lebih besar.

Merespons situasi ini, pihak ITB dan perwakilan Bobotoh segera mengambil langkah konkret. Mereka sepakat bahwa perselisihan yang diakibatkan oleh ulah oknum tidak boleh berubah menjadi konflik antarkelompok yang lebih luas dan merusak kerukunan yang selama ini terjalin di Kota Bandung, Jawa Barat.

Viking Persib Club Tegaskan Hubungan Baik dengan ITB

Ketua Umum Viking Persib Club, Tobias Ginanjar, turut angkat bicara mengenai polemik ini. Ia menegaskan bahwa hubungan antara Bobotoh dan ITB sesungguhnya sangat erat. Tobias bahkan mengungkapkan bahwa banyak mahasiswa ITB yang merupakan bagian dari komunitas Bobotoh, termasuk di antaranya kelompok Viking Ganesha.

"Kami diundang bersilaturahmi dengan Pak Rektor ITB terkait yang ramai di media sosial soal postingan dari ITBFest," ujar Tobias dalam keterangan video dari pihak ITB. "Setelah berdiskusi, kami perwakilan Bobotoh menyampaikan dan mengimbau bahwa ternyata di ITB itu sebenarnya tidak membenci Bobotoh, karena banyak juga Bobotoh yang kuliah di ITB," tambahnya, menepis anggapan adanya permusuhan institusional.

Tobias menekankan bahwa persoalan ini tidak boleh digeneralisasi sebagai sikap seluruh civitas akademika ITB terhadap Bobotoh. Namun, ia juga menegaskan bahwa unggahan yang memicu kegaduhan tersebut tetap tidak dapat dibenarkan. "Tindakan yang dilakukan di ITBFest, kami sama-sama sepakat bahwa tidak bisa dibenarkan dan Pak Rektor menyampaikan sebelumnya juga sudah akan dilakukan tindakan tegas sesuai aturan internal yang berlaku di lingkungan kampus ITB," jelasnya, menunjukkan komitmen untuk menindak pihak yang bertanggung jawab.

Rektor ITB Sampaikan Permintaan Maaf dan Kecaman Keras

Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, dalam kesempatan tersebut menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang timbul. Ia mengakui bahwa konflik di media sosial memiliki potensi untuk bergulir menjadi bola salju yang besar dan berdampak negatif pada kerukunan warga Bandung. "Saya mohon maaf sekali telah terjadi kegaduhan tadi yang sudah disampaikan di media sosial, kita tahu bahwa kehidupan di media sosial kadang bergulir menjadi bola salju yang besar dan berdampak pada kerukunan," ujar Tatacipta.

Rektor ITB menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin dipertentangkan dengan Bobotoh maupun Viking Persib Club. Tatacipta memastikan kampus akan menindak oknum yang terlibat sesuai aturan internal ITB. Ia juga mengecam keras segala bentuk provokasi yang membawa isu perpecahan dan SARA. "Kami sama sekali tidak membenarkan dan menyesalkan bahkan mengutuk pernyataan yang sifatnya provokatif, menghasut, memecah belah," tegasnya, menambahkan bahwa tindakan semacam itu bertentangan dengan budaya akademik yang beradab. "Kita ini satu keluarga besar dan mari sama-sama membuat Kota Bandung aman kondusif," pungkasnya.

Pesan Damai dari Bobotoh Senior dan Harapan Kedepan

Senada dengan pimpinan ITB, Bobotoh senior Eko Noer Kristiyanto atau akrab disapa Eko Maung, turut menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi aksi kekerasan maupun vandalisme atas nama Bobotoh. "Buat bobotoh aksi kekerasan, vandalisme gak ada toleransi," ucap Eko Maung dengan tegas. Ia juga mengingatkan seluruh mahasiswa di Bandung dan Jawa Barat agar memahami kultur masyarakat yang memiliki kedekatan emosional kuat dengan Persib.

"Untuk mahasiswa di seluruh kampus di Jawa Barat harus paham dengan kultur warga Bandung, warga Jawa Barat. Termasuk keistimewaan Persib di hati warganya," ungkapnya. Eko juga menyoroti keseriusan masalah ketika narasi yang muncul mulai menyentuh isu SARA. "Kalau ada statemen yang sampai sara itu gak bisa ditolerir lagi, malah membahayakan diri sendiri," tegas Eko. Setelah pertemuan ini, Eko berharap situasi benar-benar mereda dan tidak lagi dipanaskan, baik di dunia nyata maupun media sosial. "Secara normatif ya, ini namanya ikhtiar agar eskalasinya turun. Berproses ya, semoga membaik tensinya," tutup Eko, memberikan harapan untuk kedamaian berkelanjutan di Jawa Barat.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Drama Medsos ITB-Bobotoh Mereda, Ini Kata Rektor & Viking
  • Drama Medsos ITB-Bobotoh Mereda, Ini Kata Rektor & Viking
  • Drama Medsos ITB-Bobotoh Mereda, Ini Kata Rektor & Viking
  • Drama Medsos ITB-Bobotoh Mereda, Ini Kata Rektor & Viking
  • Drama Medsos ITB-Bobotoh Mereda, Ini Kata Rektor & Viking
  • Drama Medsos ITB-Bobotoh Mereda, Ini Kata Rektor & Viking

Posting Komentar