Kebun Binatang Bandung Mati Suri Vian Rindukan Keriuhan

Sorajabar.com - Libur sekolah identik dengan riuhnya tawa anak-anak yang memadati berbagai destinasi wisata, tak terkecuali Kebun Binatang Bandung. Namun, pada pertengahan tahun 2026, pemandangan ikonik tersebut sirna. Kebun binatang legendaris di jantung Kota Bandung ini justru diselimuti kesunyian yang mencekam, jauh dari hiruk pikuk yang seharusnya menjadi ciri khas musim liburan.

Padahal, biasanya antrean panjang di loket, anak-anak berlarian gembira menuju kandang satwa, dan riuhnya keluarga yang botram (makan bersama) di bawah rindangnya pepohonan adalah pemandangan lazim. Kini, yang terdengar hanyalah gesekan sapu petugas kebersihan dan desiran angin menerpa dedaunan, seolah meratapi kehampaan yang melanda.

Bandung Zoo di Tengah Kesunyian yang Memilukan

Kesunyian ini bukanlah kebetulan, melainkan dampak dari konflik internal berkepanjangan yang telah membuat Bandung Zoo berhenti beroperasi selama hampir setahun. Sebuah periode yang sangat panjang bagi sebuah destinasi wisata utama, terlebih saat momen puncak seperti libur sekolah. Meski pengelola baru telah ditunjuk dan persiapan pembukaan kembali mulai digarap, denyut kehidupan yang dulu begitu kuat di Bandung Zoo telah menghilang, meninggalkan kenangan manis dan harapan akan kebangkitan.

Dampak dari kondisi ini tidak hanya terasa pada hilangnya pendapatan atau minimnya aktivitas turis, tetapi juga pada mereka yang menggantungkan hidup dan hatinya di sana. Salah satunya adalah Vian Sofian (25), seorang petugas kebersihan yang telah bertahun-tahun menjaga kebersihan kawasan tersebut. Bagi Vian, suasana libur sekolah tanpa pengunjung adalah sebuah anomali, menghadirkan perasaan sedih yang sulit diungkapkan.

Vian Sofian: Penjaga Hati Bandung Zoo yang Merindukan Tawa

"Saya sendiri sih ngerasanya sedih ya. Biasanya kan sebelum kita tutup operasional, kita lagi ngelayanin pengunjung, kita bisa berinteraksi sama pengunjung juga, sama edukasi buat anak sekolah gitu. Sekarang kelihatannya sepi," ujar Vian dengan nada pilu. Interaksi langsung dengan pengunjung, terutama anak-anak, adalah bagian tak terpisahkan dari pekerjaannya. Lebih dari sekadar menyapu atau membersihkan, Vian seringkali menjadi wajah pertama yang menyapa, menjawab pertanyaan, dan membantu pengunjung.

Ia mengenang masa-masa ramai di mana pekerjaan, meski lebih melelahkan, justru terasa lebih bermakna. "Ya kalau ramai kita kan ngelayanin pengunjung. Biasanya kan kalau ada pengunjung, kita bersih-bersihnya juga semangat lah gitu, kan mau nyambut pengunjung. Kalau sekarang kan pengunjungnya enggak ada, terasa ada yang kurang aja gitu," katanya. Kelelahan yang disertai kegembiraan melayani pengunjung adalah pengalaman yang kini sangat ia rindukan. "Enggak masalah sih, lebih enak capek tapi kan ada pengunjung, jadi capeknya enggak kerasa gitu. Kalau sekarang kan enggak ada pengunjung, beda aja sih," tambahnya.

Vian masih ingat betul bagaimana ia sering dimintai bantuan, mulai dari menunjukkan lokasi kandang satwa, merekomendasikan tempat terbaik untuk botram, hingga membantu mencari anak yang terpisah dari keluarga atau barang yang hilang. "Sering ya pengunjung ketinggalan barang. Kalau kita temukan langsung kita sampaikan ke pusat informasi, biasanya tempat makanan, handphone, tas dan lain-lain. Terus banyak anak kecil yang nyasar atau misah sama keluarga. Di situ kita tenangin dulu, langsung dibawa juga ke informasi untuk diumumin," kenangnya.

Rutinitas Vian secara fisik tidak banyak berubah; ia tetap datang bekerja setiap hari, membersihkan area kebun binatang. Namun, esensi pekerjaannya terasa kosong tanpa interaksi manusia yang dulu membuat suasana kerja terasa hidup dan penuh warna. "Aktivitas kita masih sama sih seperti biasa, enggak ada yang beda, pembersihan area juga masih sama, cuma ya bedanya itu aja sih, enggak ada pengunjung, enggak ada interaksi sama pengunjung aja," ujarnya.

Antisipasi Pembukaan Kembali dan Asa yang Menggema

Kesunyian Bandung Zoo bahkan menjadi topik hangat di lingkungan tempat tinggalnya di Lembang. Banyak tetangga dan teman yang selalu bertanya-tanya kapan kebun binatang akan kembali dibuka. Pertanyaan yang sama juga muncul dari hati Vian sendiri, yang hanya bisa menjawab berdasarkan informasi yang ia dapat. Di tengah proses transisi pengelolaan ini, Vian memiliki satu harapan besar: ia ingin melihat Bandung Zoo kembali dipenuhi oleh suara tawa anak-anak dan keriuhan keluarga yang berwisata.

"Harapan saya sebagai pekerja sekarang ya tetap operasional segera buka aja sih. Segera buka, kebun binatang kembali berjaya lagi kayak dulu, normal lagi semuanya," pungkas Vian, menyuarakan asa yang mungkin juga dirasakan oleh banyak warga Jawa Barat yang merindukan kebangkitan ikon Pariwisata ini. Semoga, Bandung Zoo dapat segera membuka pintunya kembali, mengembalikan senyum di wajah pengunjung dan Vian Sofian.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Kebun Binatang Bandung Mati Suri Vian Rindukan Keriuhan
  • Kebun Binatang Bandung Mati Suri Vian Rindukan Keriuhan
  • Kebun Binatang Bandung Mati Suri Vian Rindukan Keriuhan
  • Kebun Binatang Bandung Mati Suri Vian Rindukan Keriuhan
  • Kebun Binatang Bandung Mati Suri Vian Rindukan Keriuhan
  • Kebun Binatang Bandung Mati Suri Vian Rindukan Keriuhan

Posting Komentar