Nahas! Pelajar Kuningan Dihajar Massa Saat Pakai Jersey Persib
Sorajabar.com - Sebuah insiden pengeroyokan brutal mengguncang warga Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Seorang pelajar berusia 15 tahun berinisial FN diduga menjadi korban kekerasan massal hanya karena mengenakan atribut sepak bola kebanggaan, jersey Persib Bandung. Peristiwa tragis yang terjadi pada Minggu (10/5) malam ini meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam bagi korban, sekaligus memicu kekhawatiran publik tentang toleransi dan keamanan di ruang publik.
Kronologi Pengeroyokan di Balik Jersey Persib
Menurut keterangan Arian, adik ipar korban, insiden bermula saat FN diminta oleh mertuanya untuk melakukan tugas sederhana: membeli bahan bakar minyak (BBM) dan sayuran. Sore itu, usai menunaikan salat magrib dan mengaji, FN bergegas menjalankan perintah tersebut dengan mengenakan baju Persib. Sebuah pilihan busana yang tak disangka akan berujung petaka.
Usai mengisi bensin di sebuah SPBU dan dalam perjalanan menuju toko sayur di Caracas, yang lokasinya tak jauh dari SPBU, FN tiba-tiba diserang. Sekelompok orang yang mengenakan pakaian serba hitam, tanpa atribut klub lain yang jelas, langsung memepetnya. Tanpa basa-basi, FN ditendang, dipukuli, dan diseret hingga ke sebuah ruko. Di sanalah pengeroyokan brutal berlanjut, menyisakan pemandangan mengerikan yang sempat terekam dan beredar di media sosial.
Dampak Fisik dan Psikologis yang Mendalam
Arian menjelaskan detail mengerikan luka yang diderita FN. "Adik saya pun tidak luput dipukul juga menggunakan alat-alat benda tumpul dan juga tangan kosong. Lukanya kaki kanan lebam dan juga bengkak, sikut sebelah kiri, lalu punggung. Di punggung itu lumayan agak parah karena kan dia posisinya tengkurap melindungi kepala dan jongkok gitu," tuturnya. Selain itu, sepeda motor milik FN juga tak luput dari sasaran amuk massa. Kendaraan tersebut rusak parah akibat dipukuli menggunakan batu, besi, dan benda berat lainnya. Korban harus segera dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Linggarjati untuk mendapatkan perawatan medis intensif.
Kejadian ini tidak hanya meninggalkan bekas luka fisik, namun juga trauma psikologis yang mungkin akan membekas lama bagi FN. Arian menegaskan bahwa saat kejadian, FN sendirian dan sama sekali tidak melakukan provokasi apa pun. Ia bahkan secara khusus menanyakan kepada FN apakah ada tindakan yang memancing amarah, namun jawaban polos FN mengindikasikan ketidaktahuannya akan alasan di balik serangan keji tersebut. "Aa, saya juga nggak tahu dipukuli karena apa," jawab FN dengan nada polos, menambah pilu cerita ini.
Tuntutan Keadilan dan Proses Hukum Berjalan
Melihat kondisi FN dan kerugian yang dialami, pihak keluarga tidak tinggal diam. Arian menyatakan bahwa sang ayah mertua, pada malam kejadian, langsung membuat laporan ke Polsek Cilimus. Laporan tersebut kemudian diakomodir dan dilanjutkan ke Polres Kabupaten Kuningan untuk ditindaklanjuti oleh Unit Reserse Kriminal. Keluarga berharap penuh agar aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas kasus ini, menangkap para pelaku, dan memberikan keadilan bagi FN.
Hingga Berita ini ditulis, upaya konfirmasi kepada Kapolsek Cilimus, Kasat Reskrim, maupun Humas Polres Kuningan masih belum membuahkan hasil. Pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait insiden pengeroyokan yang menimpa pelajar tersebut. Publik menantikan respons cepat dari pihak berwajib untuk memastikan keamanan warga, khususnya para remaja, agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kedewasaan dalam berinteraksi sosial, bahkan dalam konteks mendukung klub olahraga.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar