Liburan Ceria Anak Tasikmalaya Temukan Harta Karun Kluwih
Sorajabar.com - Di tengah hiruk pikuk modernisasi yang kian meresap ke pelosok negeri, sebuah pemandangan menyejukkan hati tersaji di kaki Gunung Galunggung, tepatnya di Kampung Cilenga, Desa Selawangi, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya. Saat musim libur sekolah Juli 2026 tiba, ketika mayoritas anak perkotaan asyik berinteraksi dengan layar gawai atau berwisata ke destinasi buatan, anak-anak Tasikmalaya justru memilih petualangan sejati di pelukan alam.
Mereka tak segan bermain di hamparan hijau persawahan, membiarkan lumpur membasahi kaki dan pakaian. Gelak tawa riang pecah, mengisi setiap sudut desa dengan energi kebahagiaan yang tulus. Bagi mereka, sawah bukan hanya ladang tempat orang tua bekerja, melainkan sebuah taman bermain luas yang tak terbatas, menawarkan pengalaman dan pelajaran hidup yang tak bisa ditemukan di balik layar digital.
Petualangan Seru di Sawah: Lebih dari Sekadar Bermain
Keseharian anak-anak Cilenga selama liburan jauh dari kesan membosankan. Sambil sesekali membantu orang tua menyiangi rumput atau mengusir burung dari tanaman padi, mereka menemukan cara unik untuk bersenang-senang. Interaksi sosial yang hangat antar teman menggantikan kecanduan pada konten digital, membentuk ikatan persahabatan yang kuat dan kenangan indah yang tak terlupakan.
Pada suatu Sabtu yang cerah (11/7), fokus petualangan mereka tertuju pada sebuah misi khusus: mencari 'harta karun' di bawah pohon kluwih raksasa yang tegak berdiri di pojok sawah. Pohon Artocarpus camansi ini menjadi pusat perhatian saat biji-biji kluwih matang berjatuhan, berserakan di tanah.
Sensasi Berburu 'Harta Karun' Biji Kluwih
Dengan semangat membara, Akmal Maulana (12), ditemani sahabatnya Abay (alias Akbar), Ihsan, dan Evan, mulai menyisir tanah. "Memulung klewih, ini enak kalau direbus," seru Akmal penuh antusias. Abay menambahkan, "Bapak saya kadang-kadang membawa ini kalau pulang dari sawah, sore-sore kita makan, kalau bapak sambil minum kopi." Cerita sederhana ini menggambarkan betapa biji kluwih telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi camilan keluarga mereka.
Hasil buruan di blok persawahan Cinyungcung hari itu sungguh melimpah. Kantong celana dan bahkan bagian depan baju mereka penuh dengan biji-biji kluwih. Tanpa menunda, mereka segera bergegas menuju saung bambu, "markas" utama mereka di tengah sawah.
Dari Pohon ke Perut: Kelezatan Kluwih Rebus Tradisional
Di saung yang sederhana, biji kluwih dicuci bersih sebelum kemudian direbus menggunakan tungku kayu bakar. Tak lama kemudian, aroma khas biji kluwih yang sedang dimasak mulai menyeruak, terbawa semilir angin sawah, mengundang selera. Begitu matang, biji-biji dengan kulit yang telah melunak dan menghitam itu langsung menjadi rebutan. Suasana kebersamaan begitu kental, berbagi kelezatan sederhana yang mereka hasilkan sendiri.
Meskipun tampilan kulitnya yang menghitam mungkin sempat memberikan kesan pahit, gigitan pertama justru menghadirkan kejutan rasa yang luar biasa. Biji kluwih rebus memiliki tekstur empuk dan pulen. Rasanya merupakan perpaduan unik antara gurih layaknya kacang rebus, dengan sentuhan manis yang menyerupai biji nangka. Kudapan sederhana ini terasa semakin nikmat saat disantap hangat-hangat, diiringi segelas kopi pahit para orang tua, dengan latar belakang pemandangan sawah yang membentang luas.
Mengenal Kluwih: Buah Mirip Sukun dengan Manfaat Tersembunyi
Bagi masyarakat perkotaan, kluwih seringkali tertukar dengan sukun. Perbedaan mendasar terletak pada isinya; sukun tidak memiliki biji, sementara kluwih justru dipenuhi biji berukuran besar di dalam daging buahnya yang berserat. Saat buah kluwih terlalu matang, biji-biji inilah yang akan jatuh dan menjadi incaran anak-anak untuk dipunguti.
Tanaman kluwih tumbuh subur di tanah vulkanis Tasikmalaya yang kaya, menjadikannya bukan sekadar buah, melainkan "opieun" atau camilan lumrah yang mudah ditemukan dan digemari warga setempat. Lebih dari sekadar lezat, biji kluwih juga dikenal kaya akan nutrisi penting, khususnya kandungan karbohidrat dan protein nabati yang sangat baik untuk mendukung pertumbuhan dan energi anak-anak aktif seperti mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa alam menyediakan segala yang kita butuhkan, bahkan untuk camilan yang sehat dan menyenangkan.
Kisah anak-anak di Kampung Cilenga ini menjadi pengingat berharga bahwa kebahagiaan sejati seringkali ditemukan dalam kesederhanaan, dalam interaksi dengan alam, dan dalam kebersamaan yang tulus, jauh dari hingar bingar dunia digital.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar