Bubur Sura Plumbon: Kisah Abadi Penjaga Tradisi Leluhur
Sorajabar.com - Di tengah hiruk pikuk modernisasi, sebuah tradisi kuno terus hidup dan berdenyut di Desa Plumbon, Kecamatan Indramayu. Setiap tahun, saat bulan Muharam tiba, aroma rempah dan beras yang dimasak perlahan membumbung, mengundang warga untuk berkumpul, berbagi cerita, dan melestarikan sebuah warisan tak ternilai: Bubur Sura.
Lebih dari Sekadar Sajian, Ini adalah Kisah
Pemandangan yang tersaji di salah satu sudut rumah warga pada hari-hari awal Muharam adalah gambaran kehidupan yang otentik. Para perempuan sepuh, dengan kerutan di wajah yang menyimpan segudang pengalaman, duduk melingkar, tangan mereka cekatan membungkus bubur hangat ke dalam wadah-wadah kecil. Mereka adalah penjaga tradisi, pahlawan tanpa tanda jasa yang memastikan api warisan leluhur tetap menyala.
Sareh, seorang sesepuh berusia 70 tahun, adalah salah satu di antara mereka. Sejak kecil, ia telah terlibat dalam ritual ini, bermula dari membantu nenek, lalu ibu, hingga kini ia masih setia hadir. Bagi Sareh, Bubur Sura bukan hanya makanan musiman; ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Ia mengenang masa kecilnya ketika hampir setiap rumah di kampung memiliki kuali sendiri, memenuhi udara dengan asap dan tawa anak-anak yang berlarian membawa wadah untuk bertukar bubur.
Kini, cara pelaksanaannya mungkin sedikit berubah. Tradisi yang dahulu tersebar di setiap rumah kini lebih sering dilakukan secara bersama-sama. Ini bukan tanda pudarnya makna, melainkan sebuah ikhtiar kolektif untuk memastikan kebiasaan luhur ini tetap lestari di tengah perubahan zaman yang tak terelakkan.
Simbol Kebersamaan dalam Setiap Sendoknya
Keunikan Bubur Sura Desa Plumbon terletak pada prinsip kesederhanaan dan gotong royong. Tak ada resep baku atau ukuran pasti. Beras, jagung, waluh, labu, dan aneka bahan pangan lain yang tersedia di rumah warga dikumpulkan, lalu dimasak bersama dalam satu kuali besar. Ketika matang, bubur disajikan dengan pelengkap seperti ayam suwir, telur dadar, dan kuah rempah yang kaya rasa, menciptakan harmoni cita rasa yang khas.
Setiap bahan yang menyatu dalam Bubur Sura memiliki makna simbolis yang mendalam. Seperti halnya manusia yang terdiri dari berbagai unsur namun hidup dalam satu kesatuan, bubur ini mengajarkan tentang kebersamaan, toleransi, dan penyucian diri saat memasuki tahun baru. “Semua bahan dicampur jadi satu. Itu seperti manusia yang terdiri dari banyak bagian. Maknanya supaya hati kembali bersih saat memasuki tahun baru,” tutur Sareh, merangkum filosofi di balik sajian ini.
Tradisi ini lazim dilaksanakan pada rentang tanggal 1 Muharam hingga tanggal 10 di bulan tersebut, sebuah amanat yang diwariskan secara lisan dan masih dipegang teguh oleh para sesepuh desa hingga sekarang.
Masa Depan Tradisi di Tengah Arus Digital
Namun, di balik semangat menjaga warisan Budaya ini, tersimpan kegelisahan yang sulit disembunyikan. Jaingkem (73), yang juga turut membantu memasak, mengaku khawatir melihat semakin sedikitnya generasi muda yang terlibat. Ia mengamati bahwa anak-anak muda saat ini lebih akrab dengan dunia digital, seringkali jauh dari cerita-cerita tentang tradisi kampung halaman.
Kekhawatiran serupa juga dirasakan Sareh. Setiap tahun, ia datang, membantu memasak, membungkus, dan membagikan bubur sura. Namun, dalam benaknya selalu muncul pertanyaan: siapa yang akan melanjutkan semua ini ketika para penjaga tradisi sudah tak lagi sanggup berkumpul di sekitar kuali?
Menanggapi hal ini, Ketua RT 07 Desa Plumbon, Endrol, melihat tradisi Bubur Sura sebagai bagian penting dari identitas masyarakat yang wajib dijaga. Menurutnya, berbagai kepercayaan yang berkembang hanyalah salah satu lapisan. Yang jauh lebih penting adalah nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang terkandung di dalamnya. “Yang kami jaga sebenarnya bukan hanya buburnya, tetapi tradisinya. Ini cara kami menghormati Muharam sekaligus menghargai peninggalan orang tua dulu,” ujarnya.
Tahun ini, ratusan porsi bubur sura berhasil dimasak dan didoakan bersama sebagai bentuk rasa syukur dan harapan akan keberkahan di tahun yang baru. Menjelang siang, bungkusan-bungkusan bubur mulai tersusun rapi, siap dibagikan kepada warga.
Tawa para lansia masih terdengar di sela-sela pekerjaan mereka. Namun, di balik canda yang menghangatkan suasana, tersimpan harapan yang sama: agar tradisi ini tidak berhenti pada generasi mereka. Sebab bagi warga Desa Plumbon, Bubur Sura bukan hanya tentang makanan yang disantap setahun sekali. Ia adalah cerita tentang kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan ikhtiar menjaga identitas budaya agar tetap hidup.
Selama masih ada tangan yang mengaduk bubur di awal Muharam, selama masih ada orang yang bersedia berkumpul dan berbagi, tradisi itu akan terus menemukan jalannya untuk bertahan di tengah arus zaman yang terus bergerak.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar