Eks Buruh Pabrik Sulap Nasib Jadi Pilot Drone Rupiah Cicerem
Sorajabar.com - Di tengah gemerlapnya sektor pariwisata Jawa Barat, terselip kisah inspiratif dari Telaga Biru Cicerem, Kuningan. Adalah Jaja Sujana (33), seorang pria yang dulunya akrab dengan bisingnya mesin pabrik, kini menjelma menjadi pilot drone dan fotografer andal, mengukir rezeki di atas keindahan air telaga yang sebening kaca. Liburan sekolah menjadi musim panen baginya, saat jemarinya lincah menari di atas tuas kendali, menangkap momen indah para wisatawan dari ketinggian.
Dari Bising Pabrik ke Heningnya Telaga Biru
Siapa sangka, di balik kemahirannya menerbangkan ‘burung besi’ di salah satu destinasi Wisata paling memesona di Kuningan, Jaja Sujana memiliki masa lalu yang jauh berbeda. Pria asli Desa Kaduela, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan ini pernah menjadi perantau, mengadu nasib di Ibu Kota demi mencari pekerjaan yang sulit ditemukan di kampung halaman.
“Merantau itu kurang lebih 2 tahun kerja jadi kuli pabrik di Tangerang sampai tahun 2012,” kenang Jaja, merangkum penggalan kisah hidupnya yang penuh perjuangan. Ia hanyalah satu dari ribuan pemuda desa yang terpaksa meninggalkan tanah kelahiran, menukar kehangatan keluarga dengan kerasnya kehidupan kota.
Namun, takdir membawanya kembali. Setelah kontrak kerjanya usai, Jaja pulang ke Kaduela dalam kondisi menganggur. Momen inilah yang menjadi titik balik dalam hidupnya. Tanpa mentor formal atau bangku sekolah khusus, Jaja mulai menyelami dunia multimedia secara otodidak. Baginya, semangat untuk terus mencoba adalah modal utama, bahkan ketika kegagalan berulang kali menghampiri.
Jalan Terjal Menjadi Pilot Drone Profesional
Perjalanan Jaja menjadi pilot drone tidaklah mulus seperti penerbangan pesawat tanpa awak yang ia kendalikan kini. Ada harga yang harus dibayar, tak hanya berupa waktu dan tenaga, tetapi juga materi. Ia harus merelakan tabungannya ludes demi sebuah proses belajar yang mahal.
“Waktu itu sebelum jadi pilot drone kita coba coba sampai habis 7 drone yang terbuang yang harganya Rp 700 ribu sampai Rp 1,5 juta. Maksudnya terbuang tuh ketika kebawa angin, hilang kendali, masuk air,” cerita Jaja, menyoroti perjuangannya. Drone-drone “belajar” yang belum dilengkapi GPS dan memiliki daya terbang terbatas seringkali menjadi korban eksperimennya. Namun, dari setiap kehilangan dan kerusakan, Jaja memetik pelajaran berharga. Kegagalan demi kegagalan itu justru menjadi guru terbaik, mengasah instingnya, hingga ia menguasai teknik penerbangan, fotografi, dan penyuntingan video yang mumpuni.
Mengukir Jejak di Desa Wisata Kaduela
Dengan keahlian yang diasah dari nol tersebut, Jaja tak egois. Ia mendedikasikan pengetahuannya untuk membangun tanah kelahirannya. Ia bergabung dalam pengembangan Desa Wisata Kaduela, sebuah inisiatif lokal untuk memaksimalkan potensi Telaga Biru Cicerem. Di sana, ia tak hanya menjadi fotografer, tetapi juga videografer drone yang handal, bertugas mengabadikan keindahan alam dari perspektif yang berbeda. Pemandangan perahu kano transparan yang melintasi air jernih kini menjadi lebih dramatis berkat sentuhan kamera Jaja dari ketinggian.
Namun, inovasinya tak berhenti sampai di sana. Jaja pun merambah dunia digital sebagai kreator konten lokal, memaksimalkan berbagai platform media sosial untuk promosi dan branding destinasi wisata tersebut. “Dulunya ikut Karang Taruna. Setelah itu, masa transisi Karang Taruna. Tapi BUMDes juga merangkul anak-anak Karang Taruna untuk diberdayakan. Akhirnya sejak 2021 mulai meledak tuh. Ramai di sini,” jelasnya.
Merambah Dunia Konten Kreator Digital
Jaja kini aktif di berbagai media sosial, termasuk Facebook Pro, Instagram, dan TikTok. Ia memahami betul kekuatan platform-platform ini dalam menjangkau audiens yang lebih luas. “Untuk sekarang kita buka jasa video dan foto drone untuk perahu kano transparan juga. Kita juga tekuni FB Pro, Instagram, TikTok, semua kalangan media kita coba tekuni. Cuman YouTube agak sedikit kurang. Lumayan dibayarnya pakai dollar,” tambahnya, menunjukkan diversifikasi sumber pendapatannya.
Kualitas Hidup yang Lebih Bermakna di Kampung Halaman
Kini, Jaja tak lagi harus berdesakan di angkutan umum atau menghirup polusi industri di perantauan. Baginya, bekerja di desa sendiri memberikan ketenangan dan kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan angka semata. Meskipun pendapatan di kota mungkin terlihat lebih besar, ia menyadari bahwa biaya hidup yang tinggi dan jauh dari keluarga seringkali mengikis nilai tersebut.
“Kalau di sini ya lumayan, nggak terlalu banyak pengeluaran kayak di Tangerang meski di sana pendapatnya besar, tapi pengeluaran besar juga. Di sini alhamdulillah UMR Kuningan dapat sebulan, dekat sama keluarga juga bisa sambil ngonten juga. Ini juga mau coba buka usaha PS,” pungkas Jaja, dengan senyum puas. Kisah Jaja adalah bukti nyata bahwa dengan kegigihan, kreativitas, dan keberanian untuk beradaptasi, setiap orang bisa menemukan jalan suksesnya sendiri, bahkan di kampung halaman.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar