Pengorbanan Ibu Selamatkan Balita Arya dari Api di Sukabumi
Sorajabar.com - Kisah pilu dan haru menyelimuti sebuah tragedi Kebakaran maut di Desa Cibodas, Sukabumi, Jawa Barat. Seorang balita berusia 3,5 tahun, Muhammad Arya, kini harus berjuang menahan perih luka bakar di tubuh mungilnya, sembari terus merintih memanggil sang ibu yang telah pergi untuk selamanya demi menyelamatkan nyawanya.
Suasana di ruang perawatan darurat RSUD Palabuhanratu dipenuhi duka. Tangan mungil Arya yang terluka tampak memegang erat sang paman, Kemal (41), seolah mencari kekuatan di tengah rasa sakit yang tak terbayangkan. Dari bibir kecilnya, berulang kali terdengar rintihan "Mama... Mama...", sebuah panggilan yang menusuk hati siapa pun yang mendengarnya. Kemal, yang setia mendekap keponakannya, tak kuasa menahan kepiluan melihat balita itu merindukan kasih sayang ibunya, Eni (33), yang kini telah tiada.
Kemal menuturkan, meski Arya sudah disapih, ikatan batinnya dengan sang ibu tak pernah terputus. Pemandangan pilu terus berlanjut. Sesekali, Kemal terpaksa menggendong Arya berjalan keluar dari ruang perawatan. Kantung infus dan selangnya diangkat tinggi oleh tangan kiri Kemal, sementara tangan kanannya menggenggam kipas portable kecil, mengarahkan angin sejuk ke wajah Arya yang tertutup perban. "Mungkin panas ya, kalau efek obat habis dia sedikit resah, makanya saya bawa keluar biar ada angin," tutur Kemal dengan nada sendu.
Detik-detik Heroisme Sang Ibu di Tengah Kobaran Api
Tragedi nahas itu terjadi begitu cepat. Menurut dugaan Kemal, almarhumah Eni dengan sigap dan tanpa ragu telah menyelamatkan Arya ke ruang tengah rumah mereka sesaat sebelum kobaran api melahap habis segalanya. Di sanalah Kemal kemudian menemukan dan berhasil mengevakuasi Arya yang sudah dalam kondisi terluka. Pengorbanan Eni tak berhenti sampai di situ. Setelah berhasil mengamankan buah hatinya, sang ibu berbalik, mencoba memadamkan api yang berawal dari kompor dan dengan cepat menjilat ke arah bensin eceran yang disimpan di dekatnya.
"Anak ini sudah lepas susu. Saat kejadian, ibunya itu sudah berhasil mengamankan anak ini di ruang tengah. Setelah itu kemungkinan besar almarhumah berniat memadamkan api yang asalnya dari kompor dan mulai menjilat ke bensin eceran," jelas Kemal, menggambarkan detik-detik heroik sekaligus tragis yang merenggut nyawa kakak iparnya itu. Upayanya sia-sia, api terlalu besar dan ganas, menjadikannya korban dalam kobaran api yang seharusnya tidak terjadi.
Perjuangan Balita Arya dan Masa Depan yang Penuh Tantangan
Kini, balita Arya harus menghadapi jalan panjang pemulihan, baik fisik maupun batin. Luka bakar sekitar 40 persen di tubuh mungilnya bukan hanya menyisakan rasa perih yang mendalam, tetapi juga trauma yang mungkin akan terus membayangi. Di usia yang masih sangat belia, ia harus kehilangan sosok ibu yang sangat dicintainya, sekaligus kehilangan rumah tempat ia bernaung. Kemal mengungkapkan, tragedi ini telah merenggut segalanya. Beban Arya semakin berat lantaran sang ayah saat ini sedang merantau di luar pulau, membuat Arya kini hanya bergantung pada kasih sayang sang paman.
Kisah Muhammad Arya adalah pengingat betapa rentannya hidup di tengah bahaya yang tak terduga. Ini juga sebuah cerminan kekuatan cinta seorang ibu yang tak terbatas, rela mengorbankan nyawa demi keselamatan anaknya. Masyarakat Sukabumi dan seluruh Jawa Barat diajak untuk mendoakan dan memberikan dukungan kepada Arya agar ia dapat pulih sepenuhnya dan memiliki masa depan yang lebih baik, meski harus memulai hidup tanpa kehadiran sosok ibunda tercinta.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar