Miris! Lapangan Sepak Bola Cirebon Berubah Fungsi Jadi TPS
Sorajabar.com - Kabar mengejutkan datang dari Kabupaten Cirebon, khususnya Desa Prajawinangun Wetan, Kecamatan Kaliwedi. Sebuah fasilitas olahraga yang seharusnya menjadi kebanggaan dan sarana aktivitas positif warga, kini beralih fungsi menjadi pemandangan yang memprihatinkan: tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Transformasi tak terduga ini sontak memicu keresahan dan protes dari masyarakat setempat yang merasa dirugikan.
Lapangan Bola Berubah Wujud: Potret Ironi di Prajawinangun Wetan
Ironi itu terpampang jelas di Desa Prajawinangun Wetan. Lapangan sepak bola yang semestinya riuh dengan sorakan penonton dan derap kaki pemain, kini justru "dihuni" tumpukan karung-karung sampah rumah tangga. Kondisi ini bukan lagi pemandangan baru, melainkan telah berlangsung lebih dari dua bulan. Sumber masalahnya cukup pelik: pemerintah desa diduga belum memiliki lokasi TPS permanen yang memadai untuk menampung sampah warga, sehingga solusi "darurat" yang diambil justru mengorbankan fasilitas publik.
Situasi ini tentu saja mengundang kekecewaan mendalam dari berbagai kalangan. Lapangan hijau yang seharusnya menjadi tempat lahirnya bibit-bibit pesepak bola lokal dan ruang interaksi sosial, kini justru menimbulkan bau tak sedap dan kesan kumuh. Warga merasakan langsung dampaknya, mulai dari kenyamanan beraktivitas hingga potensi masalah kesehatan dan Lingkungan yang mengintai.
Dua Bulan Menanti Solusi: Keluhan Warga yang Tak Kunjung Reda
Selama lebih dari dua bulan, warga Desa Prajawinangun Wetan telah menyuarakan keresahan mereka. Tokoh masyarakat setempat, Ramita, dengan tegas menyayangkan keputusan penggunaan lapangan sepak bola sebagai lokasi pembuangan sampah. Menurutnya, fungsi utama lapangan adalah sebagai sarana olahraga dan ruang sosial, bukan penampungan limbah. "Meskipun sampahnya dimasukkan ke dalam karung dan hanya diletakkan di pinggir lapangan, bau yang ditimbulkan tetap mengganggu aktivitas olahraga warga. Selain itu, kondisi ini juga menimbulkan kesan kumuh dan persepsi negatif bagi desa," ujar Ramita.
Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa aroma tak sedap dari tumpukan sampah menyebar luas, mengganggu kenyamanan warga yang tinggal di sekitar lapangan. Anak-anak yang biasa bermain di area tersebut pun kini harus menghadapi pemandangan dan bau yang tidak sehat. Ramita dan warga lainnya mendesak pemerintah desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) agar segera memprioritaskan pembangunan TPS yang layak. Mereka bahkan telah mengusulkan solusi konkret, yakni memanfaatkan sebagian lahan titisara desa seluas maksimal satu hektare sebagai lokasi penanganan sampah. Usulan ini, disebut-sebut, sudah disampaikan sejak awal permasalahan ini muncul, namun belum ada tindak lanjut yang signifikan.
Dilema Anggaran dan Solusi Jangka Panjang: Mengapa Sampah Masih Jadi Masalah?
Persoalan sampah memang kerap menjadi tantangan klasik bagi banyak desa, tak terkecuali di Prajawinangun Wetan. Ramita menduga, salah satu kendala utama yang dihadapi pemerintah desa adalah keterbatasan anggaran dan masalah teknis operasional dalam penanganan sampah. "Kalau perkiraan saya, sudah sekitar dua bulan lebih. Sebelumnya sampah sempat menumpuk di pinggir jalan, lalu dibersihkan dan sekarang dipindahkan ke lapangan sepak bola," tambahnya, menggambarkan upaya "tambal sulam" yang dilakukan desa.
Padahal, Pengelolaan Sampah yang efektif dan berkelanjutan merupakan indikator penting kemajuan sebuah desa. Ketersediaan TPS permanen dan sistem pengangkutan yang terstruktur adalah kunci untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Tanpa solusi jangka panjang, masalah serupa akan terus berulang, mengorbankan fasilitas publik dan kualitas hidup warga.
Respon Cepat Camat Kaliwedi: Sinyal Harapan untuk Warga
Merespons situasi ini, Camat Kaliwedi, Hardomo, tidak tinggal diam. Ia memastikan akan segera berkoordinasi dengan Kuwu Desa Prajawinangun Wetan untuk mencari solusi terbaik. Hardomo juga mendorong pemerintah desa untuk kembali menjalin kerja sama pengangkutan sampah dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon. Langkah ini dinilai krusial agar tumpukan sampah di lapangan sepak bola tidak semakin menggunung dan dapat segera ditangani secara profesional.
Hardomo mengungkapkan bahwa sebelumnya, pemerintah desa sempat melakukan kerja sama pengangkutan sampah dengan DLH, dan sampah dibuang ke TPS Gegesik. Namun, kerja sama itu terputus setelah beberapa waktu. "Setelah berjalan beberapa waktu, kerja sama itu terputus. Akhirnya sampah kembali menumpuk di pinggir jalan kabupaten, kemudian dibersihkan. Sekarang malah berpindah ke lapangan sepakbola," jelas Hardomo, Rabu (20/5/2026). Revitalisasi kerja sama dengan DLH diharapkan menjadi pintu keluar dari krisis sampah di Prajawinangun Wetan.
Warga Prajawinangun Wetan sangat berharap pemerintah desa dan instansi terkait dapat segera mengambil langkah konkret. Mereka menginginkan lapangan sepak bola kembali difungsikan sebagaimana mestinya, sekaligus menghadirkan solusi penanganan sampah yang lebih layak dan berkelanjutan. Penantian dua bulan ini harus segera berakhir dengan tindakan nyata demi kebaikan bersama.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar