Kisah Pilu Bunga Rumah Tangga Hancur Akibat Candu Judi Online
Sorajabar.com - Membina rumah tangga adalah janji suci yang diikrarkan oleh pasangan suami istri. Mereka bersepakat untuk saling menjaga, mendukung, dan menua bersama hingga akhir hayat. Namun, takdir berkata lain bagi seorang wanita di Kota Bandung bernama Bunga (bukan nama sebenarnya).
Wanita muda berusia di bawah 30 tahunan ini harus menghadapi kenyataan pahit. Ia kini memilih jalan perceraian setelah suaminya terjerat kecanduan parah judi online (judol). Kisah pilu Bunga ini menjadi cerminan banyak kasus serupa yang terjadi di masyarakat.
Dengan map gugatan cerai di tangan, Bunga berbagi cerita memilukan tentang kehancuran rumah tangganya. Semua aset yang mereka miliki, mulai dari bisnis rental mobil hingga rumah subsidi, ludes tak tersisa. Ini semua akibat kebiasaan buruk sang suami yang tak kunjung berhenti.
Cerita ini menambah deretan panjang kasus perceraian yang dipicu oleh masalah finansial dan perselisihan. Kehidupan yang awalnya penuh harapan kini harus berakhir di meja pengadilan agama. Bunga berharap keputusannya ini bisa membawa kehidupan yang lebih baik bagi dirinya dan ketiga anaknya.
Awal Bahagia yang Berakhir Pilu
Bunga menikah dengan suaminya belasan tahun lalu, di masa muda mereka. Awal hubungan rumah tangga mereka berjalan normal, layaknya pasangan baru yang dimabuk asmara. Kebahagiaan dan harapan masa depan cerah menyelimuti hari-hari mereka.
Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan setahun lamanya. Saat Bunga sedang mengandung anak pertama mereka, ia memergoki suaminya sedang asyik bermain judi. Kejadian itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Momen Lebaran kala itu, Bunga mencari suaminya yang tak kunjung terlihat di tengah keluarga besar. Ia menemukannya di sebuah warnet, tengah larut dalam permainan judi jenis poker. Hatinya hancur melihat pemandangan tersebut.
"Awal nikah mah biasa aja, aku juga enggak tahu (suami suka main judi)," kenang Bunga. "Nah pas lebaran pas aku hamil anak pertama, semua keluarga ada, tapi si ayah enggak ada. Aku akhirnya nyari, ternyata dia ada di warnet."
Bunga segera menyusul suaminya dan memintanya pulang. Meskipun perbuatan itu sangat menyakitkan, ia masih mencoba memaafkan sang suami kala itu. "Udah, sama aku disusul, pulang. Karena aku enggak suka lah sama orang yang judi, aku enggak suka karena enggak bakal ada orang kaya dari judi," tegas Bunga.
Jeratan Judi Online dan Harta yang Lenyap
Meski sudah dipergoki dan dimaafkan, suaminya ternyata tidak kunjung insaf. Permainan judi online terus berlanjut secara diam-diam di belakang Bunga. Ia terus kucing-kucingan, membuat Bunga semakin menderita.
Secara ekonomi, suami Bunga sebetulnya memiliki pendapatan yang cukup lumayan. Pada tahun 2019, ia bahkan bekerja sebagai sopir untuk anak salah seorang pejabat penting di Jawa Barat, posisi yang bertahan hingga 2024. Gaji yang didapatkan cukup lancar dan menjanjikan.
Suaminya juga sering mendapat komisi uang jalan sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta setiap kali pulang pergi Bandung-Jakarta. Kondisi finansial mereka seharusnya stabil dan mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Namun, semua itu seolah tak berarti di hadapan nafsu berjudi.
Awal tahun 2025 menjadi puncak kesabaran Bunga. Kelakuan sang suami mencapai puncaknya saat ia menggadaikan salah satu mobil bisnis rental mereka. Tak lama kemudian, kedua unit mobil yang mereka miliki pun ludes dijual untuk menutup utang judi.
"Semua barang udah dijual. Motor, mobil, rumah, abis enggak ada yang nyisa lagi," ungkap Bunga dengan nada getir. "Yang pertama (saat mobil bisnis rental harus dijual) aku masih bertahan karena ngelihat anak-anak masih kecil. Jadi mikirnya, enggak apa-apa aku mulai dari nol lagi."
Puncak Kekerasan dan Keputusan Tegas
Petaka itu semakin membesar hingga Bunga merasakan dampaknya secara fisik dan mental. Di suatu malam yang tak terlupakan, Bunga mencoba meminta uang untuk kebutuhan rumah tangga kepada suaminya. Namun, ia malah mendapat balasan cacian dan perlakuan kasar.
Suami Bunga saat itu sedang mabuk parah dan terus asyik bermain judi. Bunga hanya berharap uang tersebut bisa dialihkan untuk kebutuhan anak-anak, seperti membeli pakaian. Namun permintaannya justru memicu kemarahan besar.
Pertikaian hebat pun tak terhindarkan di rumah kontrakan mereka. Dalam pengakuannya, Bunga sempat menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dari sang suami. Ia terpaksa kabur demi menyelamatkan diri dari ancaman dan pukulan.
"Malah dianya marah. Cekcok. Kepala aku terus dibenturin ke tembok, aku dijambak, terus dia ngancem gitu ngomongnya," tutur Bunga. "Jadi daripada kenapa-kenapa, aku mending lari nyelamatin diri."
Peristiwa KDRT itu menjadi batas akhir kesabaran Bunga. Semenjak kejadian traumatis tersebut, ia memantapkan hati untuk menggugat cerai suaminya. Bunga kini telah setahun pisah rumah dan tengah menata kembali kehidupannya.
Data Perceraian dan Harapan Baru
Untuk menghidupi ketiga anaknya, Bunga memutuskan untuk bekerja keras sebagai orang tua tunggal. Semua ini ia lakukan demi pilihan bulat untuk bercerai, daripada harus menahan sakit hati yang tak berkesudahan. "Pokoknya dari kejadian itu, aku udah bulat mau cerai," kata Bunga mantap.
Suaminya pun sudah mengetahui keputusan Bunga yang tak tergoyahkan. "Karena bagi aku, dibanding terus-terusan sakit begini, mending cerai aja," tambahnya. Bunga baru mendaftarkan gugatan cerainya beberapa waktu lalu, dan berharap sidang dapat dimulai pekan ini.
Kisah Bunga ini selaras dengan data yang dirilis Pengadilan Agama (PA) Bandung. Sepanjang tahun 2025, PA Bandung mencatat total 7.119 perkara perceraian. Rinciannya, 5.520 cerai gugatan diajukan oleh pihak istri, dan 1.599 cerai talak diajukan oleh pihak suami.
Alasan perceraian sangat beragam, namun yang paling dominan adalah perselisihan dan pertengkaran, mencapai 3.459 perkara. Ekonomi menjadi penyebab kedua dengan 1.839 perkara, diikuti oleh meninggalkan satu pihak sebanyak 326 perkara. KDRT tercatat dalam 79 perkara, dan yang paling relevan dengan kisah Bunga adalah judi, dengan 78 perkara.
Mabuk menjadi alasan dalam 29 perkara, dan poligami dalam 12 perkara. Data ini menunjukkan betapa kompleksnya permasalahan rumah tangga di masyarakat. Setelah mendaftarkan gugatan cerai, Bunga tentu punya harapan besar untuk kehidupannya ke depan.
Ia berharap perkaranya segera selesai agar bisa fokus bekerja untuk anak-anaknya. Bunga ingin kehidupan mereka bisa lebih baik di masa mendatang tanpa bayang-bayang judol dan kekerasan. "Ya, mudah-mudahan kasusnya bisa cepet selesai. Biar lebih baik buat aku, buat anak, biar bisa dapat rejeki lagi," tutup Bunga.
Kisah Bunga ini menjadi Berita pilu yang seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bahaya judi online nyata dan bisa menghancurkan segalanya, termasuk ikatan suci pernikahan. Pentingnya kesadaran dan dukungan keluarga sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

.jpg)
Posting Komentar