Terminal Cicaheum Ditutup Total May 2026 Ini Fakta Dramatisnya

Sorajabar.com - Salah satu ikon Transportasi darat di Kota Bandung, Terminal Cicaheum, akan segera mengukir sejarah baru dalam perjalanannya. Terhitung mulai tanggal 26 Mei 2026, seluruh aktivitas angkutan kota antar provinsi (AKAP) dan angkutan kota dalam provinsi (AKDP) di terminal ini secara resmi akan dialihkan ke Terminal Leuwipanjang. Keputusan ini menandai berakhirnya era Terminal Cicaheum sebagai pusat pergerakan menuju wilayah timur Pulau Jawa seperti Yogyakarta, Solo, hingga Surabaya.

Peralihan ini bukanlah sekadar perubahan lokasi, melainkan bagian dari rencana besar pemerintah untuk mengalihfungsikan Terminal Cicaheum menjadi depo Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya. Proyek BRT ini diharapkan mampu menjadi solusi kemacetan di Kota Bandung sekaligus meningkatkan efisiensi transportasi publik bagi masyarakat Jawa Barat.

Masa Depan Transportasi Bandung: Dari Cicaheum ke BRT

Peran Terminal Cicaheum selama puluhan tahun tak terbantahkan. Sebagai gerbang utama bagi ribuan penumpang yang hilir mudik setiap harinya, terminal ini telah menjadi saksi bisu berbagai kisah perjalanan. Namun, tuntutan modernisasi dan urgensi penataan sistem transportasi memaksa pemerintah mengambil langkah strategis ini. Rencana besar BRT Bandung Raya menjanjikan sistem transportasi massal yang terintegrasi dan ramah lingkungan, dengan Cicaheum sebagai salah satu fasilitas penunjang utamanya.

Kepala Terminal Cicaheum, Asep Supriyadi, menjelaskan bahwa proses sosialisasi dan pemberitahuan surat edaran kepada pengurus perusahaan otomotif (PO) telah dilakukan sejak beberapa waktu lalu. "Kami juga di sini terus-terusan bersosialisasi baik lewat pengeras suara untuk penumpang armada. Jadi per hari ini, seluruh armada AKAP maupun AKDP, pelayanannya sudah dialihkan ke Leuwipanjang," ujar Asep.

Meskipun demikian, Asep menambahkan bahwa PO masih diberi toleransi untuk melayani keberangkatan penumpang yang terlanjur memesan tiket secara daring dari Terminal Cicaheum. Namun, semua armada tetap diwajibkan untuk masuk ke Terminal Leuwipanjang terlebih dahulu. Kebijakan ini merupakan upaya transisi agar tidak ada penumpang yang telantar.

Pemerintah berharap penuh dukungan dari semua pihak terhadap program ini, mengingat Terminal Cicaheum akan menjadi depo vital bagi operasional BRT Bandung Raya. Diharapkan, dengan dialihkannya terminal ini ke Leuwipanjang, kemacetan di wilayah Bandung dapat berkurang secara signifikan dan tercipta sistem transportasi yang lebih tertata.

Pro Kontra di Balik Relokasi: Suara dari Lapangan

Di balik optimisme pemerintah, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kebijakan ini tidak sepenuhnya berjalan mulus. Sejumlah bus dilaporkan masih bertahan dan belum sepenuhnya beralih ke Terminal Leuwipanjang. Polemik utama terletak pada ketidakjelasan kompensasi bagi para pedagang yang selama ini menggantungkan hidupnya di Terminal Cicaheum. Safrudin, salah seorang petugas di bagian tiket, mengungkapkan keresahannya.

"Gini, mas. Di sini kan bukan hanya ada bus yah, ada pedagang juga. Nah pedagang itu belum dapet kejelasan soal kompensasinya. Makanya, kita mah belum mau pindah ke Leuwipanjang karena kebijakannya juga belum ada kejelasan," kata Safrudin. Kondisi ini membuat para pedagang dan beberapa operator bus enggan beranjak sebelum ada titik terang mengenai nasib mereka.

Selain masalah kompensasi, kekhawatiran juga muncul dari sisi operasional dan potensi kerugian bagi pengusaha bus. Yanto, seorang warga dan pengguna jasa transportasi, berpendapat bahwa pengalihan ke Terminal Leuwipanjang justru bisa menambah beban operasional. "Di Leuwipanjang juga sama, a, sepi. Penumpangnya sedikit. Toh lewatnya mah nanti ke sini-sini juga, kan malah nambah lagi buat biaya BBM-nya," keluh Yanto.

Yanto juga menggarisbawahi pentingnya sosialisasi yang matang sebelum sebuah kebijakan diterapkan. "Jadi kalau kata saya mah, kalau mau bikin kebijakan, sosialisasiin dulu yang matang. Jangan ujug-ujug malah bikin aturan semaunya aja," tegasnya, mencerminkan aspirasi banyak pihak yang merasa kurang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.

Menanti Solusi dan Harapan Baru

Proyek BRT Bandung Raya memang menjanjikan masa depan transportasi yang lebih modern dan terintegrasi. Namun, kesuksesan implementasinya sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam mengelola dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan. Dialog yang konstruktif antara pemerintah, operator bus, pedagang, dan masyarakat menjadi kunci untuk menemukan solusi terbaik.

Dengan Terminal Cicaheum yang akan bertransformasi, Kota Bandung bersiap menyambut era baru dalam sistem transportasinya. Tantangan yang ada adalah bagaimana memastikan transisi ini berjalan adil, transparan, dan memberikan manfaat maksimal bagi semua pihak, bukan hanya sekadar memindahkan masalah dari satu titik ke titik lain.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Terminal Cicaheum Ditutup Total May 2026 Ini Fakta Dramatisnya
  • Terminal Cicaheum Ditutup Total May 2026 Ini Fakta Dramatisnya
  • Terminal Cicaheum Ditutup Total May 2026 Ini Fakta Dramatisnya
  • Terminal Cicaheum Ditutup Total May 2026 Ini Fakta Dramatisnya
  • Terminal Cicaheum Ditutup Total May 2026 Ini Fakta Dramatisnya
  • Terminal Cicaheum Ditutup Total May 2026 Ini Fakta Dramatisnya

Posting Komentar