Untung Besar Misto Pengepul Kulit Kurban di Bandung Barat
Sorajabar.com - Setiap perayaan Idul Adha, jutaan hewan kurban disembelih di seluruh penjuru Indonesia, termasuk di Jawa Barat. Namun, di balik semarak ibadah ini, tersembunyi sebuah potensi ekonomi yang kerap terabaikan: kulit hewan kurban. Di Desa Sariwangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, seorang pria bernama Misto telah meniti karir musiman sebagai pengepul kulit hewan kurban selama delapan tahun terakhir. Kisahnya bukan hanya tentang angka dan tonase, melainkan juga tentang bagaimana limbah kurban bisa menjadi berkah ekonomi bagi banyak pihak.
Pagi di lapak Misto selalu sibuk saat musim Idul Adha tiba. Mobil bak terbuka hilir mudik menurunkan tumpukan kulit sapi dan domba. Aroma khas darah dan kotoran yang masih menempel tak menjadi halangan bagi Misto dan pekerjanya. Dengan cekatan, setiap lembar kulit ditimbang dan dicatat. "Sudah delapan tahunan, alhamdulillah. Musiman sebetulnya, kalau hari-hari biasa sudah ada yang suplai. Ya lumayan buat panitia kurban, bisa dapat uang lebih," ungkap Misto, pria asal Majenang, Jawa Tengah, yang memilih menetap di Bandung Barat bersama istrinya.
Berapa Harga Kulit Sapi dan Domba Kurban di Tangan Pengepul?
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah berapa sebenarnya nilai ekonomi dari kulit hewan kurban ini. Misto menjelaskan bahwa harga kulit bervariasi tergantung jenis hewannya. Untuk kulit sapi, ia membeli dengan harga mulai dari Rp6 ribu hingga Rp7 ribu per kilogram. Harga ini ditentukan oleh jenis sapi, seperti Friesian Holstein (FH) dan Limousin yang dibeli sekitar Rp6 ribu/kg, sementara jenis Simental dihargai Rp7 ribu/kg.
Sementara itu, kulit domba memiliki skema harga yang berbeda, yaitu dibeli per lembar dengan harga Rp25 ribu. Meskipun terdengar murah dibandingkan dagingnya, penjualan kulit ini tetap menjadi pemasukan tambahan yang berarti bagi panitia kurban, membantu operasional atau disalurkan kembali untuk kepentingan umat. Misto tidak memberikan syarat khusus mengenai kondisi kulit; ia menerima semua, memastikan tidak ada kulit kurban yang terbuang sia-sia.
Omzet Fantastis Hingga Puluhan Ton dari Bisnis Kulit Kurban
Jangan salah sangka, meskipun harga per kilogram atau per lembar kulit terkesan kecil, akumulasi volume yang berhasil dikumpulkan Misto sangatlah fantastis. Setiap momen Idul Adha, Misto rata-rata bisa mengumpulkan antara 7 hingga 8 ton kulit sapi dan domba. Bayangkan saja, delapan ton! Itu adalah jumlah yang luar biasa, menunjukkan betapa besarnya potensi bisnis ini dalam skala regional.
Namun, bisnis musiman ini juga memiliki pasang surutnya. Misto mengenang tahun 2024 lalu sebagai periode terendah sepanjang perjalanannya, di mana ia hanya berhasil mengumpulkan sekitar 5 ton kulit. Fluktuasi ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari jumlah hewan kurban yang disembelih, kesadaran panitia kurban untuk menjual kulit, hingga kondisi pasar. Meskipun demikian, rata-rata angka 7-8 ton per musim tetap menjadi bukti kesuksesan Misto dalam mengelola bisnis yang unik ini.
Perjalanan Kulit Kurban: Dari Bandung Barat Menuju Sragen Menjadi Kerupuk Dorokdok
Lantas, ke mana perginya semua kulit sapi dan domba yang telah dikumpulkan Misto? Ternyata, kulit-kulit tersebut tidak hanya berhenti di Bandung Barat. Setelah terkumpul dalam jumlah besar, Misto akan mengangkutnya ke Sragen, Jawa Tengah. Di sana, sudah ada "bos" atau pabrik pengolahan yang menanti pasokan dari Misto. Mayoritas kulit ini diolah menjadi bahan baku kerupuk kulit, atau yang dalam bahasa Sunda dikenal dengan sebutan "dorokdok".
Proses ini menunjukkan rantai pasok yang menarik, di mana produk sampingan dari ibadah kurban dapat diolah menjadi produk makanan populer. Bisnis ini tidak hanya memberikan nilai ekonomi di tingkat pengepul lokal seperti Misto, tetapi juga mendukung industri kreatif kuliner di wilayah lain. Ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah komoditas, yang awalnya mungkin dianggap limbah, dapat diubah menjadi peluang usaha yang berkelanjutan dan saling menguntungkan antar daerah.
Kisah Misto dari Sariwangi, Bandung Barat, adalah cerminan dari geliat ekonomi rakyat yang tumbuh subur di sekitar perayaan besar seperti Idul Adha. Dedikasi dan ketekunannya selama delapan tahun membuktikan bahwa dengan melihat peluang, bahkan dari hal yang paling sederhana, rezeki bisa datang melimpah. Panitia kurban pun diuntungkan dengan adanya pengepul seperti Misto, yang siap menampung hasil sampingan kurban mereka.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar