Akulturasa ITB Hadirkan Pesta Kuliner Unik Berbalut Riset
Sorajabar.com - Bandung, kota kembang yang tak pernah kehabisan ide, kembali memukau dengan inovasi kulinernya. Akhir pekan lalu, Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi tuan rumah festival "Akulturasa ITB", sebuah acara yang jauh melampaui festival Kuliner biasa. Akulturasa menghadirkan perpaduan unik antara cita rasa tradisional, kreasi modern, dan yang paling menarik, Inovasi Pangan berbasis riset hasil karya mahasiswa ITB.
Berlangsung meriah pada Sabtu dan Minggu, 20-21 Juni 2026, Akulturasa ITB membuka gerbang kampusnya secara cuma-cuma bagi para pengunjung. Ratusan orang, didominasi keluarga, memadati area rumput yang disulap menjadi tempat piknik estetik dengan tikar dan meja-kursi kayu yang nyaman. Suasana semakin hidup dengan iringan panggung musik yang memanjakan telinga, menciptakan pengalaman bersantap yang santai dan berkesan.
Puluhan tenant kuliner yang hadir di Akulturasa ITB bukan sekadar penjaja makanan biasa. Setiap tenant telah melalui kurasi ketat, memastikan setiap sajian memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Pengunjung dimanjakan dengan beragam pilihan yang tak lazim ditemui di festival kuliner pada umumnya. Bayangkan mencicipi kelezatan es krim goreng dan es krim sandwich yang renyah di luar lembut di dalam, atau gurihnya daging brisket rumahan yang empuk.
Tidak hanya itu, ada juga pilihan menarik seperti kimchi keju yang unik, sandwich focaccia dengan isian premium, nasi kebuli yang kaya rempah, serta berbagai roti pastry dari jenama lokal Bandung yang siap memanjakan lidah. Pecinta minuman pun tak ketinggalan, dengan aneka kopi spesial dan matcha yang menyegarkan. Bagi yang peduli kesehatan, tersedia pula beragam makanan sehat yang tetap lezat dan inovatif. Akulturasa ITB benar-benar menjadi surga bagi para pencari kuliner eksotis dan berbeda.
Inovasi Pangan Mahasiswa ITB Menggebrak Dunia Kuliner
Daya tarik utama Akulturasa ITB terletak pada booth inovasi pangan mahasiswa. Di sinilah pengunjung diajak untuk melihat dan mencicipi langsung hasil riset dan eksperimen para calon ilmuwan pangan. Mahasiswa dari Mikrobiologi Sekolah Ilmu Teknologi Hayati (SITH) ITB angkatan 2022 memamerkan kreasi kuliner unik berbahan dasar fermentasi, yang dijamin akan membuka wawasan baru tentang potensi pangan.
- Tape Ubi Ungu: Inovasi ini mengubah singkong menjadi ubi ungu sebagai bahan dasar tape. Rufaida, salah satu mahasiswi, menjelaskan bahwa penggantian ini bukan tanpa alasan. Ubi ungu memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dan kandungan antioksidan yang lebih baik. Dengan menggunakan ragi tape yang sama dan fermentasi selama tiga hari, hasilnya adalah tape ubi ungu dengan cita rasa dan tekstur yang tak kalah menarik dari tape singkong tradisional.
- Jahe Susu Creamy: Minuman menyegarkan ini adalah perpaduan unik antara susu dan irisan jahe merah yang telah difermentasi. Rasanya serupa susu jahe, namun dengan sentuhan creamy yang lebih kaya dan segar, menawarkan sensasi baru bagi pecinta minuman herbal.
- Acar Jahe "Segari" dengan Pewarna Alami: Berbeda dari acar jahe pada umumnya yang sering menggunakan pewarna buatan, "Segari" memanfaatkan ekstrak bit untuk menghasilkan warna alami yang cantik. Proses fermentasinya juga diperkaya dengan bakteri lactobacillus untuk memastikan kualitas dan keamanan produk. Inovasi ini menunjukkan bagaimana riset dapat menghasilkan produk yang tidak hanya lezat tetapi juga sehat dan berkelanjutan.
Rufaida menambahkan bahwa produk-produk inovatif ini merupakan bagian dari output praktikum semester enam, di mana setiap tahun mahasiswa ditantang untuk menciptakan produk pangan yang selalu berbeda dan inovatif. Ini adalah bukti nyata komitmen ITB dalam mendorong riset yang relevan dan berdampak.
ITB Menjadi Jembatan Riset, Komunitas, dan Industri
Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB, Rikrik Kusmara, menjelaskan bahwa Akulturasa ITB adalah wujud nyata upaya kampus untuk menghadirkan hasil riset yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Menurutnya, salah satu misi utama ITB adalah menjadi kampus yang berdampak positif bagi sekitar.
"ITB memiliki beberapa bidang ilmu seperti SITH, Fakultas Teknologi Industri, Sekolah Farmasi, dan FSRD yang punya fokus penelitian dan inovasi di bidang makanan. Maka kami sepakat memunculkan itu sebagai isu keberdampakan ITB kepada masyarakat dan industri UKM," ujar Rikrik. Ia menekankan bahwa Akulturasa adalah festival kolaborasi, menyatukan perguruan tinggi, peneliti, mahasiswa, alumni, pelaku usaha, hingga masyarakat umum.
Festival ini bukan hanya ajang pameran, tetapi juga inkubator bibit-bibit baru pengembangan UMKM di Indonesia dan pendukung ketahanan pangan nasional. Keterlibatan alumni ITB yang kini sukses dengan usaha kuliner dan UMKM unik juga memperkaya festival ini, menunjukkan potensi besar yang lahir dari ekosistem kampus.
"Kampus jangan menjadi tempat yang steril, tetapi juga menjadi tempat kebudayaan. Kami ingin masyarakat datang, melihat, mencoba, dan mendapatkan inspirasi," tambah Rikrik, menegaskan visi ITB sebagai pusat inovasi dan interaksi sosial.
Selain kuliner, Akulturasa ITB juga menjadi wadah bagi aneka workshop kreatif, serta menghadirkan berbagai produk fesyen dan kecantikan ramah lingkungan, hingga kerajinan tangan menarik. Ini membuktikan bahwa Akulturasa adalah festival multidimensional yang merangkul berbagai aspek kreativitas dan inovasi.
Secara keseluruhan, Akulturasa ITB adalah perayaan inovasi, budaya, dan cita rasa. Festival ini berhasil menciptakan platform di mana riset ilmiah bertemu dengan selera publik, menghasilkan pengalaman yang tak terlupakan. Bagi Anda yang mencari inspirasi kuliner atau sekadar ingin menikmati suasana Bandung yang unik, Akulturasa ITB adalah contoh sempurna bagaimana sebuah kampus bisa menjadi pusat kehidupan dan inovasi.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar