Kisah Kusnia Indramayu: Terjebak Pengantin Pesanan di China
Sorajabar.com - Kepulangan Kusnia (21) ke rumah sederhananya di Desa Jambak, Cikedung, Indramayu, adalah momen yang penuh haru. Setelah berbulan-bulan terjerat dalam praktik dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) berkedok pengantin pesanan di China, gadis muda ini akhirnya bisa kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Namun, di balik rasa syukur, tersimpan trauma mendalam yang membekas di benak Kusnia, menjadikannya pelajaran berharga yang ia harap tidak akan menimpa orang lain.
“Saya berharap tidak ada lagi yang tertipu. Jangan mudah tergiur janji uang besar dan jangan langsung percaya kepada orang yang baru dikenal,” pesan Kusnia, Senin (1/6/2026), menegaskan pentingnya kewaspadaan.
Awal Mula Petaka: Janji Manis di Balik Jeruji Besi
Perjalanan kelam yang menimpa Kusnia berawal pada Desember 2025. Saat itu, Kusnia yang hanya lulusan SMP dan belum memiliki pekerjaan, menerima tawaran untuk bekerja di sebuah restoran di China. Tawaran tersebut datang dari seorang kenalan, lengkap dengan janji bahwa seluruh biaya keberangkatan akan ditanggung oleh agensi. Harapan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga menjadi pendorong utama Kusnia menerima tawaran tersebut tanpa banyak curiga.
Namun, sesampainya di China, realitas yang dihadapinya sangat jauh berbeda dari apa yang dijanjikan. Pekerjaan di restoran yang disebut-sebut telah menantinya ternyata tidak pernah ada. Kusnia justru ditelantarkan tanpa kejelasan selama beberapa waktu. Situasi semakin memburuk ketika sekitar seminggu kemudian, ia dipaksa menikah dengan seorang pria warga negara China. Janji uang puluhan juta rupiah, tunjangan bulanan, dan berbagai fasilitas yang konon akan membuat hidupnya lebih baik, tak pernah terwujud sepenuhnya. Dari nominal yang dijanjikan mencapai Rp50 juta, Kusnia hanya menerima Rp22 juta.
Kekerasan dan Penipuan: Neraka di Negeri Orang
“Katanya akan dapat uang Rp50 juta dan kebutuhan saya dipenuhi. Tapi kenyataannya tidak seperti itu,” tutur Kusnia dengan nada pahit. Awalnya, suami yang dinikahinya memperlakukan dirinya dengan baik. Namun, kebaikan itu hanya sesaat. Kusnia mulai mengalami kekerasan fisik ketika menolak menuruti keinginan suaminya. Ia mengaku beberapa kali mendapatkan perlakuan kasar hingga penyiksaan, membuatnya hidup dalam ketakutan dan tekanan selama di sana. “Iya, sering disiksa kalau saya tidak menuruti kemauannya,” imbuhnya, menggambarkan penderitaannya.
Perjuangan Keluarga dan Peran Penting SBMI
Kisah pilu Kusnia menjadi pukulan berat bagi keluarganya di Indramayu. Sang ibu, Dartem (52), tak henti berupaya mencari jalan agar putrinya bisa kembali ke Indonesia. Berbagai cara ditempuh, mulai dari menyebarluaskan informasi melalui media sosial hingga meminta bantuan kepada Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Indramayu. Perjuangan panjang ini akhirnya membuahkan hasil, Kusnia berhasil dipulangkan dan kini kembali berkumpul bersama keluarga. “Alhamdulillah, yang paling penting anak saya sudah pulang,” ujar Dartem dengan mata berkaca-kaca.
Ketua DPC SBMI Indramayu, Huki Jaenah, menilai Kusnia adalah korban yang harus mendapatkan perlindungan dan pendampingan hukum. Berdasarkan informasi yang dihimpun SBMI, selain mengalami kekerasan, Kusnia juga diduga menjadi korban eksploitasi oleh pihak yang merekrut dan memberangkatkannya ke China. Terdapat dugaan ketidaksesuaian antara uang yang dibayarkan oleh pihak pria di China dengan jumlah yang diterima korban. Huki mengungkapkan, “Informasinya suami di sana memberikan uang sekitar Rp400 juta. Tetapi yang diterima Kusnia hanya Rp22 juta. Diduga sebagian besar uang tersebut diterima pihak agensi.”
Sejak menerima laporan dari keluarga korban, SBMI telah melakukan berbagai langkah koordinasi untuk mempercepat proses pemulangan, serta berkomitmen mengawal proses hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat. Keluarga korban telah melaporkan dugaan TPPO ini kepada Polres Indramayu. Huki berharap laporan ini dapat ditindaklanjuti secara serius agar para pelaku mendapat hukuman setimpal, sekaligus memberikan efek jera dan mencegah munculnya korban baru.
Waspada! Jangan Terjebak Modus TPPO Serupa
Kasus yang menimpa Kusnia adalah pengingat keras bagi kita semua. Tawaran pekerjaan dengan iming-iming penghasilan besar di luar negeri harus disikapi dengan penuh kehati-hatian. Di balik janji kehidupan yang lebih baik, bisa saja tersembunyi praktik perdagangan orang yang merenggut kebebasan dan masa depan korbannya. Verifikasi informasi, jangan mudah percaya orang asing, dan selalu laporkan tawaran yang mencurigakan kepada pihak berwenang adalah langkah-langkah krusial untuk melindungi diri dan keluarga.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar