Nyate 200 Meter Obati Rindu Santri Sukabumi Saat Idul Adha
Sorajabar.com - Momen Hari Raya Idul Adha identik dengan kehangatan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Namun, bagi ratusan santri di Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, Kota Sukabumi, Jawa Barat, cerita kebersamaan di perantauan justru menjadi pengobat rindu terbaik. Jauh dari pelukan orang tua, mereka menciptakan tradisi unik dan tak terlupakan: nyate bareng terpanjang di Sukabumi, membentang hingga 200 meter!
Pemandangan di area pondok pesantren kala itu begitu memukau dan mengharukan. Kepulan asap putih beraroma khas daging bakar membumbung tinggi, menyapa langit Sukabumi. Ratusan santri dari berbagai jenjang, mulai dari SD, SMP, hingga SLTA, tampak berjejer rapi. Bukan kesedihan karena tak bisa mudik, melainkan tawa renyah yang pecah di antara mereka, berpadu dengan semangat mengipasi barisan sate di atas tungku bata yang panjang.
Mengikis Rindu di Tanah Rantau dengan Kebersamaan
Silva Elisa (16), seorang santriwati asal Bogor, berbagi kisahnya yang harus merayakan Idul Adha di perantauan untuk kedua kalinya. Ia tak menampik adanya rasa rindu yang kuat pada rumah dan keluarga. Namun, momen kebersamaan di pondok pesantren ini berhasil mengalihkan rasa sepi itu menjadi kebahagiaan.
"Banget (mengobati rindu). Di sini kayak... kalau misalkan kita enggak nyate, kita bakal merenung di kamar. Untung ada sate, jadi kayak kita, ya sudahlah enggak apa-apa," tutur Silva ceria. Ia juga merasa momen nyate tahun ini jauh lebih seru dan rapi dibandingkan sebelumnya. "Alhamdulillah karena ini setahun sekali, jadi kita sangat menunggu momen ini ya. Ditambah lagi sekarang (bakar satenya) pakai bata, biasanya pakai asbes. Karena kayak gini jadi lebih rapi dan lebih cepat matang. Arangnya juga sekarang banyak," tambahnya sembari cekatan membalikkan tusukan daging.
Idul Adha Penuh Makna Bagi Santri Perantauan
Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath, Fajar Laksana, menjelaskan bahwa sebagian besar santri yang memilih menetap di pondok saat lebaran kurban ini memang berasal dari luar kota, bahkan tak sedikit dari luar pulau. Banyak di antaranya adalah anak-anak yatim, piatu, dhuafa, serta santri mualaf dari Maluku (Pulau Buru). Jarak yang sangat jauh membuat kepulangan mereka menjadi tidak memungkinkan.
Oleh karena itu, pihak pesantren berinisiatif menggelar acara makan bersama ini. Tujuannya mulia, agar para santri perantauan tidak merasa sendirian dan bisa menikmati gizi terbaik dari daging kurban. "Makna kegiatan hari ini adalah supaya rasa syukurnya bertambah, maka para santri sebagai penerima berkurban ini kita acarakan bukan hanya dibagikan tapi makan pun bareng," kata Fajar.
Fajar melanjutkan, "Mereka yang kurang banyak menikmati makanan-makanan yang bergizi tinggi, hari ini bisa menikmati di Hari Raya Idul Adha. Sehingga anak yatim, piatu, dhuafa, khususnya di pondok pesantren yang ditampung ini lebih dari 500 orang, hampir 700-an, bisa menikmati mereka makan sepuas-puasnya." Tidak tanggung-tanggung, tradisi nyate bareng ini membentang sepanjang kurang lebih 200 meter, dengan sekitar 1.200 tusuk sate yang dibakar massal oleh para santri penuh suka cita.
Dukungan Komunitas dan Kebahagiaan Bersama
Kemeriahan Idul Adha para santri perantauan ini kian terasa spesial dengan kehadiran Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sentot Kunto Wibowo. Melalui program jajarannya yang bertajuk 'Berkurma' (Berkurban Prima), pihak kepolisian menyalurkan 32 sapi dan 48 kambing ke masyarakat, termasuk salah satunya ke Ponpes Dzikir Al-Fath.
Kapolres Sentot bahkan ikut turun langsung membaur bersama santri, memegang kipas, dan menyantap sate bersama. Ia mengaku terharu sekaligus bangga melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah para santri di tanah rantau. "Luar biasa ini. Kebetulan ini juga cukup meriah, para santri juga terlihat bahagia. Kami pun cukup senang terlibat di dalamnya. Saya rasa ini perlu diteruskan karena kegiatannya sangat positif dan memang akan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya santri-santri yang ada di sini," pungkas Sentot.
Momen Idul Adha di Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath Sukabumi menjadi bukti bahwa kebersamaan dan kepedulian dapat mengubah rasa rindu menjadi kebahagiaan tak terlupakan, bahkan di tengah perantauan.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar