Wajah Baru Terminal Leuwipanjang Bandung Pasca Cicaheum Tutup

Sorajabar.com - Perubahan signifikan tengah terjadi di lanskap Transportasi publik Kota Bandung. Sejak 26 Mei 2026, Terminal Leuwipanjang kini menjadi saksi bisu kepadatan yang luar biasa setelah puluhan bus Angkutan Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) mulai bermigrasi dari Terminal Cicaheum. Perpindahan ini bukanlah tanpa alasan; Terminal Cicaheum direncanakan akan dialihfungsikan menjadi depo Bus Rapid Transit (BRT), menandai era baru bagi transportasi di Jawa Barat.

Kepala Terminal Leuwipanjang, Asep Hidayat, mengungkapkan bahwa proses perpindahan ini masih berlangsung secara bertahap. Namun, dampak kepindahan sudah sangat terasa. "Bus yang masuk (Terminal Leuwipanjang) sudah ada 60 karena saat ini masih ada yang berangkat dari Terminal Cicaheum," ujar Asep pada Kamis (28/5/2026). Angka ini, menurutnya, merepresentasikan sekitar 80 persen dari total armada yang akan dipindahkan. Masih ada sekitar 20 persen bus yang sementara ini tetap melayani penumpang dari Terminal Cicaheum hingga proses transisi rampung sepenuhnya.

Dukungan Penuh dari Perusahaan Otobus

Meskipun perubahan ini besar, Asep memastikan bahwa edaran terkait penutupan Terminal Cicaheum sudah disosialisasikan secara luas kepada masing-masing Perusahaan Otobus (PO) sejak 25 Mei 2026. Respon yang didapat pun positif, dengan banyak PO besar yang sudah lebih dulu menyesuaikan operasionalnya ke Terminal Leuwipanjang.

  • PO Budiman: Melayani trayek Wonosobo, Pangandaran, hingga Tasikmalaya.
  • PO Gunung Harta: Rute populer Bandung-Bali.
  • PO Eka dan Sugeng Rahayu: Destinasi ke Surabaya.
  • PO Kalingga: Menjangkau berbagai kota di Jawa.
  • Serta PO lainnya seperti PO KYM, 27 Trans, dan Bandung Express.

Bus-bus ini kini secara otomatis diarahkan menuju Jalan Tol Muhammad Toha setelah meninggalkan Terminal Leuwipanjang, sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai kota tujuan di Pulau Jawa dan Bali. Ini merupakan langkah strategis untuk memperlancar arus lalu lintas dan efisiensi waktu perjalanan.

Strategi Leuwipanjang Hadapi Lonjakan Armada

Peningkatan drastis jumlah bus tentu membawa tantangan tersendiri bagi pengelola Terminal Leuwipanjang. Untuk menghindari penumpukan dan menjaga kelancaran operasional, berbagai strategi ketat telah diterapkan. "Kami siapkan jalur keberangkatan, kami atur headway. Jadi, bus yang belum waktunya berangkat tidak berdiam di Terminal Leuwipanjang," jelas Asep Hidayat.

Pengaturan headway, atau interval waktu keberangkatan antar bus, menjadi kunci utama. Bus yang belum memasuki jadwal keberangkatan diinstruksikan untuk tetap berada di pool masing-masing. Kebijakan ini penting untuk memastikan area terminal tidak dipenuhi oleh kendaraan yang menunggu terlalu lama, sehingga memberikan ruang yang cukup bagi bus yang akan berangkat atau baru tiba.

Asep menegaskan bahwa semua pihak, mulai dari sopir bus hingga manajemen PO, telah menerima dan memahami kebijakan baru ini. "Kalau sopir bus sudah menerima, setiap PO juga sudah menerima. Jadi meski pengembang (depo BRT di Cicaheum) belum menutup. Tapi tetap kita menyediakan tempat untuk pemindahan dari Cicaheum dan saat ini 80 persen bus sudah masuk," ujarnya, menunjukkan komitmen bersama dalam menghadapi perubahan ini. Transformasi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan kenyamanan layanan transportasi darat di Bandung, sekaligus mendukung pengembangan sistem BRT yang modern di masa depan.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Wajah Baru Terminal Leuwipanjang Bandung Pasca Cicaheum Tutup
  • Wajah Baru Terminal Leuwipanjang Bandung Pasca Cicaheum Tutup
  • Wajah Baru Terminal Leuwipanjang Bandung Pasca Cicaheum Tutup
  • Wajah Baru Terminal Leuwipanjang Bandung Pasca Cicaheum Tutup
  • Wajah Baru Terminal Leuwipanjang Bandung Pasca Cicaheum Tutup
  • Wajah Baru Terminal Leuwipanjang Bandung Pasca Cicaheum Tutup

Posting Komentar