Ombak Dunia Cimaja Kisah Sukabumi Mendunia Lewat Seni Selancar
Sorajabar.com - Pantai Cimaja di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, telah lama dikenal sebagai magnet bagi para peselancar dunia. Hamparan kerikil hitam legam yang bergemericik dihempas ombak besar menjadi pemandangan ikonik yang tak terlupakan. Namun, di balik keganasan ombak 'right-hander' kelas dunia yang konsisten mencapai lima meter itu, tersembunyi sebuah kisah inspiratif tentang kreativitas lokal yang berhasil menembus batas negara. Ini adalah cerita tentang Ade Rabig, seorang maestro kerajinan yang menyulap komponen Selancar menjadi karya seni bercorak Batik khas Nusantara.
Mengintip Jantung Kreativitas di Balik Ombak Cimaja yang Legendaris
Sejak dekade 1970-an, deru ombak Cimaja yang menantang telah memikat ratusan peselancar mancanegara untuk datang, bahkan menetap, di pesisir selatan Jawa Barat ini. Sebuah mural usang bertuliskan "Cimaja is The Best" di dinding pembatas pantai seolah menjadi penegasan akan reputasinya di mata para penggila olahraga ekstrem. Namun, untuk menemukan denyut nadi kreasi lokal yang menyokong para peselancar dunia tersebut, kita harus sedikit menyusuri jalan raya Cisolok.
Tepat sebelum melintasi jembatan rangka besi, mata akan dimanjakan dengan pemandangan unik: plang penunjuk arah yang menyerupai replika sirip papan selancar raksasa. Dengan guratan cat putih bertuliskan "CV BATIK FINS - CUSTOMMADE HANDMADE FINS", plang ini menjadi gerbang menuju episentrum inovasi. Mengikuti petunjuk itu, aroma menyengat cairan kimia resin langsung menyapa begitu menginjakkan kaki di teras setengah terbuka bengkel milik Ade Rabig.
Suasana siang itu begitu hidup. Dua warga negara asing bertubuh kekar dengan boardshorts khas peselancar tampak antusias memantau pengerjaan sirip pesanan mereka. Pemandangan paling mencolok adalah seutas tali jemuran di bawah atap asbes, bukan pakaian yang tergantung, melainkan belasan sirip selancar bertekstur kayu eksotis yang dilapisi kain batik, dibiarkan mengering sempurna di bawah hangatnya mentari Sukabumi.
Dari Penambang Hingga Maestro Sirip Selancar Batik
Di tengah keriuhan itu, R. Ilham Santosa (53), atau lebih akrab disapa Ade Rabig, tampak teliti membentuk kelengkungan sebuah sirip dengan mesin ampelas. Di tangannya, sirip papan selancar yang biasanya polos disulap menjadi media seni tinggi. Perjalanan Ade Rabig di dunia selancar tidaklah instan. Jauh sebelum jemarinya akrab dengan serat kaca atau fiberglass, Ade adalah perantau keras di pedalaman Kalimantan, bekerja di industri pertambangan mineral batu mangan.
Skenario hidupnya berubah drastis saat ia memutuskan pulang ke Sukabumi pada tahun 1995, menikah dengan sang istri, Rinda Ayu, dan menetap di kawasan pesisir Cisolok. Berdampingan langsung dengan surf break legendaris yang saban hari dipadati turis asing, Ade melihat ada kebutuhan krusial. Para peselancar mancanegara kerap kesulitan mencari komponen sirip papan selancar yang rusak atau patah akibat benturan karang.
"Tahun 1995 sampai 1996 itu, banyak bule yang main papan selancar tanpa sirip di sini karena logistiknya susah kalau patah," kenang Ade Rabig. Berawal dari kebaikan Mister Nick, seorang peselancar asal Australia yang memberinya sebuah papan selancar, Ade mulai bereksperimen. Ia mencoba membuat sirip menggunakan kayu, bahkan pipa paralon yang ditekuk dengan api agar kuat.
Sirip hasil modifikasi "paralon bakar" itu perlahan menarik perhatian. Atas saran seorang pemuka warga yang biasa menjual bahan kimia, Ade diarahkan untuk mempelajari karakteristik resin cair, bahan dasar utama yang jauh lebih kuat, presisi, dan fleksibel untuk menahan hantaman ombak besar.
Kisah Kain Lap Usang yang Melahirkan Seni Mendunia
Memasuki tahun 1998, eksperimen Ade Rabig mencapai babak baru yang tak terduga. Di tengah keterbatasan ruang kerja, sebuah keajaiban estetika justru lahir dari ketidaksengajaan. Saat sibuk mencetak resin cair di atas lembaran serat kaca, Ade secara spontan mengambil selembar kain samping (sarung) batik bekas milik anak-anaknya yang sudah usang dan robek. Kain itu awalnya hanya diniatkan sebagai kain lap biasa untuk membersihkan sisa cairan resin yang meluber di meja kerja.
"Kain batik itu nempel di cetakan dan saya biarkan saja sampai resinnya mengering. Begitu cetakan dibuka dan saya lihat hasilnya, ternyata motif batiknya menempel sempurna di dalam resin dengan sangat indah," ungkap Ade. Dari ketidaksengajaan itulah awal mula ia fokus menciptakan sirip bermotif batik. Hasilnya memang mengagumkan: sirip selancar tersebut menampilkan kilau transparan fiberglass yang membungkus serat kayu kelapa yang anggun, dipercantik dengan potongan kain batik bercorak parang atau megamendung di bagian dasarnya, lengkap dengan logo khas bertuliskan "Batik Fins Cimaja". Sebuah perpaduan apik antara fungsionalitas olahraga ekstrem budaya Barat dengan keelokan seni budaya Nusantara.
Batik Fins Cimaja: Merek Lokal yang Mendunia dari Sukabumi
Meskipun seluruh proses produksi dilakukan di rumahnya di Desa Karangpapak, Ade secara sadar memilih nama "Batik Fins Cimaja". Ada alasan taktis dan naratif yang kuat dari kacamata seorang perajin. Bagi komunitas selancar internasional, nama 'Cimaja' adalah sebuah identitas global yang sangat kuat, jauh lebih dikenal daripada nama Kabupaten Sukabumi itu sendiri. Ade ingin setiap karyanya menjadi bukti autentik dan kenang-kenangan dari keganasan ombak Cimaja yang telah mereka taklukkan.
Kini, buah dari ketekunannya sejak tahun 1995 telah melanglang buana menembus batas negara. Sirip batik buatan tangan Ade telah dipakai oleh para peselancar di berbagai belahan dunia, mulai dari Australia, Jepang, Prancis, Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Pantai Gading, Maladewa, hingga Sri Lanka. Untuk pasar domestik, produknya konsisten dikirim ke sentra selancar papan atas seperti Bali, Lombok, Padang, hingga Medan.
Di usianya yang kini menginjak kepala lima, Ade Rabig mulai memikirkan keberlanjutan warisan seni pesisir ini. Dari kelima anaknya, anak keempatnya kini sudah mulai turun tangan langsung di workshop yang penuh debu resin ini, siap meneruskan tongkat estafet sebagai generasi penjaga kreasi lokal Sukabumi yang telah diakui dunia. Kisah Ade Rabig adalah bukti nyata bahwa inovasi, ketekunan, dan kebanggaan akan budaya lokal mampu menciptakan produk yang mendunia dari sudut kecil Jawa Barat.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar