Ironi Lansia Jepang Memilih Penjara Demi Hidup Layak
Sorajabar.com - Di balik citra modern dan maju Jepang, tersimpan sebuah ironi Sosial yang memilukan. Di Penjara Tochigi, suasana hening menyelimuti ruangan, tempat para perempuan Lansia dengan tangan renta namun cekatan merangkai lipatan origami. Mereka bekerja tanpa percakapan, sebuah aturan yang diberlakukan bagi narapidana di fasilitas tersebut. Pemandangan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan cerminan dari sebuah fenomena sosial yang kian mengkhawatirkan: semakin banyak lansia di Jepang yang justru sengaja berulang kali melakukan pelanggaran ringan, seperti pencurian kecil, hanya untuk bisa kembali mendekam di balik jeruji besi.
Mengapa Penjara Jadi 'Rumah' Para Lansia?
Bagi sebagian lansia di Jepang, kehidupan di dalam penjara dianggap jauh lebih menjanjikan dan terjamin daripada hidup bebas di luar. Di sana, mereka mendapatkan tiga kebutuhan dasar yang seringkali sulit mereka peroleh saat hidup sendiri: makanan teratur, layanan kesehatan yang memadai, dan perawatan harian. Kemiskinan ekstrem, kesepian yang mendalam, dan minimnya dukungan sosial di luar tembok penjara menjadi pendorong utama mereka untuk kembali melakukan kejahatan.
Hirotsugu Hori, Direktur Divisi Urusan Umum penjara, mengungkapkan keprihatinannya. "Proporsi narapidana lanjut usia meningkat. Setelah keluar dari penjara, banyak yang melakukan kejahatan serupa dan kembali lagi," ujarnya, seperti dikutip dari South China Morning Post. Ia menambahkan bahwa para narapidana lansia ini seringkali membutuhkan bantuan untuk aktivitas sehari-hari, seperti mandi atau makan, sesuatu yang tidak mereka dapatkan di luar.
Tantangan Berat di Balik Jeruji Besi Tochigi
Penjara Tochigi saat ini menampung 456 narapidana perempuan, dengan sekitar 32 persen di antaranya adalah lansia berusia di atas 60 tahun. Statistik ini menunjukkan beban berat yang harus ditanggung sistem pemasyarakatan. Lebih miris lagi, hanya 40 persen dari total narapidana yang diklasifikasikan dalam kondisi sehat, sementara sisanya membutuhkan berbagai bentuk dukungan medis. Sekitar 21 persen bahkan diidentifikasi memiliki kecacatan mental, sebuah proporsi yang jauh lebih tinggi dibandingkan penjara pria.
Hori menjelaskan bahwa tingginya angka masalah kesehatan mental pada narapidana perempuan mungkin disebabkan oleh pengabaian yang mereka alami di masa muda, selama masa perkembangan. "Hal itu berarti mereka tidak mendapatkan akses ke pendidikan dan kemudian tidak menghasilkan cukup uang untuk menghidupi diri sendiri," katanya. Untuk mengakomodasi kebutuhan khusus ini, pihak penjara harus beradaptasi, salah satunya dengan mengubah menu makanan. Makanan pokok diganti menjadi bubur, dan sayuran dipotong sangat halus agar lebih mudah dikonsumsi oleh para lansia.
Hambatan Bahasa dan Isu HAM yang Mendesak
Selain merawat lansia, Penjara Tochigi juga menghadapi kendala besar dalam mengelola narapidana asing. Sekitar sepertiga dari total penghuni penjara berasal dari luar negeri, mencakup 33 negara. Persentase tertinggi berasal dari Thailand (17 persen) dan China (10 persen), yang mayoritas terjerat kasus penyelundupan narkotika. Kepala Penjara, Kiyochika Miyoshi, menyoroti kesulitan dalam mengatasi hambatan bahasa. "Para petugas menggunakan penerjemah dan alat penerjemah bahasa. Tetapi, penggunaan metode ini cukup sulit dan dapat menyebabkan stres bagi para narapidana," jelasnya. Lebih jauh, ia menambahkan, "Dan karena petugas tidak dapat memahami semua bahasa ini, ada juga masalah keamanan."
Kritik tajam terhadap sistem ini juga datang dari organisasi Hak Asasi Manusia. Teppei Kasai, petugas program senior untuk Human Rights Watch, menegaskan bahwa penjara bukanlah tempat yang tepat bagi para wanita lansia ini sejak awal. Tanpa adanya mekanisme dukungan yang efektif untuk membantu mereka berintegrasi kembali ke masyarakat, lingkaran setan kriminalitas lansia ini tidak akan pernah terputus. "Banyak dari perempuan ini dipenjara karena kejahatan tanpa kekerasan, dengan sebagian besar perempuan yang lebih tua dihukum karena melakukan pencurian kecil, jadi pertanyaan yang lebih besar adalah apakah mereka seharusnya dipenjara sejak awal," tegas Kasai.
Fenomena ini menyoroti perlunya perhatian serius terhadap masalah sosial, ekonomi, dan kesehatan mental yang melingkupi para lansia di Jepang, serta mencari solusi yang lebih manusiawi dan efektif di luar sistem penjara.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar