Baleendah Darurat Sampah: Pedagang Teriak, Akses Jalan Tertutup!
Sorajabar.com - Pemandangan memprihatinkan kembali menyelimuti kawasan Pasar Baleendah, Kabupaten Bandung. Tumpukan sampah menggunung, menciptakan lautan limbah yang tak hanya menimbulkan bau busuk menyengat, tetapi juga secara nyata mengganggu aktivitas sehari-hari warga dan para pedagang. Kondisi ini seperti mimpi buruk yang terus berulang, menghadirkan ancaman kesehatan dan kenyamanan bagi siapa saja yang berinteraksi di sekitar pasar.
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa gunungan sampah meluas jauh dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Baleendah, bahkan hingga menutupi sebagian badan jalan. Akibatnya, akses masuk dan keluar pasar menjadi terhambat, terutama pada jam-jam sibuk. Mayoritas sampah yang menumpuk adalah sisa sayuran, buah-buahan, dan limbah organik lainnya yang dihasilkan dari aktivitas perdagangan di pasar, memperparah aroma tidak sedap yang dikeluhkan banyak orang.
Salah seorang pedagang, Kodari (50), mengungkapkan rasa frustrasinya. Ia menyebut, sampah di lokasi ini sempat diangkut ke TPA Sarimukti pada akhir April lalu. Namun, hanya dalam waktu sebulan, tumpukan kembali menggunung. “Satu bulan lebih kemarin sudah diangkut pas rame-rame sampah, nah sekarang belum. Iuran mah tetep jalan da kalau telat mah beres dagangan,” keluh Kodari, menyoroti ironi antara kewajiban membayar iuran dan minimnya layanan pengangkutan sampah.
Tidak hanya bau, masalah lain juga muncul. Kodari menceritakan, tumpukan sampah tersebut menjadi sarang belatung yang tak jarang masuk ke area kios pemotongan ayam miliknya. Ini tentu menjadi ancaman serius bagi kebersihan dan kualitas produk dagangan. Mirisnya, di dalam TPS sendiri sebenarnya terdapat fasilitas pengolahan sampah yang, menurut Kodari, hingga kini belum beroperasi secara optimal. “Iya, di dalam TPS itu ada alat untuk daur ulang sampah katanya. Tapi sampai saat ini juga belum berfungsi. Tadinya katanya buat pemilahan sampah organik,” ungkapnya.
Tumpukan Sampah Mengular, Akses Pasar Terancam Serius
Ketua Pengelola TPS Pasar Baleendah, Indra Sukoco, membenarkan kondisi darurat sampah ini. Ia mengungkapkan bahwa volume sampah yang menumpuk diperkirakan setara dengan enam truk tronton. Jika tidak segera diangkut, volume ini akan terus bertambah setiap harinya, memperparah keadaan. “Kondisinya sudah mau menutupi jalan. Diperkirakan volumenya setara sekitar enam truk tronton,” kata Indra, menggambarkan skala masalah yang dihadapi.
Dampak dari penumpukan ini sangat terasa oleh para pedagang dan pengunjung. Akses jalan yang sudah sempit semakin tercekik oleh gunungan sampah, menyulitkan mobilitas dan berdampak langsung pada kelancaran ekonomi di pasar. “Kalau kami sebagai pedagang ingin ada solusi yang konkret. Kalau pagi-pagi jalan sudah sempit, ditambah sampah yang menutupi hampir setengah jalan,” tambah Kodari, mewakili suara pedagang lain yang mendambakan penanganan serius dari pihak berwenang.
DLH Kabupaten Bandung Ungkap Akar Masalah: Konflik Internal dan Kebiasaan Warga
Menanggapi situasi ini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung, Ruli Hadiana, mengakui adanya penumpukan sampah di TPS Pasar Baleendah. Setelah melakukan pemantauan, Ruli menyebut bahwa salah satu akar masalahnya adalah belum optimalnya pengolahan sampah di pasar tersebut. Menurutnya, ada persoalan internal antara himpunan pedagang pasar dan pengelola TPS yang menyebabkan pengelolaan sampah belum berjalan maksimal.
“Sebenarnya keduanya memiliki niat baik. Namun ketika tempat pengolahan sampah ditutup sementara karena ada mesin biodigester, sampah akhirnya disimpan di luar,” jelas Ruli. Selain itu, Ruli juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan, bahkan ke sungai saat hujan. Ini menjadi masalah tambahan yang memperumit upaya pengelolaan sampah di Baleendah.
Ruli menyayangkan kondisi ini, mengingat sebelumnya pemerintah telah berupaya keras mengangkut sekitar 370 ton sampah dari Baleendah ke TPA Sarimukti. “Sayang sekali, karena sebelumnya kami sudah mengangkut sampai 370 ton sampah dari Baleendah ke Sarimukti,” tegasnya.
Mendorong Pengelolaan Sampah dari Hulu: Tanggung Jawab Bersama
Melihat kompleksitas masalah ini, Ruli Hadiana menekankan pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya, yaitu melalui pemilahan dan pengolahan di tingkat lingkungan. Meskipun penyediaan TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, Recycle) efektif untuk mengurangi sampah, ia menyebut itu adalah solusi jangka panjang. Yang paling krusial, menurut Ruli, adalah perubahan perilaku masyarakat.
“Yang paling penting, warga mulai memilah sampah dari rumah, kemudian diolah di tingkat RT, RW, hingga desa,” pungkas Ruli, menggarisbawahi peran aktif setiap individu dalam menjaga kebersihan lingkungan. Masalah sampah di Pasar Baleendah bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pengelola semata, melainkan panggilan bagi seluruh elemen masyarakat untuk bersinergi menciptakan solusi berkelanjutan.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar