30 Tahun Misbah Berjuang Jaga Keaslian Tahu Gejrot Cirebon
Sorajabar.com - Di tengah hiruk pikuk modernisasi Kuliner, kisah Misbah (54) adalah sebuah ode untuk tradisi. Penjual Tahu Gejrot legendaris asal Cirebon ini telah mengabdikan lebih dari tiga dekade hidupnya untuk melestarikan cita rasa autentik di Kabupaten Kuningan. Dengan gerobak pikul sederhana yang menjadi saksi bisu perjalanannya, Misbah tidak hanya menjajakan tahu gejrot, tetapi juga sepotong sejarah dan semangat pantang menyerah yang menginspirasi.
Perjalanan Panjang dari Cirebon ke Kuningan
Setiap pagi, sejak pukul 08.00 WIB, Misbah memulai perjalanannya dari Cirebon menuju Kuningan menggunakan elf. Rute ini telah ia tempuh selama lebih dari 30 tahun, sebuah rutinitas yang dimulai sejak ia lulus SD, mengikuti jejak kerabatnya. Misbah memilih Kuningan sebagai ladang rezekinya karena pada masanya, kawasan sekitar Gedung Perundingan Linggarjati, tempat ia biasa berjualan, merupakan magnet bagi wisatawan.
Misbah mengenang masa keemasan di tahun 2000-an, terutama saat musim liburan panjang dan Lebaran. "Kalau ramai tuh tahun 2000-an itu. Kalau Lebaran ya, nggak kehitung lah. Satu karung tahu saja habis. Asal tangannya kuat sampai 1.000 porsi ada," tuturnya sambil tersenyum, membayangkan kesibukan kala itu. Ribuan porsi tahu gejrot bisa ludes dalam sehari, menunjukkan betapa populer dan dicari kuliner khasnya.
Ujian Pandemi dan Pergeseran Lokasi
Namun, roda waktu terus berputar. Seiring dengan kemunculan berbagai destinasi wisata baru di Kuningan, kawasan Linggarjati perlahan mulai kehilangan pesonanya. Kondisi ini secara langsung berdampak pada pendapatan Misbah. Puncaknya, pandemi COVID-19 melanda, memaksa Misbah untuk rehat sejenak dari aktivitas berdagang yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Kendati dihadapkan pada situasi sulit, semangat Misbah tak pernah padam. Setelah pandemi mereda, ia kembali bangkit. Namun, karena Gedung Perundingan Linggarjati yang kian sepi, Misbah memutuskan untuk beradaptasi. Ia kini memfokuskan dagangannya di sekitar Open Space Gallery Kuningan, berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi sebelumnya, mencari keramaian baru dan pelanggan setia.
Rahasia Cita Rasa Otentik Tahu Gejrot Misbah
Salah satu keunikan yang membuat tahu gejrot Misbah berbeda dan tetap digemari adalah komitmennya terhadap tradisi dan kualitas. Misbah menggunakan piring tanah liat sebagai wadah penyajian, yang secara rutin dibakar. Proses pembakaran ini, menurut Misbah, bukan sekadar tradisi, melainkan untuk menjaga cita rasa tahu gejrot agar tetap nikmat sekaligus mencegah pertumbuhan jamur pada media tanah liat tersebut.
Lebih lanjut, Misbah memiliki filosofi kuat dalam meracik bumbu. Berbeda dengan banyak pedagang lain yang mungkin menggunakan penyedap rasa instan, Misbah bersikukuh hanya memakai bahan-bahan alami pilihan. Bawang merah, cabai segar, gula merah asli, kecap, dan garam secukupnya menjadi paduan rahasia yang menciptakan cita rasa autentik dan alami. "Kalau punya orang lain kan, kebanyakan kan ada yang dikasih bumbu penyedap, ada yang dikasih salam, kayak sayur asem aja gitu. Padahal jadi timbulnya kalau sudah dimakan jadinya nggak enak diperut," jelasnya.
Ketika disajikan, tahu gejrot racikan Misbah menawarkan sensasi rasa yang memikat. Tahu yang lembut dan gurih berpadu sempurna dengan kuah gula merah yang manis, pedas, dan menyegarkan. Setiap suapan seolah membawa kita pada kenangan rasa tahu gejrot yang sesungguhnya, jauh dari sentuhan modernisasi.
Kesetiaan Pelanggan dan Semangat Pantang Menyerah
Meski intensitas pembeli tidak lagi seramai dulu, konsistensi Misbah dalam menjaga kualitas dan cita rasa telah membuahkan kesetiaan pelanggan. Dengan harga yang sangat terjangkau, hanya Rp10.000 per porsi, Misbah mampu menjual rata-rata 30 porsi dalam sehari. Pendapatan bersih sekitar Rp100.000 per hari ini, bagi Misbah, sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. "Alhamdulillah lidahnya masih pada cocok," pungkasnya dengan senyum penuh syukur.
Kisah Misbah adalah cerminan dari kegigihan dan dedikasi seorang pengrajin kuliner. Di tengah gempuran persaingan, ia tetap teguh pada prinsipnya, menjaga warisan rasa yang telah turun-temurun. Tahu gejrot Misbah bukan hanya sekadar jajanan, melainkan sebuah pengalaman rasa dan cerita perjuangan yang patut diacungi jempol.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar