Jurnalis Asal Bandung Diculik di Gaza, Keluarga Bertahan Tegar

Sorajabar.com - Sebuah kisah heroik namun penuh kecemasan tengah menyelimuti keluarga besar Thoudy Badai Rifan Billah (29), seorang jurnalis foto Republika asal Bandung. Thoudy menjadi salah satu warga negara Indonesia (WNI) yang diculik tentara Zionis Israel saat mengikuti misi Kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan Mediterania menuju Gaza, Palestina. Insiden ini sontak menyita perhatian dan menimbulkan kekhawatiran mendalam, terutama bagi ibundanya di Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Kabar penculikan ini terjadi saat Thoudy berlayar dengan kapal Ozgurluk, bergabung dengan dua jurnalis Indonesia lainnya: Andre Prasetyo dari TV Tempo dan Heru Rahendro dari iNews. Tak hanya mereka, dua WNI lain, aktivis Andi Angga dari kapal Josef dan jurnalis Bambang Noroyono dari Republika yang berada di kapal Bolarize, juga turut diintersepsi dan kini dalam penahanan tentara Zionis Israel. Suasana di Pondok Pesantren Husainiyah, Jalan Pamoyanan, Kampung Panenjoan, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, diselimuti keheningan dan doa, menanti kabar baik dari putranya yang tengah berjuang demi misi kemanusiaan universal.

Misi Berani Menembus Blokade Gaza

Misi Global Sumud Flotilla bukan sekadar pelayaran biasa; ini adalah upaya kemanusiaan yang berani untuk menembus blokade yang mencekik Gaza, membawa harapan dan bantuan bagi mereka yang menderita. Para delegasi, termasuk jurnalis dan aktivis dari berbagai negara, mempertaruhkan keselamatan mereka demi menyuarakan keadilan dan kemanusiaan. Keberanian Thoudy dan rekan-rekan WNI-nya dalam misi ini adalah bukti nyata dari semangat solidaritas global yang tak kenal batas.

Keberangkatan Thoudy ke medan konflik bukan yang pertama. Ibunda Thoudy, Hani Hanifa Humanisa (56), menceritakan bahwa putranya sudah dua kali mencoba bergabung dalam misi kemanusiaan. Upaya pertama pada tahun 2005 melalui jalur Turki, sempat ditolaknya karena kekhawatiran yang teramat sangat melihat kondisi di lapangan. Namun, pada kesempatan kedua di tahun 2026, melalui jalur Tunisia, Hani akhirnya memberikan restu dengan berat hati, melihat tekad kuat dan passion Ody yang tak tergoyahkan.

Suara Hati Ibu: Antara Cemas dan Kebanggaan

Hani Hanifa Humanisa membagikan pergulatan batinnya sebagai seorang ibu. “Sebagai seorang ibu, bohong jika saya tidak khawatir. Perasaan cemas itu pasti ada,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. Namun, ia juga melihat semangat yang membara dalam diri Thoudy, bukan hanya sebagai jurnalis profesional yang ingin meliput isu kemanusiaan, tetapi juga sebagai pribadi yang memiliki jiwa petualang dan keinginan kuat untuk hidup bermanfaat bagi masyarakat luas.

Meskipun rute yang dilalui merupakan salah satu kawasan konflik paling rawan di dunia, Hani merasa harus memberikan dukungan penuh dan doa terbaik. Ia meyakini bahwa tugasnya sebagai orang tua adalah memberikan rida, diiringi keyakinan pada niat baik putranya. Selama perjalanan di atas kapal, Thoudy kerap berkomunikasi dengan keluarga, bahkan membagikan tautan radar untuk memantau pergerakan kapal. Momen itu menjadi jembatan penghubung yang menenangkan, hingga akhirnya kabar buruk tentang intersepsi kapal oleh tentara Zionis Israel tiba.

“Saat pertama kali mendengar kabar bahwa kapal delegasi diintersep dan Ody ikut mengalaminya, perasaan saya tentu tak bisa digambarkan. Sedih dan khawatir sebagai ibu adalah hal yang manusiawi,” tutur Hani. Namun, ia dan keluarga mencoba untuk tidak panik, mengendalikan emosi, dan berpikir rasional di tengah kejutan dan kesedihan yang mendalam. Mereka bertekad untuk tetap tegar demi Thoudy dan rekan-rekannya.

Langkah Keluarga dan Harapan pada Diplomasi Indonesia

Dalam menghadapi situasi yang genting ini, keluarga Thoudy memilih untuk mengambil langkah terukur. Mereka berkoordinasi intensif dengan ruang redaksi Republika, tempat Thoudy bekerja, serta berkomunikasi dengan perwakilan Global Sumud Flotilla. Fokus utama mereka adalah mengumpulkan informasi resmi dan valid, menghindari spekulasi yang bisa memperkeruh suasana.

Harapan besar keluarga kini tertumpu pada Pemerintah Indonesia. Hani meyakini bahwa Kementerian Luar Negeri dan jajaran direktorat terkait tengah bekerja keras menggunakan jalur diplomasi internasional yang profesional. Mereka percaya penuh pada upaya pemerintah untuk memastikan keselamatan dan pemulangan seluruh WNI yang tertahan dalam misi kemanusiaan ini. Doa dan dukungan tak henti dipanjatkan, berharap Thoudy dan rekan-rekannya dapat segera kembali ke Tanah Air dalam keadaan selamat.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Jurnalis Asal Bandung Diculik di Gaza, Keluarga Bertahan Tegar
  • Jurnalis Asal Bandung Diculik di Gaza, Keluarga Bertahan Tegar
  • Jurnalis Asal Bandung Diculik di Gaza, Keluarga Bertahan Tegar
  • Jurnalis Asal Bandung Diculik di Gaza, Keluarga Bertahan Tegar
  • Jurnalis Asal Bandung Diculik di Gaza, Keluarga Bertahan Tegar
  • Jurnalis Asal Bandung Diculik di Gaza, Keluarga Bertahan Tegar

Posting Komentar