Petani Sumedang Tersenyum! Polres Gelar Lomba Basmi Tikus
Sorajabar.com - Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, tengah menghadapi tantangan serius di sektor Pertanian. Mayoritas petani padi di wilayah ini menjerit akibat serangan hama tikus yang masif, menyebabkan gagal panen hingga dua musim tanam berturut-turut. Kondisi ini diperparah dengan tingginya biaya produksi yang terus melonjak, membuat para petani berada di titik terendah.
Jeritan Petani di Sumedang Utara
Serangan hama tikus bukanlah masalah baru, namun intensitasnya kini telah mencapai taraf mengkhawatirkan. Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah Blok Cibaros, Dusun Cihanyir, Desa Girimukti, Kecamatan Sumedang Utara. Supriatna, Ketua Gapoktan Desa Girimukti, mengungkapkan keprihatinannya.
"Ada yang gagal panen sampai dua musim. Biasanya dari luas lahan 100 bata bisa 1 Ton, sekarang 1 kuintal juga tidak sampai. Apalagi sekarang kan biaya pengolahan tanaman pangan khususnya padi mahal," ujar Supriatna pada Kamis (25/6/2026).
Kenaikan biaya sewa traktor, pupuk, dan obat-obatan pertanian menjadi beban ganda bagi petani. Mereka harus mengeluarkan modal besar, namun hasilnya justru merosot drastis. Berbagai upaya tradisional, mulai dari perangkap hingga umpan beracun, telah dicoba namun belum mampu mengatasi populasi tikus yang terus berkembang pesat.
Polres Sumedang Beraksi Melalui Lomba Unik
Di tengah keputusasaan para petani, secercah harapan datang dari Kepolisian Resor Sumedang. Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80, Polres Sumedang meluncurkan inisiatif unik: 'Lomba Basmi Hama Tikus'. Kegiatan ini dilaksanakan serentak di 26 kecamatan di seluruh Sumedang, menunjukkan komitmen nyata Polri dalam mendukung Ketahanan Pangan daerah.
Lomba ini mendapat sambutan luar biasa dari ribuan petani yang telah lama merugi akibat hama tikus. Dampak serangan hama ini memang tidak main-main, di beberapa wilayah, penurunan hasil panen bahkan mencapai 50 persen. AKBP Sandityo Mahardika, Kapolres Sumedang, turut hadir langsung di area persawahan Dusun Cihanyir, Desa Girimukti, untuk membuka dan menyaksikan proses penangkapan tikus bersama petani.
"Perlu digaris bawahi, lomba ini selain untuk membantu petani membasmi hama tikus, juga agar nanti persiapan penanaman tahap selanjutnya, merasa tenang dan tidak diganggu lagi hama tikus," tegas Sandityo. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap sektor pertanian.
Semangat Gotong Royong dan Harapan Baru
Sebanyak 2.000 peserta dari 21 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) ikut serta dalam perlombaan ini. Dengan antusias, mereka berburu tikus di lahan persawahan pasca panen yang menjadi sarang hama. Metode yang digunakan pun cukup inovatif, yakni pengasapan dan pembakaran menggunakan campuran serbuk belerang untuk memaksa tikus keluar dari lubangnya, sebelum kemudian ditangkap dan dihitung sebagai bagian dari penilaian lomba.
Kapolres Sandityo bahkan berbagi cerita tentang anggota kepolisian yang juga berprofesi sebagai petani dan merasakan langsung dampak kerugian. "Hasil keliling ada yang sampai 50 persen terserang hama tikus. Jadi ini mengganggu aktivitas pertanian. Bahkan ada anggota kami yang menjadi petani, mengeluh. Yang biasa panen 3 Ton, akhirnya hanya panen 1 Ton," ujarnya.
Lomba yang akan berlangsung selama empat hari ini tidak hanya bertujuan mengurangi populasi tikus, tetapi juga diharapkan mampu menumbuhkan kembali semangat gotong royong antarpetani dalam menjaga lahan pertanian mereka. Dengan adanya sinergi antara aparat dan masyarakat, diharapkan produktivitas pertanian di Kabupaten Sumedang dapat terus terjaga dan meningkat pada musim panen mendatang, membawa senyum kembali ke wajah para petani.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar