Megah Tapi Sepi! Nasib Pilu Pasar Jalaksana Kuningan
Sorajabar.com - Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, menyimpan sebuah ironi di tengah hiruk pikuk jalur utama Cirebon-Kuningan. Sebuah kawasan perbelanjaan yang seharusnya menjadi denyut nadi Ekonomi Lokal, kini justru terdiam dalam sepi, bahkan terkesan terbengkalai. Inilah Pusat Pertokoan dan Pasar Induk Jalaksana, yang berlokasi strategis di Desa Sadamarta, Kecamatan Jalaksana.
Memasuki area pasar ini, kesan pertama yang menyergap adalah kesunyian yang mencekam. Puluhan ruko dua lantai tampak tertutup rapat, seolah tak pernah disentuh aktivitas selama bertahun-tahun. Cat-cat dinding mengelupas, coretan vandalisme merajalela, dan tumbuhan liar tumbuh subur, melilit sudut-sudut bangunan, bahkan menutupi atap-atap yang sebagian sudah runtuh. Pemandangan ini sungguh jauh dari citra sebuah pusat perbelanjaan yang ramai dan hidup.
Mati Suri di Lokasi Strategis
Kondisi memprihatinkan ini tentu saja berdampak besar bagi segelintir pedagang yang masih setia bertahan. Salah satunya adalah Toteng (54), seorang pedagang kebutuhan petani. Dengan nada pasrah, Toteng mengungkapkan keluh kesahnya saat ditemui di tokonya.
"Sudah satu tahun setengah saya di sini. Dari awal kondisinya sudah kayak gini. Ya berdampak lah pada pendapatan. Pembelinya dari mana sepi gini. Nggak menentu. Kadang sehari paling dapat Rp 40.000, sehari paling yang beli dua orang," tuturnya, Kamis (21/5/2026).
Toteng menambahkan bahwa situasi ini sangat memberatkan, terutama karena ia masih harus menanggung biaya sewa ruko sebesar Rp 10 juta per tahun. Meskipun demikian, ia memilih untuk tetap bertahan, menggantungkan harapan agar pihak terkait segera menemukan solusi untuk menghidupkan kembali denyut ekonomi di pasar ini.
"Saya tetap mau di sini. Tapi saya berharap pasarnya nanti ke depan ada pembaharuan lah. Mungkin ada renovasi gitu. Ruko ini kan dibuat biar ada pasar ramai. Ramainya bisa setiap hari," harapnya.
Status Tak Jelas dan Harapan yang Menggantung
Kisah sepi Pusat Pertokoan dan Pasar Induk Jalaksana ternyata bukan cerita baru. Agus, seorang warga setempat sekaligus pengelola kedai Buah Naga di kawasan tersebut, membeberkan bahwa kondisi terbengkalai ini sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Menurutnya, salah satu akar permasalahan utama adalah ketidakjelasan status pengelolaan.
"Dari dulu memang kondisinya begini. Dari tahun 2015 pas saya ke sini, masih belum jelas ini punya siapa yang berhak," ungkap Agus. Ia menjelaskan bahwa tanah tempat pasar berdiri adalah milik Desa Sadamarta, sementara bangunan pertokoan dikembangkan oleh pihak pengembang. "Awalnya ini mau dijadikan pasar sama terminal ganti terminal Cilimus, bangunannya sudah ada. Cuman dari Cilimusnya katanya pada nggak mau," tambahnya.
Pantauan langsung di lokasi memang menunjukkan adanya sebuah bangunan berwarna biru menyerupai terminal di area belakang pertokoan. Namun, sama seperti ruko-ruko di depannya, fasilitas terminal tersebut juga dalam kondisi rusak dan tidak terawat, seolah menjadi monumen dari sebuah rencana yang tak pernah terwujud.
Agus sangat berharap agar kawasan ini segera dibenahi dan dikelola secara maksimal. Ia yakin, jika potensi lahan yang luas ini dimanfaatkan dengan baik, akan ada dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar. "Keinginan kami memang masyarakat sini, pengennya ini dihidupkan semua. Otomatis kan nanti sumber daya manusia bisa warga desa sini juga bisa diangkat. Sayang inikan luas banget tanahnya, kalau dimanfaatkan lumayan," tegasnya.
Lelang Bank dan Peran Pemerintah yang Dinanti
Pihak pengelola pertokoan, Abidin, memberikan gambaran lebih lanjut mengenai kompleksitas masalah ini. Dari total 54 unit ruko yang tersedia, saat ini hanya sekitar 12 unit yang masih berpenghuni. Abidin menjelaskan bahwa sebagian besar ruko yang terbengkalai disebabkan oleh status hukum yang tidak jelas dan proses lelang bank.
"Karena ini ada bagian yang mau dilelang ke bank katanya. Ada sekitar 27 unit yang mau dilelang. Ini yang nggak jelas statusnya. Jadi pengaruh sama yang ke lain," jelas Abidin. Situasi ini diperparah pasca pandemi COVID-19, yang semakin memukul aktivitas ekonomi di sana.
Melihat kondisi ini, Abidin sangat berharap adanya campur tangan dari investor atau pemerintah daerah. Ia memimpikan regulasi yang tepat dapat menarik kembali keramaian ke Pusat Pertokoan dan Pasar Induk Jalaksana. "Harapannya yang ramai lagi. Semoga saja dengan adanya lelang terus ada investor ada yang beli kan bisa ramai lagi. Pemerintah juga bisa bantu regulasinya. Mau dibikin apa biar ekonomi di sini bisa hidup lagi," pungkasnya.
Kisah Pasar Induk Jalaksana adalah cerminan kompleksitas pengembangan ekonomi lokal yang memerlukan sinergi antara berbagai pihak: pemerintah, pengembang, investor, dan masyarakat. Potensi besar di lokasi strategis ini menunggu sentuhan kebangkitan agar tidak terus-menerus menjadi saksi bisu dari harapan yang pupus.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar