Kisah Eryana Tak Patah Semangat Jajakan Tas Keliling Jabar
Sorajabar.com - Langit boleh sesekali meredup, namun semangat seorang Eryana (53) tak pernah surut. Pria asal Majalengka ini setiap hari menempuh puluhan kilometer, menyusuri jalanan Jawa Barat dengan kondisi kaki yang tak lagi sempurna. Di pundaknya, tas dan dompet tergantung rapi, menjadi saksi bisu kegigihan yang luar biasa.
Eryana bukan sosok biasa. Sejak kecil, ia telah akrab dengan kerasnya kehidupan. Menjadi yatim piatu di kelas 6 SD, ia tumbuh besar dalam asuhan sang nenek, membantunya berjualan jilbab dan pakaian muslim. Namun, takdir rupanya menyimpan ujian yang lebih berat.
Tragedi yang Mengubah Segalanya
Tahun 2002 menjadi titik balik kelam dalam hidup Eryana. Saat bulan Ramadan, ia bersama teman-temannya sedang asyik memainkan musik obrog untuk membangunkan warga sahur. Malam yang seharusnya penuh keceriaan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika sebuah truk pengangkut sapi, yang sopirnya mengantuk, menabrak rombongan mereka dari belakang.
Kecelakaan mengerikan itu merenggut nyawa seorang penabuh gendang, sementara Eryana sendiri mengalami patah tulang parah di kaki kanannya. Ia sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, dan mencoba berbagai pengobatan alternatif. Namun, proses pemulihan berjalan sangat lambat. Selama empat tahun lamanya, ia hanya bisa berdiam diri di rumah, terbelenggu rasa putus asa dan keterbatasan ekonomi.
Empat tahun tanpa penghasilan, empat tahun menahan kegelisahan. Situasi ekonomi yang kian mendesak akhirnya memaksa Eryana untuk bangkit. Dengan sisa kekuatan dan tekad baja, ia memutuskan untuk kembali bekerja, berjualan tas dan dompet secara keliling.
Perjuangan Pedagang Keliling di Tengah Keterbatasan Fisik
Rute perjalanan Eryana tidaklah main-main. Dari Majalengka, ia menjelajahi Indramayu, Cirebon, Kuningan, bahkan hingga Losari Brebes. “Kadang hari ini ke Indramayu, terus besoknya ke Cirebon, besoknya satu hari di Majalengka. Nggak tentu,” ujarnya saat ditemui di pinggir Jalan Gatot Subroto Indramayu.
Di Indramayu saja, ia bisa berkeliling ke wilayah Karangturi, Paoman, Sindang, hingga Jatibarang. Perjalanan dimulai sekitar jam 8 pagi, naik mobil elf ke Cirebon, dilanjutkan ke Indramayu, lalu tak jarang ia melanjutkan dengan becak atau bahkan berjalan kaki hingga puluhan kilometer.
Penghasilannya tak menentu. “Kalau sepi, pernah cuma dapat tiga puluh ribu rupiah. Kalau lagi ramai, alhamdulillah bisa sampai seratus lima puluh sampai dua ratus ribu,” katanya dengan senyum getir. Keuntungan seringkali sangat tipis, bahkan kadang hanya cukup untuk ongkos perjalanan. Eryana kini hidup sendiri, setelah pernikahannya berakhir.
Seketika Hati Tersentuh
Di tengah kerasnya perjuangan Eryana, secercah kebaikan tak jarang hadir. Seperti kisah Mia (37), seorang warga yang tersentuh hatinya melihat kegigihan Eryana. Mia tertarik membeli tas bukan hanya karena kualitasnya, melainkan juga karena empati yang mendalam.
“Saya yang diberi fisik sempurna saja susah mencari uang dengan jualan keliling, apalagi beliau. Saya merasakan betul bagaimana beratnya mencari rezeki sebagai pedagang keliling,” tutur Mia. Kalimat sederhana ini mengandung makna yang dalam, menunjukkan bahwa di antara hiruk pikuk kehidupan, masih ada hati yang peka dan peduli.
Semangat yang Tak Pernah Padam
Setiap hari, Eryana kembali menata barang dagangannya. Melangkah dari gang ke gang, dari pasar ke pasar, dengan kruk sebagai teman setianya. Kakinya memang pernah patah, hidupnya pun pernah terpuruk dalam kesedihan. Namun, semangat juangnya tidak pernah padam. Langit boleh redup, matahari boleh bersembunyi di balik awan, tetapi harapan bagi Eryana, selalu ia bawa sendiri di setiap langkahnya, memberikan inspirasi bagi siapa saja yang bertemu dengannya.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar