Siswa Bekasi Rangkai Robot, Rumah Pintar, Raih Mimpi di Sekolah Rakyat

Sorajabar.com - Di sebuah pameran di SRMP 10 Cibinong, Kabupaten Bogor, perhatian pengunjung tersedot pada sebuah robot kecil yang lincah mengikuti langkah manusia, berdampingan dengan miniatur rumah pintar berpanel surya dan tong sampah otomatis. Di balik Inovasi-inovasi canggih ini, berdiri seorang pemuda berusia 16 tahun bernama Bagas Faqih Andriano, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 13 Bekasi. Bagas tidak hanya memamerkan kecanggihan teknologi, namun juga kisah inspiratif tentang bagaimana Pendidikan gratis melalui 'Sekolah Rakyat' telah merangkai kembali asa dan impiannya.

Robot Wall-E ciptaan Bagas dan timnya dirancang sebagai asisten pribadi yang siap membantu membawa barang, berfungsi layaknya keranjang belanja otomatis. Sementara itu, konsep rumah pintar mereka lahir dari keprihatinan akan dampak bencana banjir yang sering memicu pemadaman listrik. "Kalau malam listrik mati, panel surya bisa jadi cadangan listrik. Ada juga sensor yang bisa mendeteksi gerakan mencurigakan," jelas Bagas dengan antusias. Bersama teman-teman kelompoknya, Bagas mengerjakan setiap detail proyek, mulai dari pemrograman rumit, penyolderan komponen elektronik, perakitan mekanik, hingga pemasangan kabel. "Semua kita kerjain bareng-bareng," ujarnya, menunjukkan semangat kolaborasi dan kegigihan.

Bagi banyak pelajar, kesempatan belajar teknologi mungkin dianggap biasa. Namun, untuk Bagas, ini adalah sebuah anugerah. Dengan ayah yang berjualan jajanan di kantin sekolah dan ibu sebagai ibu rumah tangga, selepas SMP ia sempat dihantui keraguan yang mendalam tentang masa depannya. "Saya sempat mikir, bisa lanjut kuliah enggak ya? Bisa cita-cita yang saya inginkan tercapai apa enggak?" kenangnya, menggambarkan kegelisahan yang membelenggunya.

Keraguan itu perlahan sirna ketika tawaran mengikuti program Sekolah Rakyat datang. Bagas, yang awalnya bahkan tidak mengetahui keberadaan program ini, melewati proses verifikasi ketat dan akhirnya diterima. Sejak saat itu, hidupnya mengalami perubahan drastis. "Seragam lengkap dan semuanya gratis," ungkap Bagas, merasakan betapa program ini bukan sekadar memberikan ruang belajar, tetapi juga membuka lebar jalan menuju impian yang sebelumnya terasa begitu jauh. Kini, impiannya mengarah pada satu tujuan mulia: melanjutkan pendidikan ke IPDN. "Saya sih lanjut kuliah. Insya Allah inginnya ke IPDN," ujarnya mantap, dengan keinginan menjadi aparatur sipil negara dan berkarya untuk pemerintahan. Di Sekolah Rakyat, Bagas tidak hanya merakit teknologi, ia juga sedang merakit masa depannya sendiri.

Sekolah Rakyat: Merajut Harapan, Melawan Kemiskinan di Jawa Barat

Mendekati satu tahun sejak pertama kali dibuka pada Juli 2025, program Sekolah Rakyat menunjukkan betapa besarnya kebutuhan masyarakat akan akses pendidikan gratis berbasis asrama yang berkualitas. Dalam acara Open House di SRMP 10 Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (3/6/226), Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memaparkan bahwa jumlah calon siswa yang telah dijangkau pemerintah kini telah melampaui kuota yang tersedia. "Calon siswanya sudah lebih dari 42 ribu, sementara alokasinya 32.640 siswa," kata Gus Ipul di hadapan para orang tua dan calon siswa, menegaskan bahwa tingginya minat ini membuktikan program gagasan Presiden Prabowo Subianto ini benar-benar menjawab kebutuhan mendesak keluarga miskin yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan berkualitas.

Namun, di balik antusiasme masyarakat yang tinggi, pemerintah menghadapi tantangan besar untuk memastikan program ini tetap berjalan sesuai tujuan awal. Gus Ipul dengan tegas mengingatkan bahwa proses penerimaan siswa harus bersih dari praktik korupsi, kolusi, nepotisme, maupun pungutan liar. "Jangan sampai ada yang memanipulasi data, menerima imbalan dalam bentuk apa pun, atau menitipkan siswa yang tidak memenuhi kriteria," tegasnya. Beliau menekankan bahwa Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran secara umum, melainkan menjaring sebagian besar siswa melalui basis data pemerintah dan penjangkauan langsung terhadap keluarga yang benar-benar memenuhi kriteria kemiskinan. Oleh karena itu, akurasi data menjadi pondasi penting bagi keberhasilan program ini.

Tantangan lain yang tak kalah penting adalah menjangkau anak-anak yang sudah terlanjur putus dari sistem pendidikan formal. Gus Ipul juga memperkenalkan beberapa calon siswa yang berasal dari latar belakang sangat rentan, termasuk mereka yang putus sekolah sejak kelas lima SD dan akhirnya kembali memperoleh kesempatan emas untuk belajar melalui program Sekolah Rakyat. Data dari Kementerian Sosial menunjukkan bahwa mayoritas orang tua calon siswa berprofesi sebagai buruh tani, buruh bangunan, pekerja jasa informal, hingga pekerja perkebunan, bahkan sebagian lainnya tidak memiliki penghasilan tetap. Kondisi ini menempatkan Sekolah Rakyat bukan hanya sebagai program pendidikan, melainkan sebagai instrumen vital untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi, memberikan harapan baru bagi masa depan bangsa.

Oleh karena itu, menurut Gus Ipul, ukuran keberhasilan program ini tidak semata-mata dilihat dari jumlah siswa yang diterima setiap tahun. Lebih dari itu, Sekolah Rakyat diharapkan mampu melahirkan generasi-generasi baru yang memiliki kesempatan dan kualitas hidup jauh lebih baik dibanding orang tua mereka. "Kalau orang tuanya sekarang belum sukses, mudah-mudahan nanti putra-putrinya menjadi anak-anak yang hebat," pungkasnya, menyuarakan optimisme dan harapan besar terhadap masa depan cerah anak-anak Jawa Barat melalui pendidikan yang setara dan berkualitas.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Siswa Bekasi Rangkai Robot, Rumah Pintar, Raih Mimpi di Sekolah Rakyat
  • Siswa Bekasi Rangkai Robot, Rumah Pintar, Raih Mimpi di Sekolah Rakyat
  • Siswa Bekasi Rangkai Robot, Rumah Pintar, Raih Mimpi di Sekolah Rakyat
  • Siswa Bekasi Rangkai Robot, Rumah Pintar, Raih Mimpi di Sekolah Rakyat
  • Siswa Bekasi Rangkai Robot, Rumah Pintar, Raih Mimpi di Sekolah Rakyat
  • Siswa Bekasi Rangkai Robot, Rumah Pintar, Raih Mimpi di Sekolah Rakyat

Posting Komentar