Wajah Baru Gedung Sate-Gasibu: Solusi Macet dan Ruang Publik Bandung
Sorajabar.com - Bandung bersiap menyongsong wajah baru yang megah! Kawasan ikonik Gedung Sate dan Lapangan Gasibu, dua simbol kebanggaan Jawa Barat, kini sedang dalam tahap transformasi besar-besaran. Proyek penataan yang telah lama dinanti ini akhirnya bergulir, dengan target menciptakan ruang publik terpadu yang lebih fungsional, estetik, dan yang terpenting, mampu menjawab tantangan lalu lintas Kota Bandung. Pembongkaran paving blok di halaman depan Gedung Sate menjadi penanda dimulainya era baru bagi pusat pemerintahan Jawa Barat ini.
Megaproyek Integrasi Gedung Sate dan Gasibu Dimulai
Aktivitas pembongkaran halaman Gedung Sate mulai bergulir, dengan paving blok yang selama ini menutup area depan bangunan ikonik di Kota Bandung satu per satu diangkat. Pantauan di lokasi menunjukkan alat berat dikerahkan untuk mempercepat proses. Sementara itu, area depan Gedung Sate kini telah dipagari dengan besi berlapis papan putih di sepanjang sisi Jalan Diponegoro, menandai dimulainya pengerjaan serius.
Langkah ini merupakan tahap awal dari proyek penataan kawasan Gedung Sate yang akan diintegrasikan secara menyeluruh dengan Lapangan Gasibu. Dalam konsep yang telah dirancang, halaman depan Gedung Sate akan diubah menjadi ruang terbuka luas dengan desain simetris, sekaligus menjadi titik pusat berbagai kegiatan, termasuk seremoni kenegaraan.
Ke depan, kawasan ini tak lagi terpisah oleh Jalan Diponegoro. Ruas jalan tersebut akan diintegrasikan ke dalam kawasan, lengkap dengan gerbang utama bergaya arsitektur khas serta ruang publik aktif di sisi barat yang dilengkapi jalur pedestrian lebar dan area hijau. Proyek ambisius ini menelan anggaran Rp15,82 miliar, mencakup pekerjaan fisik hingga jasa konsultasi, dan ditargetkan rampung pada Agustus 2026 dengan cakupan area lebih dari 14 ribu meter persegi.
Gubernur Dedi Mulyadi Buka Suara: Solusi Macet Jadi Prioritas
Di tengah proses yang mulai berjalan, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, akhirnya angkat bicara soal arah besar penataan kawasan tersebut. Ia menegaskan, konsep integrasi ini bukan sekadar mempercantik kawasan, tetapi juga menyelesaikan persoalan klasik kemacetan di sekitar Gedung Sate.
"Pertanyaannya, kenapa harus dipisahkan? Tujuannya agar akses halaman Gedung Sate-nya terbangun dengan baik. Saya begini deh, bayangin, bagaimanapun era demokratisasi melahirkan demonstrasi," ujar Dedi. Menurutnya, selama ini penutupan Jalan Diponegoro saat aksi unjuk rasa menjadi pemicu utama kemacetan parah di Kota Bandung. "Nah, setiap terjadi unjuk rasa itu Jalan Diponegoro ditutup. Akhirnya terjadi kemacetan di Kota Bandung yang parah," katanya.
Rekayasa Lalu Lintas: Lingkar Tanpa Penutupan Total
Dengan konsep baru, Dedi Mulyadi memastikan kondisi tersebut tidak akan terulang. Jalan Diponegoro akan tetap difungsikan, namun dengan pola lalu lintas yang diubah. "Sehingga nanti ke depan tidak akan pernah itu terjadi, karena Jalan Diponegoro-nya tetap terbuka, tidak akan terganggu oleh berbagai kegiatan di halaman Gedung Sate," tegasnya.
Ia menjelaskan, rekayasa lalu lintas akan dibuat melingkar mengitari kawasan, bukan ditutup sepenuhnya. "Bukan (ditutup), jalannya melingkar. Jadi kan itu Gedung Sate ini Jalan Diponegoro. Nanti muter ke depan Pullman, belok kanan. Nanti sebagian Gasibu digunakan untuk jembatan di ujungnya, jadi lebih baik," ungkapnya. Dengan skema tersebut, aktivitas publik seperti demonstrasi tetap dapat berlangsung tanpa mengganggu arus lalu lintas. "Ya boleh, unjuk rasa kan boleh, tapi tidak mengganggu lalu lintas," ujarnya.
Jaga Sejarah, Perluas Ruang Terbuka
Dedi Mulyadi juga memastikan, elemen penting dan bersejarah di kawasan Gedung Sate tidak akan berubah. Batu prasasti yang menjadi bagian dari identitas kawasan akan tetap dipertahankan. "Prasasti tidak berubah, tidak ada masalah. Prasasti tidak akan digeserkan, tetap di situ. Pokoknya batu prasasti tetap di situ," katanya.
Ia menegaskan, inti dari penataan ini adalah memperluas ruang terbuka dan menyatukan kawasan agar lebih representatif sebagai pusat pemerintahan Jawa Barat. "Yang ada adalah penataan, halamannya jauh lebih bagus, sehingga nanti tinggi halaman Gasibu itu sama dengan tinggi halaman Gedung Sate," ujarnya. Dedi pun mengingatkan agar masyarakat tidak salah memahami istilah "plaza" yang kerap digunakan dalam proyek ini. "Jangan nyebut plaza, masyarakat enggak ngerti. Karena selama ini ketika ngomong plaza dianggapnya bangunan. Halamannya nanti terbuka lebih luas, lebih lebar, dan Gasibu tidak menjadi halaman Pullman. Hari ini kan Gasibu kesannya menjadi halaman Pullman, bukan halaman Gedung Sate," pungkasnya, menggarisbawahi upaya mengembalikan Gasibu sebagai halaman utama Gedung Sate.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar