Kisah Liu Hanqing Sang Jenius yang Memilih Jalannya Sendiri

Sorajabar.com - Kisah seorang mantan bocah jenius dari pedesaan terpencil di China, Liu Hanqing, kembali menyita perhatian publik. Dulu dipuja sebagai kebanggaan kampung, kini ia menjalani kehidupan yang jauh dari hingar bingar kesuksesan, tenggelam dalam obsesinya terhadap dunia Matematika.

Lahir dari keluarga petani miskin di Taizhou, Liu Hanqing, yang kini menginjak usia 60-an, menunjukkan bakat luar biasa sejak dini. Kecerdasannya yang melampaui teman sebayanya sudah terlihat saat ia mampu menghafal teks-teks klasik dan bahkan mempelajari kalkulus secara otodidak di usia 11 tahun. "Saya selalu menjadi juara pertama di seluruh sekolah saat SD dan SMP," kenang Liu dalam sebuah wawancara.

Sang Jenius dari Pedesaan: Awal Kejayaan

Puncaknya datang di usia 16 tahun, ketika ia berhasil diterima di Institut Teknologi Harbin, salah satu universitas terkemuka di China, dengan nilai ujian masuk yang hampir sempurna: 398,5 dari 400. Sebuah pencapaian yang mengagumkan, terutama mengingat pada tahun 1980-an, hanya sekitar 280.000 dari 3,33 juta peserta ujian yang berhasil masuk universitas. Nilai Liu bahkan lebih dari 10 poin di atas standar untuk universitas unggulan.

Keberhasilannya ini adalah kebanggaan tak ternilai bagi kampung halamannya. Ayahnya menggelar pesta meriah, dan warga desa berbondong-bondong mengantarnya ke universitas dengan perahu, diiringi tabuhan genderang. Kepala desa saat itu bahkan berujar, "Tidak ada yang menyangka phoenix emas bisa terbang dari desa kecil kita." Liu Hanqing adalah representasi harapan dan impian bagi komunitasnya.

Ketika Obsesi Mengambil Alih

Sebagai mahasiswa termuda di kelasnya, Liu terus mempertahankan prestasinya yang gemilang di dua tahun pertama. Para dosen menaruh harapan besar padanya. Namun, semua berubah drastis di tahun ketiga perkuliahannya. Saat membaca tentang matematikawan China legendaris, Chen Jingrun, yang berhasil memecahkan sebagian dari Konjektur Goldbach – salah satu masalah matematika paling rumit yang diajukan pada tahun 1742 – Liu menjadi sangat terobsesi.

Konjektur Goldbach, yang menyatakan bahwa setiap bilangan genap yang lebih besar dari 2 adalah jumlah dari dua bilangan prima, telah memukau para matematikawan selama berabad-abad. Liu bertekad untuk melampaui pencapaian Chen. Sejak saat itu, ia mengabaikan semua mata kuliah jurusannya. Hari-harinya dihabiskan hampir seluruhnya di perpustakaan, hanya tidur dua jam sehari demi mengejar pemahaman akan teori-teori matematika yang kompleks.

  • Fokus studi Liu beralih sepenuhnya ke Konjektur Goldbach.
  • Ia mengabaikan perkuliahan formal dan tugas-tugas jurusannya.
  • Waktu tidurnya berkurang drastis, memprioritaskan riset matematika.

Pihak universitas, yang melihat potensi besarnya, mengizinkannya bekerja paruh waktu di departemen matematika. Profesor-profesor memantau risetnya, namun sayangnya, ditemukan kelemahan mendasar dalam logika dan metode yang digunakannya. "Saat itu, saya tidak peduli semua itu. Saya hanya belajar sendiri dan tidak menghadiri kelas jurusan apa pun," ujarnya. Akhirnya, ia gagal menyelesaikan studinya dan terpaksa meninggalkan universitas. Kepala departemen mengungkapkan bahwa Liu adalah mahasiswa yang sangat berprestasi di awal, namun kemudian mengabaikan semua mata kuliahnya.

Kehidupan Sunyi Sang Pencari Kebenaran

Pada tahun 1985, saat teman-teman sekelasnya mendapatkan pekerjaan bergengsi, Liu Hanqing kembali ke desanya. Ia tidak mencari pekerjaan, melainkan melanjutkan misi pribadinya: meneliti matematika. Awalnya, orang tuanya mendukung pilihannya, namun seiring berjalannya waktu, keyakinan mereka memudar. Selama tiga dekade berikutnya, Liu Hanqing hanya menghasilkan satu makalah akademik. Makalah tersebut, setelah diunggah ke media sosial luar negeri oleh temannya, dilaporkan dinilai oleh seorang PhD matematika asal Finlandia memiliki terlalu banyak kesalahan untuk dianggap sebagai karya ilmiah.

Menjelang tahun 2007, kesehatan Liu mulai memburuk, membuatnya tak lagi sanggup begadang untuk melanjutkan pekerjaannya. Pada tahun 2008, ia bahkan menolak tawaran untuk mengajar di sekolah dasar setempat karena kondisi kesehatannya.

Kini, ia tinggal sebatang kara di rumah tua yang mulai runtuh, dengan sedikit barang berharga. Beberapa tahun lalu, pihak desa membantunya mengajukan tunjangan. Dan pada tahun 2017, mantan teman-teman sekelasnya menggalang dana untuk memperbaiki rumahnya, membelikannya ponsel, serta memasang akses internet. Kisah hidupnya baru-baru ini kembali viral di media sosial China, memicu perdebatan. Ada yang melihatnya sebagai pria yang termakan obsesi, sementara yang lain memandangnya sebagai sosok sejati yang menghabiskan hidupnya mengejar ilmu tanpa memedulikan kekayaan atau status.

Ketika ditanya apakah ia menganggap dirinya sukses, Liu memberikan jawaban yang tenang namun penuh makna. "Apa itu sukses? Apakah memiliki uang dan karier berarti sukses?" tanyanya. "Saya rasa jika Anda pandai dalam matematika, itu bisa disebut sukses. Bagi saya, saya tidak ingin berubah. Saya mungkin tidak memiliki kekayaan materi, tetapi saya memiliki kebebasan batin." Sebuah filosofi hidup yang mendalam dari seorang jenius yang memilih jalannya sendiri.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Kisah Liu Hanqing Sang Jenius yang Memilih Jalannya Sendiri
  • Kisah Liu Hanqing Sang Jenius yang Memilih Jalannya Sendiri
  • Kisah Liu Hanqing Sang Jenius yang Memilih Jalannya Sendiri
  • Kisah Liu Hanqing Sang Jenius yang Memilih Jalannya Sendiri
  • Kisah Liu Hanqing Sang Jenius yang Memilih Jalannya Sendiri
  • Kisah Liu Hanqing Sang Jenius yang Memilih Jalannya Sendiri

Posting Komentar