Rahasia Pangkas Rambut Rp5 Ribu di Bogor Bertahan Empat Dekade
Sorajabar.com - Di tengah laju inflasi dan biaya hidup yang terus merangkak naik, sepasang kakak-beradik di Kota Bogor menunjukkan konsistensi yang luar biasa. Supri (56) dan Saiful (51) bukanlah anggota dewan yang sibuk dengan urusan politik. Mereka adalah penjaga tradisi Pangkas Rambut Pemuda, sebuah tempat sederhana yang menawarkan potongan rambut berkualitas dengan harga yang tak berubah selama hampir empat dekade: hanya Rp5 ribu per kepala.
Kisah mereka berawal dari gang sempit di samping gedung DPRD Kota Bogor, sebuah lokasi yang ironis mengingat pelayanan tulus yang mereka berikan kepada 'rakyat kecil'. Dengan gunting, sisir, dan kursi seadanya, kedua bersaudara asal Muntilan, Magelang ini, telah membuat ribuan orang pulang dengan senyum tanpa harus menguras kantong.
Melacak Jejak Konsistensi Sejak 1988
Supri, atau yang akrab disapa Lord Supri oleh para pelanggannya, memulai perjalanan merantaunya ke Kota Hujan pada tahun 1988. Kala itu, ia beradu nasib di area yang kini menjadi Stasiun Bogor, mematok tarif Rp500 saat harga beras masih jauh di bawah seribu rupiah. "Waktu itu tarifnya Rp500 pas beras biasa harga Rp200 perak dan beras premium Rp400 perak," kenang Supri.
Namun, satu tahun kemudian ia harus pindah karena pembangunan stasiun. Setelah berpindah-pindah lokasi, ia akhirnya menetap di Jalan Pemuda, tepat di samping gedung wakil rakyat. Menjelang krisis 1998, tarif sempat naik perlahan menjadi Rp2 ribu hingga Rp4 ribu. Memasuki awal tahun 2000-an, sang adik, Saiful (Ipul), bergabung dan sejak saat itulah tarif Rp5 ribu ditetapkan dan tak pernah berubah hingga hari ini.
Gang Sempit Penuh Kehangatan dan Keunikan
Pangkas Rambut Pemuda bukanlah barbershop 'kalcer kekinian'. Jangan harapkan aroma terapi, alunan musik jazz, pendingin ruangan, atau interior mewah. Tempat ini berada di sebuah gang sempit selebar 2,5 meter dengan atap asbes tua yang sebagian bolong. Lampu neon temaram menjadi penerang di lorong tersebut.
Dari mulut rumah tua yang kusam, lagu-lagu Iwan Fals, Ebiet G. Ade, atau Broery Marantika silih berganti diputar, mengiringi suara gunting dan mesin cukur. Poster besar hitam putih Soeharto bertopi bintang satu terpampang di dinding, menambah kesan klasik dan unik. "Kalau bocor semuanya berdiri nutupin bocor dan kami sudah siap sepatu boot," kelakar Supri.
Meski tempatnya terbatas dan sederhana, justru di sinilah kehangatan dan obrolan ngalor-ngidul tercipta, menghadirkan kemeriahan yang sulit ditemukan di tempat pangkas rambut mahal. Rimbun pohon kenari di Jalan Pemuda membuat angin sore menyusup, menyegarkan para pelanggan yang duduk menunggu giliran. Tidak ada nomor antrean; semua berjalan berdasarkan kesadaran siapa yang datang lebih dulu.
Saat ditanya berapa total pelanggan harian, Supri hanya terkekeh. "Ngeri... pokoknya ngeri-lah," katanya disambut tawa Ipul. Mereka buka dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, namun antrean tak pernah benar-benar berhenti. Anak-anak, pelajar, pemuda, hingga paruh baya silih berganti duduk di kursi cukur. "Yang stres itu bukan orangnya, tapi mesinnya," gurau Supri.
Walaupun tanpa poster model rambut modern, Supri dan Ipul siap mengeksekusi berbagai gaya rambut. Cukup tunjukkan contoh dari telepon genggam, dan mereka akan mengerjakannya dengan cekatan.
Bukan Sekadar Harga Murah, Tapi Kepercayaan
Pelanggan Pangkas Rambut Pemuda tak hanya datang dari sekitar Jalan Pemuda. Friska (33), warga Balumbang Jaya, rela menempuh perjalanan cukup jauh bersama dua anaknya. "Karena murah, terjangkau. Anak juga banyak. Terus sudah cocok di sini," ujarnya. Friska telah menjadi pelanggan setia selama sembilan tahun. Baginya, antrean panjang justru menambah keseruan, "dinikmati saja."
Cerita senada datang dari Putra (29), yang mencukur rambut di sana sejak SMA tahun 2014. Kecepatan tangan Supri dan Saiful menjadi daya tarik utama. "Paling lima menit juga beres," kata Putra, sembari menambahkan bahwa ia bisa memilih model rambut apa saja dengan harga tetap Rp5 ribu.
Heni (38) bahkan datang dari Ciluar, padahal banyak jasa pangkas rambut di dekat rumahnya. "Kalau di sana sekitar Rp12 ribu. Di sini Rp5 ribu per kepala," ungkapnya, menunjukkan betapa selisih harga sangat berarti bagi pengeluaran rumah tangga.
Lantas, apakah anggota dewan juga turut mencukur di sini? "Ah, kalau itu jangan ditanya. Ngeri pokoknya," seloroh Supri. "Tahu sama tahu aja," imbuhnya, disambut tawa Ipul. Sebuah rahasia umum yang menunjukkan daya tarik tempat ini melintasi batas sosial.
Filosofi Berbagi dan Komitmen yang Menguatkan
Apa yang membuat kakak-beradik ini bertahan dengan tarif Rp5 ribu di tengah himpitan kebutuhan hidup?
"Sudah males dengan gaya hidup. Apa yang didapat itu yang disyukuri," jawab Supri dengan sederhana.
Namun, Ipul memiliki pengalaman yang lebih dalam dan menguatkan komitmen mereka untuk tidak menaikkan harga. Suatu hari, seorang satpam datang mencukur rambut dengan uang Rp25 ribu dari atasannya. Ipul iseng mengatakan biayanya Rp25 ribu. Usai mencukur, Ipul berkata bahwa dari Rp25 ribu itu sebenarnya ada 'subsidi' Rp20 ribu. Respon satpam itu membuat Ipul terdiam:
"Dia langsung bilang, 'Alhamdulillah ada sisa buat beli beras di rumah'."
Kalimat sederhana itu mengukir dalam benak Ipul, mengingatkan bahwa ongkos cukur bisa sangat menentukan ada atau tidaknya beras di meja makan seseorang malam itu. Sebuah pelajaran tentang empati yang tak ternilai harganya.
Di tengah kota yang bergerak cepat dan makin mahal, Pangkas Rambut Pemuda menjadi sebuah anomali. Ia adalah ruang kecil yang menjaga hal-hal sederhana: tempat di mana orang bisa mendapatkan layanan layak tanpa khawatir dompet terkuras, dan di mana rasa saling berbagi masih dipertahankan. "Seganas-ganasnya harimau, tapi kalau dapat tangkapan berburu dia masih berbagi. Masa kita manusia tidak mau berbagi?" Supri tersenyum menutup obrolan sore itu, meninggalkan pesan yang mendalam.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar