Megalodon Sukabumi Menggugat Teater Imersif Peringatkan Kita
Sorajabar.com - Jauh sebelum kita mengenal daratan Sukabumi Selatan seperti sekarang, lebih dari sepuluh juta tahun silam, area ini adalah sebuah teluk raksasa. Sebuah wilayah purba yang menjadi singgasana bagi penguasa laut yang paling buas dan menakutkan: Megalodon.
Kini, sisa-sisa kejayaan predator purba itu masih tersembunyi rapat dalam bentuk fosil gigi raksasa, yang oleh masyarakat lokal akrab disebut "huntu gelap". Warisan tak ternilai ini terkubur dalam lapisan sedimen Formasi Cibodas, menjadi saksi bisu sejarah bumi yang luar biasa.
Namun, "Pulo Megalodon" yang menyimpan harta karun ilmiah dan sejarah ini tengah menghadapi ancaman serius. Aktivitas penambangan liar, pembabatan hutan tanpa henti, pembuangan limbah sembarangan, hingga maraknya perdagangan fosil ilegal telah merusak ekosistem secara parah, bahkan memicu munculnya wabah penyakit.
"Pulo Megalodon Jampang": Ketika Fosil Mengajak Kita Bicara
Keresahan ekologis inilah yang menjadi pemicu lahirnya sebuah pertunjukan teater gim imersif yang tak hanya unik, tetapi juga mendalam: "Pulo Megalodon Jampang: Saat Fosil Berbicara tentang Bumi yang Sakit". Pementasan inovatif ini bukan sekadar tontonan biasa, melainkan sebuah seruan untuk merenungkan kembali hubungan manusia dengan alam.
Digelar di lokasi yang tak kalah dramatis, yaitu Gua Cigintung, Desa Gunungsungging, Surade, Sukabumi, pertunjukan ini akan berlangsung selama tiga hari penuh, pada 30-31 Mei hingga 1 Juni 2026. Keunikan pementasan ini terletak pada perpaduan tiga disiplin ilmu yang tampaknya berbeda: ilmu paleontologi, mitologi Sunda yang kaya akan kearifan lokal, dan kritik tajam terhadap Krisis Iklim global yang kian mendesak.
"Melalui pertunjukan ini, kami berupaya mempertemukan ilmu pengetahuan kebumian yang faktual dengan kearifan kosmologi Sunda yang mendalam," terang S. Sophiyah K, Sutradara sekaligus pencetus konsep visioner ini, dalam wawancaranya dengan detikJabar.
Sophiyah menambahkan bahwa di balik petualangan interaktif yang ditawarkan, tersemat pesan yang sangat krusial: tentang bagaimana ekosistem kita kian runtuh, dan bagaimana perusakan alam secara membabi buta dapat memicu munculnya virus-virus baru yang mengancam kehidupan. "Kami ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama merenungkan kembali tanggung jawab besar kita sebagai manusia terhadap bumi yang telah diwariskan selama jutaan tahun ini," tegasnya.
Nyai Endang Sungging: Penjaga Tradisi dan Pelindung Alam
Dalam jalinan naskah gim yang brilian, yang disusun oleh Rizal Sofyan, kita akan bertemu dengan sosok Nyai Endang Sungging. Beliau adalah seorang konservator adat dari Gunung Sungging, seorang perempuan yang mewarisi darah seni dan kecintaan yang mendalam pada fosil dari para leluhurnya. Nyai Endang dikisahkan berjuang sendirian, dengan segala daya upaya, untuk menjaga sisa-sisa keseimbangan alam yang kian porak-poranda dan nyaris tak tersisa.
Melalui dialog-dialog yang menghunjam dalam naskah drama tersebut, tokoh Nyai Endang menyuarakan kepedihan mendalamnya. Ia mengungkapkan bahwa tanah dan batuan di buana tengah, tempat kita berpijak, kini tak lagi mampu menyerap energi jahat yang dilepaskan oleh manusia. Realitas pahit ini diperkuat dengan banyaknya warga yang meninggal dunia akibat bencana ekologis dan eksploitasi alam liar yang terus-menerus terjadi. Sebuah cerminan nyata dari dampak perusakan lingkungan yang tak bisa lagi ditoleransi.
Petualangan Interaktif di Jantung Gua Purba
Pertunjukan "Pulo Megalodon Jampang" ini tidak hanya menjadi panggung bagi para seniman, tetapi juga mengundang penonton untuk terlibat langsung dalam narasi. Anda tidak akan ditempatkan sebagai saksi pasif, melainkan bertransformasi menjadi seorang paleontolog dan geolog sejati, mengemban misi suci untuk menyelamatkan "huntu gelap" yang raib dikeruk oleh para pemburu fosil ilegal.
Alur dramaturgi dirancang secara organik, memandu peserta menembus tiga babak utama yang penuh tantangan dan kejutan:
- Babak I: Fakta Laut Purba dan Kearifan Leluhur. Perjalanan dimulai di halaman depan gua, di mana Anda akan disuguhkan fakta-fakta menakjubkan tentang laut purba, menyaksikan ritual penyembuhan yang dilakukan oleh Nyai Endang Sungging, dan mendengarkan petuah bijak dari Utusan Sanghyang Batara Surya.
- Babak II: Menjelajah Kegelapan Gua dan Berburu Fosil. Memasuki babak ini, penonton akan mengenakan kostum geolog lengkap dan merangsek masuk ke dalam kegelapan gua sungguhan. Berbekal lampu kepala, Anda akan berburu fosil, terlibat dalam pertempuran fisik "Sumpit Ngajoak" melawan Geng Bandar Fosil, bahkan berdialog langsung dengan penguasa laut purba, Ratu Kidul.
- Babak III: Mengembalikan Keseimbangan Alam. Petualangan mencapai puncaknya di Babak III. Para peserta ditantang untuk menyusun teka-teki sedimentasi batuan demi mengembalikan fosil ke lapisan yang tepat. Sebuah akhir cerita yang dramatis dan inspiratif, dirayakan dengan kemunculan makhluk-makhluk laut purba rekan sejawat Megalodon, sebagai simbol kembalinya keseimbangan.
Narasi kolosal ini menjadi semakin hidup dan memukau berkat keterlibatan deretan penampil luar biasa, seperti Jampang Warrior Dance, Amerta, Bunga Antika (Bu'on), Jamus Kalimasada, Drumband Indera Pakca Lokananta, Cepet Pasebanrasi, Babab, hingga Arif RH, yang semuanya memberikan sentuhan magis pada setiap adegan.
Kolaborasi Lintas Disiplin untuk Dampak Maksimal
Pengalaman interaktif yang intens ini bukanlah hasil kebetulan, melainkan dirancang dengan cermat oleh para ahli di bidangnya. M. Teguh sebagai penata geo-dramaturgi, Pita Tjokronegoro dan Ujer sebagai penata skenografi, desainer bunyi Rangga Purnama Aji yang menciptakan lanskap audio-visual memukau, serta Louis Marcellino dengan teknologi visual mapping-nya, semuanya bersinergi menciptakan karya yang tak terlupakan. Demi menjaga akurasi ilmiah di tengah balutan mitos dan kearifan lokal, tim artistik bahkan merangkul Unggul Prasetyo dari Museum Geologi Bandung sebagai kontributor data paleontologi.
Proyek kolaborasi lintas disiplin yang ambisius ini dapat terwujud berkat sokongan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesiana - LPDP. Mereka bekerja sama erat dengan Yayasan Sri Manggala Nusantara, Pakidoelan Eco Art & Cultural Laboratory, serta ekosistem pariwisata Ciletuh Palabuhanratu UNESCO Global Geopark. Dukungan ini membuktikan bahwa seni dan ilmu pengetahuan dapat bersatu padu untuk menyuarakan isu-isu penting.
Jangan Lewatkan Kesempatan Langka Ini!
Mengingat medannya yang menantang dan pengalaman imersif yang ditawarkan di dalam gua sungguhan, pihak penyelenggara secara ketat membatasi kapasitas penonton. Hanya 20 peserta yang dapat mengikuti setiap sesi pementasan, menjamin pengalaman yang personal dan mendalam bagi setiap individu.
Pertunjukan ini akan digelar dalam tiga sesi harian, yaitu pada pukul 10.00 WIB, 14.00 WIB, dan 16.00 WIB. Ini adalah kesempatan langka bagi Anda yang ingin merasakan langsung pengalaman teatrikal yang intens, menguji kepedulian terhadap bumi, dan menyelami kisah Megalodon yang tak lekang oleh waktu.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar