Aksi Heroik Bupati Sukabumi Hantam Jembatan Biang Kerok Banjir
Sorajabar.com - Jeritan hati warga yang bertahun-tahun terhantam Banjir di belakang UPTD Puskesmas Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, akhirnya berubah menjadi sorak gembira. Sebuah drama epik terjadi ketika Bupati Sukabumi, Asep Japar, tak gentar mengayunkan palu godam, menghancurkan jembatan tua yang selama ini dituding sebagai biang keladi setiap kali Sungai Ciranca meluap.
Bupati Asep Japar Turun Tangan Hancurkan 'Biang Kerok' Banjir
Pemandangan tak biasa ini tersaji pada Senin pagi di tengah kepungan sisa lumpur banjir. Orang nomor satu di Kabupaten Sukabumi itu, dengan kemeja biru, rompi dongker, topi hitam, dan sepatu bot karet kuning yang mencolok, menunjukkan tekad baja. Dengan posisi kuda-kuda kokoh di tepi jembatan, ia mengangkat palu godam berganggang kayu berukuran besar.
Ayunan kuat dari balik pundaknya menghantam pagar pembatas jembatan beton yang sempit dan rendah, bagian yang selama ini dianggap menghalangi laju air. Dentuman keras beton yang retak beradu dengan tepuk tangan riuh dan sorakan kemenangan dari kerumunan warga. Setiap hantaman yang meruntuhkan bagian jembatan disambut teriakan "Hore!" yang menggema kencang, sebuah simbol kelegaan yang tak terlukiskan.
Serpihan material beton dan besi-besi rebar berhamburan ke dasar aliran sungai, menandai dimulainya babak baru perjuangan warga untuk lepas dari ancaman banjir musiman yang telah menyelimuti hidup mereka.
Jembatan Tua Penyebab Malapetaka Tahunan Warga Palabuhanratu
Kekesalan mendalam warga terhadap konstruksi jembatan ini bukanlah tanpa dasar. Hendra, seorang pemilik warung di lokasi kejadian, yang merekam langsung detik-detik mengerikan air bah menjebol permukiman pada Minggu sore, menjelaskan akar masalahnya.
"Saya rekam sendiri pakai HP, air itu tertahan di bawah jembatan karena posisinya memang terlalu pendek dan sempit. Material dari hulu, ranting, sampah-sampah besar tersangkut semua di situ. Akibatnya, jalur air terkunci rapat, jadi bendungan dadakan," ungkap Hendra kepada awak media. Ia menambahkan, "Akhirnya air sungai yang nggak bisa lewat itu langsung meluap, balik arah lari ke jalanan, menghantam keras bangunan puskesmas dan merangsek masuk ke rumah-rumah warga. Pokoknya jembatan itu murni biang kerok penyumbat dan penyebab banjir separah ini di sini."
Penjelasan Hendra menguatkan keyakinan bahwa desain jembatan yang tidak memadai menjadi titik krusial penyebab bencana. Ketinggian jembatan yang terlalu rendah dan lebar celah aliran yang sempit menyebabkan tumpukan sampah dan material dari hulu sungai mudah tersangkut, membentuk bendungan alami yang mematikan. Saat debit air Sungai Ciranca meningkat drastis, air tak punya jalan lain selain meluap dan menghantam permukiman warga.
Trauma dan Kerugian Akibat Banjir Sukabumi yang Berulang
Penderitaan hidup berdampingan dengan ancaman banjir di Palabuhanratu diungkapkan secara getir oleh Ketua RT 04 Kelurahan Palabuhanratu, Iis. Baginya dan puluhan Kepala Keluarga (KK) yang bermukim tepat di area belakang puskesmas, setiap hujan deras adalah mimpi buruk yang menyiksa mental.
"Setiap hujan deras turun lumayan lama, kami warga di sini sudah pasti jantungan, waswas A. Ini mah sudah jadi 'langganan' banjir terus hampir tiap tahun. Kalau hujannya lama, mau lari menyelamatkan diri juga susah karena airnya cepat banget naiknya," keluh Iis, menceritakan trauma yang mendalam pada warganya.
Luapan air lumpur setinggi pinggang orang dewasa yang menerjang wilayahnya tak hanya meninggalkan jejak kotor pekat, tetapi juga kerugian materiel yang tidak sedikit. Warga nyaris tak punya waktu untuk menyelamatkan harta benda mereka saat air bah tiba-tiba datang menerjang masuk ke dalam rumah. Akibatnya, banyak barang berharga yang rusak tak tertolong.
- Kasur membusuk terendam lumpur.
- Televisi dan kulkas mengalami korsleting.
- Perangkat elektronik lainnya hancur dan tidak dapat digunakan lagi.
"Kerugiannya nggak sedikit, A," tutur Iis dengan nada sedih. "Makanya begitu lihat Pak Bupati turun tangan langsung bawa martil ngancurin jembatan itu, warga pada sorak kegirangan, bertepuk tangan. Plong dan lega rasanya A. Harapan kami ya jembatannya dibangun lagi, tapi konstruksinya yang jauh lebih tinggi, biar air dari sungai bablas ke laut, nggak mampir-mampir lagi ke rumah warga," pungkas Iis, penuh harap akan solusi permanen.
Langkah Tegas Pemerintah Demi Keselamatan Warga
Bupati Sukabumi Asep Japar sendiri menegaskan bahwa pembongkaran jembatan ini mutlak dilakukan demi keselamatan warga dan fasilitas publik. Dampak dari banjir ini sangat signifikan, bahkan pelayanan kesehatan di Puskesmas Palabuhanratu pun terpaksa dialihkan sementara ke Pustu Citepus karena bangunan utamanya tertutup endapan lumpur tebal. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah untuk mengatasi masalah banjir kronis di wilayah tersebut dan memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat.
Pembongkaran ini bukan hanya sekadar meruntuhkan sebuah bangunan, melainkan simbol harapan baru bagi warga Palabuhanratu untuk bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang ancaman banjir setiap kali musim hujan tiba. Kini, perhatian akan tertuju pada pembangunan kembali jembatan dengan desain yang lebih baik dan sesuai standar hidrologi, memastikan aliran Sungai Ciranca lancar menuju laut, jauh dari permukiman warga.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar