Gawat! Kurangnya Sosok Ayah Bisa Pengaruhi Identitas Anak

Sorajabar.com - Isu 'fatherless' atau ketiadaan peran ayah dalam pengasuhan anak kini semakin menjadi sorotan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru-baru ini mengemukakan pandangannya, menyebut fenomena ini sebagai salah satu pemicu potensi penyimpangan perilaku, termasuk dalam konteks orientasi seksual. Kondisi 'fatherless' sendiri merujuk pada situasi ketika seorang anak tumbuh tanpa kehadiran atau kedekatan emosional yang memadai dari sosok ayah, padahal figur ayah memiliki peranan krusial dalam membentuk karakter dan identitas anak.

Siti Ma'rifah, Ketua Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) MUI, menjelaskan bahwa ketidakseimbangan pola asuh di dalam keluarga, khususnya absennya figur ayah, dapat menciptakan celah bagi munculnya penyimpangan perilaku. Sebuah keluarga idealnya memiliki keseimbangan peran antara ibu dan ayah, di mana keduanya saling melengkapi dalam memberikan teladan dan bimbingan.

Ketika seorang anak, terutama anak laki-laki, tumbuh tanpa sosok ayah yang menjadi panutan, ia berpotensi kehilangan arah dalam memahami identitas dirinya. Proses tumbuh kembang menjadi periode krusial di mana anak membentuk pandangan tentang dunia, diri sendiri, dan juga peran gendernya. Ketiadaan figur ayah dapat menyebabkan kebingungan peran gender, terutama bagi anak laki-laki yang mungkin lebih banyak berinteraksi dengan ibu tanpa adanya penyeimbang dari figur ayah.

“Banyak juga LGBT disebabkan tidak hanya berkaitan dengan orientasi seksual, tapi lebih banyak juga karena adanya fatherless, di mana figur ayah tidak ada. Sehingga kemudian kecenderungan untuk orientasi seksual ini tidak sebagaimana mestinya,” jelas Siti Ma'rifah, seperti dikutip MUI Digital. Pernyataan ini menegaskan urgensi peran ayah yang seringkali diremehkan atau bahkan diabaikan.

MUI secara tegas mengingatkan bahwa tanggung jawab mendidik dan membentuk karakter anak tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada ibu. Ayah memiliki peran yang sama fundamentalnya dalam membangun mental, karakter, dan juga menentukan arah hidup anak melalui interaksi, bimbingan, dan keteladanan yang konsisten. Keterlibatan aktif ayah dapat memberikan perspektif yang berbeda dan melengkapi pola asuh yang diberikan ibu, menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang lebih seimbang dan sehat secara psikologis.

Selain fenomena 'fatherless', persoalan keluarga lainnya seperti tekanan ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga disebut sebagai faktor krusial yang dapat memengaruhi kondisi psikologis anak secara signifikan. Lingkungan keluarga yang penuh tekanan dan konflik cenderung menciptakan trauma yang berkepanjangan pada anak, yang pada gilirannya bisa bermanifestasi dalam berbagai bentuk penyimpangan perilaku di kemudian hari.

Dari sudut pandang kesehatan, perilaku seksual berisiko yang muncul akibat kebingungan identitas atau faktor psikologis lainnya dapat meningkatkan risiko penularan infeksi menular seksual (IMS) dan HIV, khususnya pada kelompok tertentu. Secara psikologis, berbagai penelitian juga menunjukkan korelasi antara masalah identitas dan ketidakseimbangan psikologis dengan tingkat depresi, kecemasan, penyalahgunaan zat, hingga risiko bunuh diri yang lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa masalah 'fatherless' bukan hanya tentang peran keluarga, tetapi juga memiliki dampak luas pada kesehatan publik dan kesejahteraan mental individu.

Strategi Pencegahan dan Pembinaan Efektif

Mengingat kompleksitas masalah ini, MUI menggarisbawahi beberapa upaya pencegahan dan pembinaan yang dapat dilakukan:

  • Penguatan Nilai Agama dan Moral: Menanamkan nilai-nilai luhur agama dan moral sejak dini di lingkungan keluarga adalah fondasi utama untuk membentuk karakter anak yang kokoh.
  • Edukasi Fungsi Reproduksi dan Seksual Sehat: Memberikan pemahaman yang akurat dan komprehensif tentang fungsi reproduksi dan pendidikan seksual yang sehat, sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya.
  • Pendampingan Psikologis dan Spiritual: Menyediakan akses dan dukungan berupa pendampingan dari psikolog profesional serta bimbingan spiritual dari tokoh agama untuk anak-anak yang menunjukkan tanda-tanda kebingungan identitas.
  • Layanan Konseling: Memastikan ketersediaan layanan konseling bagi anak dan keluarga agar mendapatkan arahan yang tepat sejak dini dalam menghadapi berbagai tantangan tumbuh kembang.
  • Keterlibatan Aktif Ayah: MUI mengajak para orang tua, khususnya ayah, untuk lebih aktif dan terlibat langsung dalam proses pengasuhan. Kehadiran ayah yang suportif dan membimbing akan memastikan anak tumbuh dengan dukungan yang seimbang dan memiliki arah hidup yang jelas.

Merangkul, Bukan Menghukum: Peran Garda Terdepan Keluarga

Selain menyoroti peran ayah, Siti Ma'rifah juga menekankan pentingnya pendekatan yang humanis dalam menghadapi individu yang teridentifikasi dalam kelompok LGBT. Ia mengimbau agar keluarga menjadi garda terdepan dalam pembinaan dengan mengedepankan pendekatan dialog dan kasih sayang, bukan kekerasan.

“Harus dirangkul ya, jadi sebetulnya saya lebih cenderung tidak menghukum secara fisik. Artinya, yang tidak memengaruhi yang lainnya. Jadi ini harus dibina bahwa ini harus dilakukan pembimbingan agar orientasinya itu sesuai dengan fitrahnya,” tegas Siti. Pendekatan ini menunjukkan bahwa MUI mengutamakan pembinaan dan pengembalian fitrah melalui cara-cara yang edukatif dan persuasif.

Keluarga adalah benteng pertama dan utama. Kepekaan orang tua sangat dibutuhkan untuk mengenali tanda-tanda awal pada anak. Jika orang tua merasa tidak mampu menangani sendiri, langkah berikutnya adalah melibatkan profesional seperti psikolog atau tokoh agama yang kompeten dalam memberikan bimbingan. “Kita semestinya sudah peka. Apabila sudah ada indikasi itu, segera rangkul. Kemudian kalau kita tidak mampu, harus dengan psikolog ataupun juga ahli agama yang membimbing,” lanjutnya.

Tindakan Tegas untuk Gerakan Terorganisir

Namun, MUI juga membuat distingsi yang jelas antara individu dan gerakan terorganisir. Untuk kasus yang melibatkan kelompok atau komunitas yang secara aktif mengampanyekan atau menyebarkan perilaku menyimpang, MUI mendukung langkah tegas dari aparat penegak hukum. Menurut Siti Ma'rifah, aktivitas yang terorganisir memiliki potensi besar untuk memengaruhi masyarakat secara luas dan dapat menimbulkan keresahan.

“Kalau sudah kemudian menjadi sebuah gerakan, ini persoalannya berbeda lagi. Karena itu beberapa waktu lalu (aparat) melakukan tindakan, karena itu sudah dalam tahap membuat satu komunitas yang meresahkan masyarakat,” pungkasnya. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada pendekatan kasih sayang untuk individu, ada batasan yang jelas ketika sebuah gerakan mulai mengganggu tatanan sosial dan moral masyarakat.

Fenomena 'fatherless' dan dampaknya terhadap perkembangan identitas anak adalah masalah kompleks yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak, terutama keluarga. Dengan peran aktif ayah, dukungan keluarga yang kuat, serta bimbingan yang tepat, kita dapat bersama-sama menciptakan generasi yang memiliki identitas diri yang kokoh dan sejalan dengan nilai-nilai luhur.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Gawat! Kurangnya Sosok Ayah Bisa Pengaruhi Identitas Anak
  • Gawat! Kurangnya Sosok Ayah Bisa Pengaruhi Identitas Anak
  • Gawat! Kurangnya Sosok Ayah Bisa Pengaruhi Identitas Anak
  • Gawat! Kurangnya Sosok Ayah Bisa Pengaruhi Identitas Anak
  • Gawat! Kurangnya Sosok Ayah Bisa Pengaruhi Identitas Anak
  • Gawat! Kurangnya Sosok Ayah Bisa Pengaruhi Identitas Anak

Posting Komentar