Disperdagin Bandung Buka Akses, Koperasi Desa Merah Putih Dipermudah dari Suplai hingga Modal

Disperdagin Bandung Buka Akses, Koperasi Desa Merah Putih Dipermudah dari Suplai hingga Modal

Sorajabar.com - Inisiatif pemerintah daerah hadir menjawab tantangan nyata yang dihadapi pelaku usaha kecil di tingkat desa. Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Bandung secara aktif memfasilitasi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Fasilitasi ini ditujukan untuk mendistribusikan kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sekaligus menguatkan ekosistem bisnis lokal. Langkah ini menjadi penyangga penting bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang digalakkan.

Jembatani Koperasi dengan Pemasok Besar

Kepala Disperdagin Kabupaten Bandung, Dicky Anugrah, menegaskan peran pemerintah sebagai penghubung. Tujuannya, menghilangkan hambatan akses yang sering dialami koperasi saat berurusan dengan pemasok besar dari BUMN.

“Kami membantu teman-teman KDMP untuk berbisnis,” ujar Dicky di Soreang, Senin (9/2/2026). Bantuan itu mencakup penyaluran elpiji 3 kilogram hingga komoditas pokok seperti beras, gula, dan minyak goreng.

Kendala Administratif dan Akses Permodalan

Namun, jalan tidak selalu mulus. Setelah bertemu dengan perwakilan Himbara dan BUMN penyuplai, terungkap kendala klasik. Masalah administratif, seperti riwayat kredit (BI checking) pengurus yang kurang lancar, menghambat akses permodalan.

Dicky menekankan perlunya restrukturisasi pengurus agar masalah pendanaan tidak mandek. Tanpa akses modal yang sehat, roda usaha koperasi sulit berputar dengan lancar.

Pentingnya Data dan Rencana Bisnis Matang

Dicky juga menyoroti kelemahan dalam perencanaan. Menurutnya, banyak koperasi memesan barang dalam jumlah besar tanpa peta konsumen yang jelas.

“Tanpa rencana terukur, risiko kerugian sangat besar,” tegasnya. Pola kerja yang mengandalkan insting, tanpa data pasar yang presisi, dinilai sangat berisiko bagi kelangsungan koperasi.

Tantangan Nyata di Lapangan

Para pengurus koperasi merasakan betul tantangan ini. Mereka berjuang menjaga organisasi tetap hidup dari markas yang seringkali menumpang atau seadanya.

Mereka bertahan dengan mengoptimalkan sumber daya lokal. Arus kas diputar secara mandiri dari iuran anggota dan penjualan kecil-kecilan. Tujuannya sederhana: menutupi biaya operasional seperti listrik dan administrasi tanpa terlalu bergantung pada pinjaman bank.

Melirik Potensi di Lingkungan Terdekat

Sebagai solusi, Dicky menyarankan koperasi untuk lebih jeli melihat peluang di sekitarnya. “Jika ada produsen sembako di dalam desa, optimalkan itu,” lanjutnya.

Sinergi dengan petani lokal disebut sebagai peluang emas. Jika terjalin baik, KDMP bisa menjadi penyuplai utama untuk program MBG. Sayangnya, potensi besar ini dinilai belum tergarap secara optimal.

Masa Depan sebagai Tulang Punggung Ekonomi Desa

Disperdagin berharap, dengan fasilitasi regulasi dan akses distribusi yang lebih mudah, KDMP dapat tumbuh lebih kuat. Koperasi ini diharapkan bukan hanya sebagai unit usaha, tetapi menjadi tulang punggung ekonomi desa.

Peran strategisnya sebagai penggerak ketahanan pangan di Kabupaten Bandung pun akan semakin nyata. Dukungan dari pemerintah daerah ini diharapkan bisa mengubah tantangan menjadi peluang yang berkelanjutan.

Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Disperdagin Bandung Buka Akses, Koperasi Desa Merah Putih Dipermudah dari Suplai hingga Modal
  • Disperdagin Bandung Buka Akses, Koperasi Desa Merah Putih Dipermudah dari Suplai hingga Modal
  • Disperdagin Bandung Buka Akses, Koperasi Desa Merah Putih Dipermudah dari Suplai hingga Modal
  • Disperdagin Bandung Buka Akses, Koperasi Desa Merah Putih Dipermudah dari Suplai hingga Modal
  • Disperdagin Bandung Buka Akses, Koperasi Desa Merah Putih Dipermudah dari Suplai hingga Modal
  • Disperdagin Bandung Buka Akses, Koperasi Desa Merah Putih Dipermudah dari Suplai hingga Modal

Posting Komentar