Orang Tua Panik! Web SPMB Jabar Error Muncul Dinosaurus Lompat

Sorajabar.com - Hari pengumuman hasil Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Barat seharusnya menjadi momen penuh harap bagi ribuan calon siswa dan orang tua. Namun, pada Sabtu (13/6), euforia tersebut mendadak berubah menjadi kepanikan. Situs web resmi SPMB Dinas Pendidikan Jawa Barat dilaporkan mengalami gangguan parah, menghalangi akses orang tua untuk melihat hasil pemetaan sekolah anak mereka. Alih-alih pengumuman, yang muncul justru tampilan dinosaurus melompat kaktus, simbol klasik dari koneksi internet yang putus atau server yang bermasalah.

Kondisi ini sontak memicu keluhan dari berbagai penjuru Jawa Barat. Orang tua yang sudah menanti sejak pagi harus gigit jari, tidak bisa mengakses informasi krusial yang menentukan masa depan pendidikan anak mereka. Padahal, calon murid diwajibkan untuk segera memberikan keputusan, menerima atau menolak hasil pemetaan, melalui sistem yang sama.

Pengumuman SPMB Jabar Kacau Balau Orang Tua Panik

Salah satu orang tua yang merasakan langsung dampak buruknya adalah Mujib Prayitno. Ayah dari seorang calon siswa yang mendaftar di SMAN 29 Bandung ini mengaku sudah mencoba mengakses laman SPMB sejak pukul 13.00 WIB, waktu pengumuman yang dijanjikan. Namun, hingga setengah jam kemudian, situs tersebut tak kunjung bisa diakses.

"Nggak bisa, jam satu sampai setengah dua dicoba gak bisa dibuka," keluh Mujib saat dikonfirmasi. Ia menceritakan bagaimana ia sempat berhasil membuka laman tersebut, namun yang muncul justru "dinosaurus lompat kaktus." Kejadian ini, yang seharusnya bisa diantisipasi oleh pihak penyelenggara, justru menimbulkan kekecewaan dan kegelisahan.

Bayangkan saja, setelah berbulan-bulan menunggu, melewati tahapan pendaftaran yang kadang rumit, dan menaruh harapan besar pada hasil pemetaan, orang tua justru disambut dengan sebuah permainan offline di situs resmi pendidikan. Ini bukan hanya masalah teknis biasa, melainkan juga masalah kepercayaan publik terhadap sistem yang seharusnya transparan dan andal.

Antara Peringkat dan Dinosaurus Kisah Orang Tua Pejuang SPMB

Mujib Prayitno belum mengetahui nasib anaknya. Sebelumnya, anaknya berada di peringkat ketujuh dalam daftar sementara. Sebuah posisi yang cukup menjanjikan, namun kini tertunda karena kendala teknis. "Belum tahu, kan anak itu terakhir itu urutan tujuh. Tapi belum ada pengumuman, terus katanya suruh mantau kan di aplikasi, nanti ada keluar tombol terima atau tidak," jelasnya.

Perjalanan Mujib dalam memilih sekolah untuk anaknya pun tidak mudah. Awalnya, ia sempat memilih sekolah-sekolah favorit seperti SMA 1, 14, dan 10. Namun, setelah mempertimbangkan ketatnya persaingan nilai rapor, ia memutuskan untuk mereset akun dan mengubah pilihan. Pilihan akhirnya jatuh pada SMAN 16, 29, dan 28. SMAN 29 menjadi salah satu prioritasnya, bukan tanpa alasan. "Saya mikirnya 29 itu, satu, dia dekat Disdik, meskipun jauh dari rumah. Dan saya yakin Disdik itu tidak akan menyia-nyiakan sekolah yang paling dekat dengan kantornya. Meskipun baru angkatan pertama. Berarti kan harus dapet perhatian khusus, wong sekolah di depan Disdik masa kualitasnya jelek gitu. Pertimbangannya itu aja sih," ujarnya penuh perhitungan.

Kisah ini menggambarkan betapa seriusnya para orang tua dalam mempersiapkan pendidikan anak mereka, hingga mempertimbangkan faktor strategis seperti lokasi sekolah. Oleh karena itu, gangguan sekecil apa pun pada sistem penerimaan menjadi sangat fatal dan menimbulkan frustrasi yang mendalam.

Harapan dan Kritikan Sistem SPMB Jabar yang Lebih Baik

Melihat permasalahan ini, Mujib Prayitno menyayangkan minimnya antisipasi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar. Menurutnya, persoalan teknis seperti lonjakan trafik seharusnya bisa diatasi dengan pembagian jadwal pengumuman.

  • Pembagian Jalur Pengumuman: "Harusnya mah udah dipersiapin yang kayak gini itu, kan udah banyak batch-nya misalnya untuk jalur dibagi per jalur. Misalnya pengumuman untuk jalur domisili dulu, atau jalur prestasi kejuaraan dulu. Jam sekian sampai jam sekian gitu. Kalau digebrokin semua mah, setengah jam nggak bisa kebuka-buka," sarannya.
  • Kritik Program Sekolah Maung: Selain itu, Mujib juga menyoroti kebijakan program Sekolah Maung yang menurutnya perlu ditempatkan secara lebih tepat sasaran. "Intinya konsisten aja sih. Terus nggak perlulah ada Sekolah Maung. Kalaupun ada 'Sekolah Maung' gitu, ya jangan dikasih ke sekolah favorit. Ngapain sekolah favorit dipredikatkan Maung? Udah aja sekolah yang biasa-biasa atau sekolah yang mau di-upgrade sama Pemerintah Provinsi Jawa Barat," pungkasnya.

Harapan para orang tua sangat sederhana: sebuah sistem penerimaan yang konsisten, andal, dan tidak menimbulkan kebingungan baru. Pemerintah Provinsi Jawa Barat diharapkan dapat belajar dari insiden ini dan mempersiapkan infrastruktur digital yang lebih matang di masa depan, demi kelancaran proses pendidikan bagi generasi penerus bangsa.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Orang Tua Panik! Web SPMB Jabar Error Muncul Dinosaurus Lompat
  • Orang Tua Panik! Web SPMB Jabar Error Muncul Dinosaurus Lompat
  • Orang Tua Panik! Web SPMB Jabar Error Muncul Dinosaurus Lompat
  • Orang Tua Panik! Web SPMB Jabar Error Muncul Dinosaurus Lompat
  • Orang Tua Panik! Web SPMB Jabar Error Muncul Dinosaurus Lompat
  • Orang Tua Panik! Web SPMB Jabar Error Muncul Dinosaurus Lompat

Posting Komentar