Rahasia Pemulung Pangandaran Kumpulkan Emas dan Jutaan Rupiah
Sorajabar.com - Bau menyengat, tumpukan sampah, dan lalat yang beterbangan mungkin menjadi pemandangan yang biasa di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Purbahayu, Pangandaran. Namun, di antara semua itu, ada sosok Turasma (75) yang tetap bersemangat memilah setiap botol plastik, mencari rezeki di tempat yang seringkali dipandang sebelah mata.
Sejak era tahun 2000-an, Turasma telah menjadikan TPA Purbahayu sebagai "kantor" sekaligus rumahnya. Hampir seperempat abad ia mengabdikan diri sebagai Pemulung, mengikuti perpindahan TPA dari Wonoharjo hingga kini menetap di Purbahayu. Dedikasinya sungguh luar biasa, membuktikan bahwa semangat tak mengenal usia dan tempat.
Harta Karun Tersembunyi di Balik Tumpukan Sampah
Siapa sangka, di tengah tumpukan sampah yang tak berharga, Turasma seringkali menemukan "harta karun" yang tak terduga. Ia mengaku telah berulang kali menemukan perhiasan emas, mulai dari kalung, cincin, hingga emas batangan seberat 5 gram. Bahkan, jika diakumulasikan, total emas yang ia temukan selama puluhan tahun bekerja di TPA ini bisa mencapai hitungan kilogram!
Kisah penemuan emas ini tentu mengejutkan banyak orang, namun bagi Turasma, itu adalah bagian dari rezeki tak terduga yang ia syukuri. Ini membuktikan bahwa di setiap sudut kehidupan, bahkan di tempat yang paling tidak terduga sekalipun, selalu ada potensi keberuntungan bagi mereka yang mau berusaha.
Omzet Puluhan Juta dari Botol Plastik dan Pemberdayaan Komunitas
Tidak hanya emas, penghasilan utama Turasma datang dari hasil memilah sampah buangan lainnya, terutama botol plastik, kardus, dan perabot yang masih layak pakai. Dalam satu bulan, Turasma mampu mengumpulkan puluhan ton botol plastik. Dengan harga jual Rp 1.500 per kilogram, ia memperkirakan pendapatannya bisa mencapai Rp 40 juta setiap bulannya! Sebuah angka yang fantastis dari profesi pemulung.
Namun, Turasma bukanlah individu yang menikmati kekayaan itu sendirian. Ia menerapkan sistem pemberdayaan bagi warga sekitar yang membantunya. Beberapa pekerja, baik yang masih produktif maupun yang sudah lanjut usia, dapat mengantongi penghasilan antara Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta per orang setiap bulannya, tergantung dari hasil kerja mereka. "Kan ada yang jual mandiri ada juga yang kelompok," ujarnya. Selain itu, pendapatan tambahan juga kerap diperoleh dari uang sawer sukarela para pengunjung yang datang ke TPA.
Filosofi Hidup di Balik Tumpukan Sampah
Meski bekerja di tengah kotoran dan bau tak sedap, Turasma tak pernah merasa malu. Ia justru bangga dengan pekerjaannya yang halal dan berkah. "Buat apa malu, mendingan cari uang dari sampah dan berkah halal meski kotor-kotoran. Daripada cari uang dengan cara kotor," ucapnya penuh filosofi. Kata-katanya mencerminkan integritas dan semangat juang yang patut diacungi jempol.
Melalui profesi ini, Turasma telah berhasil membesarkan dan menghidupi keluarganya selama puluhan tahun. Ia menyadari betul risiko kesehatan seperti penyakit dan tetanus yang mengintai. Oleh karena itu, ia kini lebih waspada dengan selalu mengenakan sepatu bot saat bekerja. "Sekarang mah pakai sepatu bot karena bahaya juga, hati-hati. Bahkan setiap hari menghirup racun itu sudah risiko," katanya, menunjukkan kesadaran tinggi akan risiko pekerjaan namun tetap menjalaninya dengan penuh tanggung jawab.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar