Hati Ayah Hancur! Bocah SD Sukabumi Jadi Korban Teman Sebaya
Sorajabar.com - Kisah pilu datang dari Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, mengguncang hati nurani dan menyoroti kerentanan Anak-anak di tengah lingkungan pergaulan mereka. Sebuah keluarga kini harus menelan pil pahit setelah putri bungsu mereka, seorang bocah berusia 10 tahun yang masih duduk di bangku kelas 3 SD, diduga kuat menjadi korban kejahatan seksual. Yang lebih miris, para terduga pelaku tak lain adalah teman sepermainan korban, dua pelajar SD dan satu pelajar SMP.
Peristiwa tragis ini mencuat saat I (57), sang ayah, sedang berjuang mengais rezeki di Jakarta. Panggilan telepon panik dari putri sulungnya menjadi pertanda awal kehancuran hati yang akan ia rasakan. "Bapak harus pulang, nggak ada apa-apa," kenang I menirukan suara putrinya, saat ia bergegas kembali ke kampung halaman, meninggalkan pekerjaannya di ibu kota.
Dugaan Aksi Bejat di Kebun Sepi
Setibanya di rumah, kenyataan pahit langsung menyambut I. Putri kecilnya telah kehilangan keceriaan masa kanak-kanak. Menurut penuturan I, kejadian nahas itu terjadi pada Kamis (18/6/2026) pekan lalu. Kala itu, korban yang baru saja usai menonton acara samenan di sekitar sekolahnya, dihampiri oleh terduga pelaku yang berstatus siswa SMP. Bocah SMP inilah yang diduga kuat menjadi inisiator dan dalang utama di balik aksi keji tersebut.
Modus yang digunakan pelaku terbilang licik, memanfaatkan kepolosan korban dengan mengiming-imingi sejumlah uang jajan. "Yang ngajaknya ini anak SMP, dikasih duit. Main aja berempat dibawa ke kebun," jelas I, suaranya bergetar menahan emosi. Tanpa sedikit pun menaruh curiga, korban mengikuti ajakan itu menuju sebuah kawasan perkebunan warga yang sepi. Di sanalah, ruang aman dan masa kecil korban direnggut paksa oleh ketiga bocah tersebut.
Dampak Fisik dan Psikologis yang Mendalam
Selepas kejadian itu, korban berlari pulang sambil menangis tersedu-sedu dan mengadu kepada sang ibu, A (50). Pada awalnya, sang ibu sempat meremehkan laporan itu, mengira putrinya hanya bergurau mengingat para terduga pelaku juga masih anak-anak. "Ah, anak kecil masa begituan," ucap I menirukan respons istrinya kala itu.
Namun, sikap tak percaya itu seketika berubah menjadi kepanikan luar biasa beberapa hari kemudian. Menjelang hari Senin, tubuh korban mendadak demam tinggi dan meriang hebat. Fisik bocah itu tumbang, bukan hanya karena sakit, melainkan dihantam syok dan trauma mendalam. Keluarga yang akhirnya menyadari ada hal tak wajar, segera membawa korban ke bidan desa. Penanganan bergulir cepat, dari bidan dilanjutkan ke Puskesmas, hingga akhirnya pihak keluarga melaporkan kasus ini ke Polsek setempat.
Puncaknya, pada Senin (22/6/2026), dengan dikawal langsung oleh jajaran Polsek, keluarga resmi membawa kasus ini untuk mencari keadilan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Sukabumi.
Perjuangan Ayah Mencari Keadilan
Saat ditemui di Mapolres Sukabumi, tatapan I tampak nanar, penuh kesedihan. Demi menjaga psikologis anaknya, ia sengaja menahan diri untuk tidak mengorek detail kejadian secara langsung. I menyebut, meski dari luar korban sesekali masih berusaha tampak ceria, anaknya akan langsung menarik diri saat disinggung soal hari nahas tersebut.
"Kalau masuk ke hal itu lagi (membahas kejadian), lebih baik diam saja. Perasaan saya hancur. Namanya sama anak sendiri, mau bagaimana lagi karena sudah terkena musibah begini," ungkap I dengan suara bergetar, menggambarkan kepedihan hatinya.
Kabar pilu ini rupanya telah menyebar cepat ke telinga warga hingga ke lingkungan sekolah. Khawatir korban mendapat perlakuan perundungan (bullying), keluarga terpaksa mengambil keputusan pahit dengan memberhentikan sementara sekolahnya. Sebuah keputusan berat demi melindungi mental sang putri.
I bersikukuh meminta proses hukum tetap ditegakkan, meskipun para pelaku dilindungi oleh Undang-undang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) karena masih di bawah umur. "Harapan saya ingin ditangani sampai tuntas, supaya anak-anak ini ada efek jera. Kalau tidak ditangani, tidak ada efek jeranya," tegas I, menyerukan keadilan.
Sebagai seorang ayah, I hanya ingin melihat anaknya kembali tersenyum. Ia sangat berharap pemerintah daerah turun tangan memberikan pendampingan psikologis berkelanjutan bagi putrinya. Ia tak ingin pendidikan sang putri ikut terkubur oleh trauma. "Jangan sampai pendidikannya terputus, langkah anak saya ini masih jauh," pungkas I lirih, menatap jendela Ruang Pemeriksaan Khusus Anak dan Perempuan di PPA Polres Sukabumi.
Tindakan Polisi Mengusut Kasus
Pihak kepolisian tidak tinggal diam. Kasat Reskrim Polres Sukabumi, Iptu Dudi, mengonfirmasi bahwa laporan resmi dari keluarga korban telah diterima Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Sukabumi pada Senin (22/6/2026). "Kami telah menerima laporan polisi, melakukan pemeriksaan terhadap korban dan pelapor," kata Iptu Dudi dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).
Polisi bergerak cepat dengan memfasilitasi visum terhadap korban di RSUD Palabuhanratu, serta menyita sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian. "Saat ini kami juga telah mengamankan barang bukti berupa pakaian yang dikenakan korban saat kejadian," tambah Dudi. Tiga bocah yang merupakan teman sebaya korban kini tengah dibidik polisi dalam penyelidikan kasus dugaan rudapaksa yang memilukan ini.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar