x
Game Controller
SEASON 5
BATTLE
PASS OPEN!
JOIN NOW ▶

Kisah Unik Nama Garut Berawal dari Duri yang Menggores

Kisah Unik Nama Garut Berawal dari Duri yang Menggores

Sorajabar.com - Kabupaten Garut yang kini dikenal dengan keindahan alamnya memiliki sejarah panjang. Nama Garut sendiri menyimpan sebuah kisah unik dan tak terduga. Sejarah pembentukan dan penamaan daerah ini bermula dari perjalanan panjang yang melibatkan pemerintah kolonial dan masyarakat pribumi.

Didirikan pada tanggal 16 Februari 1813, Kabupaten Garut tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Kabupaten Limbangan sebelumnya. Kisah ini juga erat kaitannya dengan sebuah mata air legendaris bernama Ci Garut. Perjalanan dari Kabupaten Limbangan hingga menjadi Garut modern adalah narasi yang kaya akan detail.

Menurut buku Tatar Garut Historiografi Tradisional karya M. Ziaulhaq dan Asep Lukman (2007), cikal bakal terbentuknya Garut dimulai pada tahun 1811. Kala itu, pemerintahan kolonial di bawah pimpinan Daendels membubarkan Kabupaten Limbangan. Keputusan ini diambil karena produksi kopi di Limbangan menurun drastis.

Pembubaran juga dipicu oleh penolakan Bupati Limbangan saat itu untuk menanam nila atau indigo. Peristiwa ini menjadi titik awal perubahan administratif yang signifikan di wilayah Jawa Barat. Ada tiga kabupaten yang dibubarkan secara bersamaan oleh Daendels.

Perjalanan Panjang Menuju Nama Garut

Tiga kabupaten yang dibubarkan berdasarkan besluit tanggal 2 Maret 1811 adalah Sukapura, Limbangan, dan Galuh. Kabupaten Galuh kemudian disatukan dengan Kabupaten Sumedang. Ibukota Sumedang kala itu dipusatkan di Kawasem, Banjarsari.

Bekas daerah-daerah kabupaten yang dibubarkan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam pembentukan kabupaten-kabupaten baru. Ini termasuk Kabupaten Priangan Jakarta, Priangan Cirebon, Cianjur, Bandung, Sumedang, dan Parakan Muncang. Restrukturisasi ini menunjukkan dinamika Pemerintahan Kolonial Belanda di Nusantara.

Dua tahun setelah pembubaran, pada tahun 1813, pemerintah kolonial di bawah kepemimpinan Raffles mengeluarkan Surat Keputusan. SK ini bertujuan untuk membentuk kembali Kabupaten Limbangan. Namun, ibukotanya direncanakan tidak lagi di lokasi lama.

Suci, sebuah kawasan di perkotaan Garut yang kini masuk wilayah Kecamatan Karangpawitan, awalnya dicalonkan sebagai ibu kota. Sebuah panitia khusus dibentuk untuk mengurus pembentukan kembali kabupaten ini. Panitia tersebut bertugas meninjau lokasi yang paling strategis.

Namun, dalam perjalanannya, panitia memutuskan bahwa Suci tidak memenuhi syarat. Lokasi tersebut dinilai terlalu sempit untuk dijadikan pusat pemerintahan. Pencarian lokasi baru pun terus dilakukan oleh tim.

Panitia kemudian menemukan kawasan bernama Cimurah, sekitar 3 kilometer sebelah timur Suci. Namun, Cimurah juga memiliki kendala serius. Di tempat tersebut, sulit untuk memperoleh pasokan air bersih yang memadai bagi kebutuhan kota.

Akhirnya, sekitar 5 kilometer arah barat Suci, panitia menemukan tempat yang sangat ideal. Daerah ini tidak hanya memiliki tanah yang subur, tetapi juga mata air yang mengalir deras ke Sungai Cimanuk. Lokasi ini kini menjadi Kecamatan Garut Kota.

Selain faktor kesuburan tanah dan ketersediaan air, daerah ini juga dipilih karena pemandangannya yang menakjubkan. Dikelilingi oleh Gunung Cikuray, Papandayan, Guntur, Galunggung, Talaga Bodas, serta Karacak, menjadikannya sangat indah. Keindahan alam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengambil keputusan saat itu.

Asal Mula Nama Garut yang Melegenda

Saat panitia melakukan survei di lokasi baru yang strategis, mereka menemukan sebuah mata air. Mata air ini berupa telaga kecil yang tertutup semak belukar berduri. Salah seorang panitia kemudian tergores duri tersebut hingga bagian lengannya berdarah.

Dalam rombongan tersebut, ada seorang Belanda yang ikut ngabaladah (menjelajahi). Melihat lengan panitia yang berdarah, sang meneer bertanya, "Kenapa berdarah?". Pertanyaan ini menjadi momen krusial dalam Sejarah penamaan daerah.

Pribumi yang tergores menjawab dengan kata "kakarut", yang berarti tergores duri. Orang Eropa tersebut kemudian menirukan jawaban itu dengan pelafalan "gagarut". Dari sinilah awal mula penyebutan nama "Garut" muncul.

Sejak saat itu, duri yang melukai tangan panitia dikenal sebagai 'Ki Garut'. Lambat laun, imbuhan 'Ki-nya' menghilang, sehingga hanya tersisa 'Garut'. Para pekerja dalam rombongan panitia mulai menamai tanaman berduri itu 'Ki Garut' dan telaganya 'Ci Garut'.

Ci Garut hingga kini masih eksis dan lokasinya kini berada di SMPN 1 Garut dalam bentuk sumur. Mata air ini tak pernah luput dari kunjungan para pejabat setiap Hari Jadi Garut (HJG). Ini menunjukkan pentingnya mata air Ci Garut dalam identitas kota.

Sejarawan Garut, Warjita, menjelaskan bahwa dulu lokasi SMPN 1 dan 2 Garut merupakan telaga. Telaga itu banyak ditumbuhi kayu 'Ki Garut' yang berduri. Kisah ini menjadi inti dari penamaan kota yang kita kenal sekarang.

Dengan ditemukannya Ci Garut, daerah sekitar telaga itu dinamai Garut. Cetusan nama Garut ini kemudian direstui oleh Bupati Kabupaten Limbangan saat itu, RAA Adiwijaya. Beliau menyetujui nama tersebut untuk dijadikan Ibu Kota Kabupaten Limbangan.

Pada 7 Mei 1813, berdasarkan keputusan pemerintah kolonial, nama Kabupaten Limbangan resmi diganti menjadi Kabupaten Garut. Perubahan nama ini berlaku efektif mulai 1 Juli 1813. Ini menjadi tonggak sejarah penting bagi wilayah tersebut.

Kemudian pada tanggal 15 September 1813, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana ibu kota baru. Proyek ini mencakup pembangunan Pendopo, Alun-alun, Masjid Agung, hingga penjara. Infrastruktur dasar kota mulai dibangun secara bertahap.

Di antara bangunan Alun-alun dan Pendopo, terdapat sebuah bangunan ikonik bernama Babancong. Babancong sedari dulu hingga kini dijadikan tempat yang sakral. Biasanya digunakan pejabat untuk berpidato dan menyampaikan orasi kepada publik.

Tidak hanya bupati, sosok penting seperti Presiden RI pertama, Sukarno, juga tercatat pernah menginjakkan kaki di Babancong. Menurut Warjita, Sukarno datang ke Garut pada tahun 1960-an. Tujuannya adalah untuk menyampaikan piagam Adipura.

Adipura adalah penghargaan bagi Kabupaten Garut sebagai kota terbersih saat itu. Di Babancong itulah, Bung Karno berpidato di depan masyarakat Garut. Beliau menyerahkan plakat penghargaan kepada Bupati Garut kala itu, Raden Gahara Widjaja Suria.

Garut Menjadi Kabupaten Otonom

Pada tanggal 14 Agustus 1925, Kabupaten Garut disahkan menjadi daerah pemerintahan yang berdiri sendiri. Status otonom ini menandai kemandirian administratif daerah tersebut. Kala itu, Kabupaten Garut dipimpin oleh Bupati RAA Soeria Kartalegawa yang menjabat dari tahun 1915 hingga 1929.

Pada masa kepemimpinan Bupati Garut keempat, RAA Wiratanudatar VII (1871-1915), Kota Garut meliputi tiga desa utama. Desa-desa tersebut adalah Desa Kota Kulon, Kota Wetan, dan Margawati. Sementara itu, Kabupaten Garut secara keseluruhan mencakup beberapa distrik.

Distrik-distrik tersebut meliputi Garut, Bayongbong, Cibatu, Leles, Tarogong, Balubur Limbangan, Cikajang, Pameungpeuk, dan Bungbulang. Sejak dulu, Kabupaten Garut telah dikenal akan keindahan alamnya yang memukau. Hal ini menjadikannya destinasi wisata populer.

Banyak pelancong, bahkan wisatawan mancanegara, telah menyambangi Garut sejak tahun 1800-an. Beberapa nama beken pada zamannya yang pernah melancong ke Garut termasuk artis kenamaan Charlie Chaplin. Bahkan putra mahkota Austria-Hongaria, Archduke Franz Ferdinand, juga pernah mengunjungi kota ini.

Selama 213 tahun berdiri, Kabupaten Garut telah dipimpin oleh lebih dari 27 orang bupati. Daftar panjang ini dimulai dari RAA Adiwijaya hingga bupati-bupati modern. Bupati-bupati tersebut termasuk RAA Muh. Musa Suria Kartalegawa, Letkol Kavaleri Taufik Hidayat, Agus Supriadi, Aceng Fikri, dan Rudy Gunawan.

Saat ini, Bupati Garut dijabat oleh Abdusy Syakur Amin, yang merupakan cucu dari ulama terkenal KH. Anwar Musaddad. Syakur Amin memenangkan Pilkada Garut 2024 bersama wakilnya, Luthfianisa Putri Karlina. Luthfianisa Putri Karlina tercatat dalam sejarah sebagai Wakil Bupati Garut perempuan pertama.

Perjalanan panjang ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya sejarah yang membentuk Kabupaten Garut. Dari pembubaran hingga penetapan hari jadi, setiap peristiwa memiliki makna tersendiri. Garut terus berkembang dengan tetap memegang teguh akar sejarahnya.

Mata air Ci Garut yang menjadi awal mula penamaan kota, tetap lestari hingga kini. Ini adalah simbol kuat dari identitas dan warisan budaya yang tak terpisahkan dari masyarakat Garut. Kisah ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah nama dapat membawa sejarah yang mendalam.

Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Kisah Unik Nama Garut Berawal dari Duri yang Menggores
  • Kisah Unik Nama Garut Berawal dari Duri yang Menggores
  • Kisah Unik Nama Garut Berawal dari Duri yang Menggores
  • Kisah Unik Nama Garut Berawal dari Duri yang Menggores
  • Kisah Unik Nama Garut Berawal dari Duri yang Menggores
  • Kisah Unik Nama Garut Berawal dari Duri yang Menggores

Posting Komentar

x
Leaf Organic Serum
100% VEGAN

Pure
Nature
Glow

Revitalize your skin with organic essence.

SHOP NOW
X
LEARN DESIGN • MASTER CODE • BE CREATIVE • LEARN DESIGN • MASTER CODE •
Creative
LEVEL
UP!

Unlock your potential with premium online courses.

JOIN NOW
×
Movie
Ad Sponsored
Unlimited Movies & TV
Watch anywhere. Cancel anytime.
WATCH NOW