x
Game Controller
SEASON 5
BATTLE
PASS OPEN!
JOIN NOW ▶

Viral Keluarga Saparudin 12 Jiwa di Rumah Reot Bandung

Sorajabar.com - Di tengah hiruk pikuk modernisasi Kabupaten Bandung, sebuah kisah memilukan tersembunyi di balik gang-gang sempit Kampung Babakan Cikeruh, Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi. Di sana, sebuah rumah kecil berdinding bilik bambu yang reyot, berdiri seolah menantang waktu. Atapnya berlubang, dindingnya miring, dan tiang kayunya keropos termakan usia, menjadi saksi bisu perjuangan hidup keluarga Saparudin (56) dan 11 anggota keluarganya.

Lama Menanti Perbaikan, Hidup di Atas Ketidakpastian

Rumah berukuran sekitar 3x6 meter ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan peninggalan orang tua Saparudin yang telah tiada. Sejak tahun 2000, ia bersama saudara dan anak-anaknya telah menghuni bangunan yang semakin usang ini. Saparudin menceritakan bahwa kondisi rumah sudah sangat mengkhawatirkan, terutama saat hujan deras melanda. "Setiap kali hujan deras, kami harus begadang, gantian tidurnya," tuturnya, menggambarkan betapa seringnya mereka harus terjaga, khawatir bilik bambu yang lapuk tak mampu menahan gempuran angin dan air. Lantai kayu yang lembap, ditambah angin yang menembus sela-sela dinding rapuh, menciptakan suasana yang jauh dari kata nyaman.

Bayangkan, 12 orang dari tiga kepala keluarga harus berbagi satu kamar dan ruangan seadanya. Tidur berdempetan "seperti pindang" atau ikan yang dipadatkan, menjadi rutinitas pahit yang mereka jalani setiap malam. Lantai yang hanya beralaskan tanah dan karpet tipis, serta kebocoran di mana-mana, menambah daftar panjang ketidaknyamanan. Saparudin yang sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan, dengan penghasilan tak menentu, merasa tak punya pilihan lain selain bersabar menghadapi kerasnya hidup. "Cuma kesabaran yang jadi obatnya," ucapnya penuh getir.

Kisah pilu ini semakin diperparah dengan fakta bahwa kondisi rumah Saparudin telah didata oleh pemerintah setempat sebagai Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) sejak tahun 2013. Namun, selama lebih dari satu dekade, realisasi perbaikan tak kunjung tiba. Berbagai pihak sudah datang untuk survei, namun janji-janji perbaikan hanya menjadi angin lalu. Harapan yang berkali-kali muncul, berkali-kali pula sirna, meninggalkan keputusasaan yang mendalam.

Kekuatan Viral Mengubah Nasib yang Terlupakan

Namun, takdir seolah mulai berpihak pada keluarga Saparudin. Beberapa waktu lalu, kisah hidup mereka yang memprihatinkan ini menjadi viral di media Sosial. Curahan hati dan kondisi rumah yang memilukan, tersebar luas dan mengetuk hati banyak orang, menarik perhatian publik dan pihak berwenang. Efek viral ini ternyata jauh lebih cepat dan efektif dibandingkan birokrasi yang panjang. Setelah menjadi perbincangan publik, respons dari pemerintah setempat pun datang dengan sangat cepat dan tanggap.

Saparudin mengonfirmasi bahwa pasca-viral, pihak-pihak terkait langsung bergerak. "Alhamdulillah, kemarin sudah ada kejelasan. Mungkin mulai hari Minggu pembongkaran akan dilakukan, dan hari Senin akan segera berjalan pembangunannya," ujarnya dengan nada penuh syukur. Sebuah penantian panjang yang diwarnai ketakutan dan ketidakpastian, akhirnya menemui titik terang, bukan hanya karena proses administrasi yang normal, melainkan berkat kekuatan informasi di era digital yang mampu menyoroti masalah yang terlupakan.

Respons Cepat Pemerintah Kabupaten Bandung dan Desa Cimekar

Kepala Desa Cimekar, Iwan Darmawan, yang telah menjabat sejak tahun 2020, membenarkan kondisi yang dialami keluarga Saparudin. Ia menjelaskan bahwa di wilayahnya, tercatat ada 471 unit rumah yang membutuhkan perbaikan, dan saat ini sisanya tinggal sekitar 180-an, termasuk rumah Saparudin. Ironisnya, rumah Saparudin sebenarnya sudah masuk dalam daftar pembangunan Rutilahu tahap dua di Kabupaten Bandung, namun belum sempat terealisasi.

Iwan Darmawan mengungkapkan bahwa dengan viralnya kasus ini, Pemerintah Kabupaten Bandung dan anggota dewan segera turun tangan. Mereka berkomunikasi dan berkoordinasi untuk mempercepat proses pembangunan. "Alhamdulillah tadi sudah disurvei dan diukur, mungkin mulai Senin akan segera kita bangun," kata Iwan, menunjukkan komitmen untuk segera mengatasi masalah ini. Pembangunan ini menjadi prioritas setelah viralnya kasus ini.

Untuk tahun 2026, Desa Cimekar menargetkan perbaikan 40 unit Rutilahu. Pembangunan ini merupakan hasil kerja sama antara dinas terkait, pihak swasta, dan anggota dewan, menunjukkan upaya kolektif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kasus Saparudin menjadi pengingat betapa pentingnya perhatian terhadap sesama dan bagaimana kadang kala, suara dari media sosial mampu mempercepat proses kebaikan yang terhambat, memberikan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Viral Keluarga Saparudin 12 Jiwa di Rumah Reot Bandung
  • Viral Keluarga Saparudin 12 Jiwa di Rumah Reot Bandung
  • Viral Keluarga Saparudin 12 Jiwa di Rumah Reot Bandung
  • Viral Keluarga Saparudin 12 Jiwa di Rumah Reot Bandung
  • Viral Keluarga Saparudin 12 Jiwa di Rumah Reot Bandung
  • Viral Keluarga Saparudin 12 Jiwa di Rumah Reot Bandung

Posting Komentar

x
Leaf Organic Serum
100% VEGAN

Pure
Nature
Glow

Revitalize your skin with organic essence.

SHOP NOW
X
LEARN DESIGN • MASTER CODE • BE CREATIVE • LEARN DESIGN • MASTER CODE •
Creative
LEVEL
UP!

Unlock your potential with premium online courses.

JOIN NOW
×
Movie
Ad Sponsored
Unlimited Movies & TV
Watch anywhere. Cancel anytime.
WATCH NOW