Blengep Cotot Jajanan Legendaris Indramayu Bertahan di Era Modern
Sorajabar.com - Di tengah gempuran inovasi kuliner modern, keberadaan jajanan tradisional seringkali terancam. Namun, di Bumi Wiralodra, Indramayu, sebuah kudapan manis bernama Blengep Cotot tetap kokoh bertahan. Jajanan berbahan dasar singkong dengan isian gula merah ini, menjadi simbol perlawanan terhadap arus kekinian.
Kelezatan Blengep Cotot bukan hanya sekadar rasa, melainkan juga warisan budaya yang tak ternilai. Makanan ini menawarkan sensasi manis legit yang mampu membangkitkan nostalgia. Keberadaannya kini memang kian langka, namun semangat para penjualnya tetap menyala.
Salah satu sosok yang gigih melestarikan Blengep Cotot adalah Tiwen (45). Perempuan asal Desa Muntur, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu ini, telah bertahun-tahun mengabdikan diri pada jajanan ini. Ia menjadi salah satu dari segelintir orang yang masih setia menjajakan kudapan khas tersebut.
Kisah Tiwen bukan hanya tentang mencari nafkah, tetapi juga menjaga api tradisi. Ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi kelangsungan kuliner lokal. Dedikasinya patut diacungi jempol di tengah tantangan zaman yang terus berubah.
Pahlawan Kuliner Tradisional dari Losarang
Tiwen memulai aktivitas berjualannya sejak siang hingga sore hari. Ia kerap berpindah lokasi, menyesuaikan dengan keramaian yang ada. Pada hari-hari tertentu seperti saat ada pasar desa, ia memilih untuk mangkal di satu titik.
Namun, di hari-hari biasa, Tiwen akan berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya. Dengan sepeda atau gerobak sederhananya, ia menyusuri jalanan desa. Suara khas panggilannya menjadi penanda kedatangan Blengep Cotot yang dinanti.
"Hari ini lagi ada pasar makanya saya berjualan di sini," tutur Tiwen saat ditemui belum lama ini. "Kalau hari biasa saya keliling desa, mencari pembeli dari rumah ke rumah." Rutinitas ini menunjukkan kegigihannya dalam mencari rezeki.
Dari hasil penjualan Blengep Cotot dan kudapan singkong lainnya, Tiwen bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp200 ribu per hari. Angka ini tentu sangat berarti bagi keluarganya. Pendapatannya bisa meningkat jika ia mendapat pesanan untuk acara tertentu.
"Lumayan untuk sehari-hari, bisa mencukupi kebutuhan keluarga," ujarnya sembari tersenyum. "Kalau lagi rezekinya mah, saya dapat pesanan untuk acara Rajaban atau hajatan lain, lumayan satu pesanan bisa Rp200 ribu." Pesanan ini menjadi bonus yang sangat disyukuri.
Daya Tarik Rasa dan Kisah di Balik Jajanan Lawas
Satu porsi Blengep Cotot dijual seharga Rp5 ribu, dengan empat buah kudapan manis di dalamnya. Selain Blengep Cotot, Tiwen juga menjajakan Geblog Kocar-Kacir. Ini merupakan kudapan tradisional Indramayu lain yang juga berbahan dasar singkong.
Siang itu, pembeli silih berganti mendatangi lapak Tiwen di pertigaan jalan desa. Salah satunya adalah Sawiyan (53), warga setempat yang tampak antusias. Ia membeli satu porsi Blengep Cotot dan satu porsi Geblog Kocar-Kacir.
"Lagi pengin jajan yang manis-manis, kebetulan saya habis makan siang," ujar Sawiyan sembari tersenyum ramah. Baginya, rasa manis gula Jawa yang lumer di dalam Blengep Cotot adalah daya tarik utama. Kelezatan itu membuatnya selalu ketagihan dan ingin kembali lagi.
Pembeli lain, Watinih (32), juga turut mengantre untuk membeli. Warga desa setempat ini memiliki alasan unik di balik pilihannya. Ia mengaku tengah menjalani program diet dan menghindari konsumsi nasi di siang hari.
"Saya kalau siang lagi nggak makan nasi, biasanya makan blengep karena bikin kenyang," jelas Watinih. Blengep Cotot menjadi alternatif camilan yang mengenyangkan dan lezat. Ini membuktikan bahwa jajanan tradisional bisa beradaptasi dengan gaya hidup modern.
Watinih, yang sudah berkali-kali menikmati kudapan ini, memuji kelezatannya. Ia menyebut, keindahan Blengep Cotot justru tersembunyi di balik tampilannya yang sederhana. Warnanya yang putih kecoklatan memang tidak mencolok, namun rasanya luar biasa.
"Dari luar kelihatannya biasa saja, warnanya putih kecoklatan," ungkap Watinih dengan antusias. "Tapi ternyata di dalamnya ada gula Jawa yang lumer, itu enak banget." Perpaduan tekstur lembut dan manisnya isian menjadi daya pikat utama.
Asal-Usul Nama Unik Blengep Cotot
Di balik rasanya yang manis dan teksturnya yang legit, Blengep Cotot menyimpan keunikan tersendiri. Nama kudapan ini ternyata lahir dari pengalaman saat menyantapnya. Setiap gigitan Blengep Cotot seolah menceritakan kisah tersendiri.
Tiwen menjelaskan, nama Blengep Cotot berasal dari tiga kata yang berbeda. Ketiga kata tersebut adalah 'bleng', 'lep', dan 'cotot'. Masing-masing menggambarkan proses saat makanan tersebut disantap dan sensasi yang dirasakan.
"Kalau kata orang tua sih, 'bleng' itu dilempar ke mulut," jelas Tiwen. "'Lep' berarti mulut menutup atau melahap makanan." Sementara itu, 'cotot' adalah saat gula Jawa lumer keluar dari dalam makanan ketika digigit.
Sensasi gula yang 'muncrat' atau 'cotot' saat digigit ini membasahi lidah dan memberikan kejutan manis. Pengalaman inilah yang akhirnya menginspirasi penamaan jajanan ini. Nama tersebut kemudian menyebar dari mulut ke mulut di seluruh penjuru Indramayu.
Seiring waktu, istilah unik Blengep Cotot pun melekat kuat. Nama itu menjadi sebutan khas yang dikenal luas di berbagai pelosok Bumi Wiralodra. Ini menunjukkan bagaimana sebuah nama bisa mengandung cerita dan makna mendalam.
Di tangan Tiwen dan para penjual lainnya, Blengep Cotot bukan sekadar jajanan semata. Ia adalah jejak rasa, cerita, dan tradisi yang terus dijaga agar tak hilang ditelan zaman. Upaya mereka menjadi benteng terakhir bagi kelestarian jajanan tradisional ini.
Melestarikan Blengep Cotot berarti menjaga identitas kuliner Indramayu. Ini juga berarti menghargai kerja keras para penjual yang setia. Dukungan dari masyarakat sangat penting agar jajanan legendaris ini tetap eksis di masa depan.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

.jpg)
Posting Komentar