Asap Membara di TPS Baleendah Bandung Viral, Warga Resah
Sorajabar.com - Isu Lingkungan kembali mencuat di Kabupaten Bandung. Kali ini, sorotan tajam mengarah pada Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Kampung Cembul Pojok, Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah. Kondisi TPS yang memprihatinkan, terutama kepulan asap pekat akibat aktivitas pembakaran sampah, telah viral di media sosial dan memicu keresahan warga sekitar. Asap ini bukan hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan di Baleendah.
Asap Membara Menyelimuti Desa Rancamanyar
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa Pengelolaan Sampah di Kampung Cembul Pojok dilakukan di lahan milik pribadi dan yayasan, dengan bantuan warga sekitar TPS. Beberapa warga terlihat sedang memilah sampah sebelum sebagian besar dimasukkan ke tungku pembakaran. Ironisnya, tungku tersebut tidak dilengkapi cerobong asap yang memadai, sehingga asap langsung menyebar ke udara bebas dan menciptakan polusi udara yang signifikan.
Lokasi TPS ini juga sangat berdekatan dengan area pemakaman dan aliran anak Sungai Citarum, menjadikannya rentan terhadap dampak banjir. Keberadaan tumpukan sampah di dekat sungai tentu menimbulkan potensi pencemaran air yang serius, mengancam ekosistem sungai dan kesehatan warga yang bergantung padanya.
Bunyamin (57), salah satu pengelola sekaligus tokoh warga setempat, menjelaskan bahwa sampah yang dikelola berasal dari beberapa RW di Desa Rancamanyar, seperti RW 10, RW 9, dan RW 16. "Ini sampah dari khusus Desa Rancamayar, Pak. Tapi yang saya ngambil bukan satu RW, paling per RT ngambilnya. Dari RW 10, RW 9, RW 16, khususnya warga setempatlah," ujarnya.
Jeritan Warga Akibat Dampak Lingkungan
Mengenai aktivitas pembakaran, Bunyamin tidak membantah, namun ia mengklarifikasi bahwa tidak semua kepulan asap berasal dari lokasi yang dikelolanya. "Kan asap ada titik-titik pembakaran kan bukan di sini. Adalah banyak yang mau bakar, berikut Sukamukti juga dibakar. Kadang-kadang tukang rongsokan yang di sebelah sana juga membakar. Asap kan gimana mengikuti arah angin begitu," jelasnya, menunjukkan kompleksitas sumber polusi udara di area tersebut.
Kekhawatiran utama warga adalah dampak kesehatan, terutama isu bayi yang terdiagnosis Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Bunyamin menanggapi isu ini dengan meminta kajian medis lebih lanjut. Ia berargumen bahwa kondisi ISPA pada bayi tersebut bisa jadi disebabkan oleh faktor lain, seperti kondisi kesehatan sejak lahir atau lingkungan rumah yang banyak perokok. "Padahal dari informasi yang diterima, itu sudah dari lahir. Sementara di rumahnya itu perokok semua. Faktanya di sini banyak bayi, tapi sehat-sehat aja," tegasnya, menyoroti pentingnya penyelidikan menyeluruh.
Upaya dan Tantangan Pengelolaan Sampah Lokal
Video viral ini sontak menarik perhatian berbagai pihak terkait. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung, pihak kecamatan, Polsek, hingga Satgas Citarum Harum segera melakukan inspeksi mendadak ke lokasi. "Iya kemarin ada pihak terkait ke sini. Solusinya ini minta di dikarungi nanti ditarik sama DLH," kata Bunyamin, menjelaskan langkah awal yang diambil pemerintah.
Namun, penutupan TPS bukanlah opsi utama. DLH mendorong pengelolaan yang lebih baik ke depannya, yaitu dengan memilah sampah yang bisa didaur ulang dan mengarungi sampah yang tidak bisa dipilah untuk ditarik. Tantangan lain adalah ketersediaan fasilitas. Bunyamin mengungkapkan bahwa pengajuan mesin insinerator pernah dilakukan beberapa tahun lalu saat ia masih menjabat ketua RW, namun terkendala ketersediaan lahan. "Memang dulu pernah pas saya masih jadi ketua RW, cuman kendala di lokasinya, di tempatnya. Enggak ada tempat gitu lah dulu mah," bebernya.
Solusi Jangka Panjang dan Harapan dari Komunitas
Meskipun sudah ada TPS sementara, wilayah ini sangat membutuhkan fasilitas pengolahan sampah yang lebih ramah lingkungan. Harapannya, ada donatur atau relawan yang bersedia membantu menyediakan lahan untuk pembuangan sampah yang berkelanjutan. "Ke depannya mudah-mudahan lah ada ya donatur-donatur atau relawan lah yang membeli tanah lah untuk pembuangan sampah yang ramah lingkungan," ungkap Bunyamin penuh harap.
Saat ini, sekitar 10 orang menjadi pengelola sampah di lokasi tersebut, termasuk relawan kebersihan seperti Ertandi. Mereka tidak hanya mengelola sampah dari warga, tetapi juga aktif membersihkan sampah liar yang dibuang sembarangan di pinggir jalan. "Kita ada sampah pungutin supaya mencegah banjir yang masuk ke area warga. Kalau untuk upah dari warga. Itupun seikhlasnya aja dari warga," kata Ertandi, menunjukkan dedikasi mereka.
- Sampah yang Dikelola: Dari beberapa RW di Desa Rancamanyar.
- Tujuan Utama: Mencegah banjir akibat saluran tersumbat.
- Upah: Seikhlasnya dari warga.
- Larangan: Tidak menerima limbah pabrik karena bahan kimia berbahaya.
Ertandi juga memastikan bahwa TPS ini tidak menerima limbah dari pabrik karena kekhawatiran akan kandungan bahan kimia berbahaya yang dapat memperparah polusi. "Kalau untuk dari pabrik pembuangan di sini enggak menerima, karena kan ada bahan kimianya kan, dari bahan sepatu itu kan lebih asapnya lebih pekat. Jadi saya pastikan tidak ada sampah pabrik majun ke sini," pungkasnya, menunjukkan komitmen mereka terhadap lingkungan, meskipun dengan fasilitas terbatas.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar