Bincurang Cimande: Ketika Kaki Beradu, Adab Tetap Berkuasa

Sorajabar.com - Di kaki Gunung Gede Pangrango, Kabupaten Bogor, sebuah tradisi kuno yang penuh semangat dan filosofi terus hidup. "Diondang saha aranjeun kadieu? Diondang kaondang ku sora kendang, kapelet ku sora tarompet, karumpul ku sora kempul..." Kalimat itu mengalun berat namun akrab dari Sesepuh Penca Cimande, Didih Supriadi (61), membuka malam di sebuah lapangan sederhana. Bukan panggung megah atau gemerlap lampu, hanya hamparan rumput basah sisa hujan, namun semangat kebersamaan masyarakat begitu terasa kuat.

Seiring malam menjelang, warga berdatangan. Pedagang makanan ringan memenuhi jalanan setapak, anak-anak riang duduk di pinggir lapangan, remaja bergerombol dalam canda, sementara para orang tua membentuk lingkaran beralas rumput. Tanpa tiket masuk atau pagar pembatas, semua mata tertuju pada satu hal yang sama: Bincurang. Angin gunung yang dingin menusuk tulang tak menyurutkan antusiasme mereka, yang sesekali dipecah oleh dentuman kendang dan tiupan tarompet.

Bagi masyarakat Cimande, Bincurang jauh melampaui sekadar adu tulang kering. Ini adalah ruang silaturahmi yang berharga, ajang pembuktian ketangkasan, dan cara ampuh untuk menjaga warisan penca turun-temurun agar tidak lekang oleh zaman. Sebelum pertarungan sengit dimulai, sejumlah pemuda melakukan penca salancar, gerakan-gerakan penca yang luwes mengikuti irama. Sorakan penonton membahana saat kaki-kaki mulai beradu, menciptakan bunyi khas, "Tas... tas.. tas," yang menggema di malam hari.

"Kalau dulu orang tua kami bilang, sebelum turun ke lapangan harus menca dulu, harus pakai adab," ujar Didih Supriadi, menegaskan pentingnya etika dalam tradisi ini. Bincurang memang melibatkan tendangan ke tulang kering lawan dari lutut ke bawah, sebuah pertarungan yang terdengar keras namun dikenal menjunjung tinggi sportivitas. Usai beradu, para pemain tak sungkan saling bersalaman, tanpa dendam atau perasaan baper. "Yang sering ribut itu justru penontonnya, bukan pemain di lapangan," tambah Aki Didih sambil tertawa renyah.

Penca Cimande: Filosofi Menghancurkan dan Merawat yang Mendalam

Di balik kerasnya benturan dalam Bincurang, Penca Cimande menyimpan filosofi hidup yang mendalam. Bagi masyarakat Cimande, seorang praktisi penca tidak boleh berhenti pada kemampuan untuk menghancurkan lawan. Aki Didih menjelaskan bahwa orang tua terdahulu menanamkan pemahaman bahwa siapa pun yang belajar bela diri juga harus mampu merawat sesama.

"Karena kita belajar penca, belajar silat, pasti ada yang sampai bengkak, ada yang sampai patah, keseleo bisa terjadi. Orang tua dulu sudah menyiapkan, jangan hanya bisa merusak, tapi harus bisa memperbaiki," tuturnya. Filosofi inilah yang membentuk karakter Penca Cimande, di mana adab dan pengendalian diri menjadi pilar utama. Sebelum mempelajari gerakan dasar, setiap murid diwajibkan menerima 'talek' atau sumpah sebagai pondasi moral. Talek ini mencakup larangan keras seperti mabuk, berjudi, melawan orang tua, hingga menyakiti orang lain. "Talek itu pondasi agar setelah belajar silat tidak ada kesombongan," tegas Aki Didih.

Oleh karena itu, meskipun Bincurang terlihat keras, para pemain tetap menjaga batas. Mereka boleh saling menjatuhkan, tetapi setelah pertandingan usai, mereka kembali duduk bersama, bercanda, dan bersalaman. Penca bagi masyarakat Cimande bukan sekadar kekuatan fisik semata. Ia adalah pelajaran tentang menghormati lawan, mengendalikan emosi, dan memahami kapan harus menyerang serta kapan harus menahan diri.

Dayat (16), seorang peserta Bincurang dari Kampung Sembare, mengaku sudah sering mengikuti tradisi ini meskipun tanpa bergabung dengan perguruan penca. "Belajar sendiri aja. Kemauan sendiri. Modal nekat," ujarnya sambil tertawa kecil usai turun dari arena. Malam itu, Dayat dua kali masuk gelanggang. Baginya, Bincurang bukanlah ajang mencari musuh, melainkan kesempatan untuk menguji keberanian. Ia bahkan mengaku lebih nyaman menghadapi lawan yang tidak dikenal, "Kalau yang dikenal agak enggak enak, takut." Meski tulang keringnya ngilu akibat benturan keras, Dayat bersyukur belum pernah mengalami cedera serius.

Pengalaman serupa dirasakan Muhammad Azril (14), yang baru pertama kali mencoba Bincurang setelah diajak temannya. Awalnya hanya menonton, ia kemudian memberanikan diri masuk arena. Azril menjelaskan aturan main yang sederhana: hanya kaki yang boleh digunakan untuk menyerang tulang kering lawan, sementara tangan tidak diperbolehkan sama sekali. Meskipun sempat terbawa emosi saat bertanding, Azril menegaskan bahwa tidak ada perkelahian lanjutan setelah keluar dari arena. Peserta yang mengalami luka biasanya langsung ditangani oleh guru atau senior perguruan yang hadir di lokasi.

Penca Cimande dan Bincurang adalah bukti nyata bagaimana sebuah tradisi mampu menjaga nilai-nilai luhur dan mempererat tali silaturahmi. Di tengah dentuman kendang dan sorakan semangat, terkandung pelajaran berharga tentang kekuatan, kehormatan, dan kebijaksanaan.

Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Bincurang Cimande: Ketika Kaki Beradu, Adab Tetap Berkuasa
  • Bincurang Cimande: Ketika Kaki Beradu, Adab Tetap Berkuasa
  • Bincurang Cimande: Ketika Kaki Beradu, Adab Tetap Berkuasa
  • Bincurang Cimande: Ketika Kaki Beradu, Adab Tetap Berkuasa
  • Bincurang Cimande: Ketika Kaki Beradu, Adab Tetap Berkuasa
  • Bincurang Cimande: Ketika Kaki Beradu, Adab Tetap Berkuasa

Posting Komentar