Terungkap! Sosok Jemaah Haji Pertama Asal Tanah Sunda
Sorajabar.com - Ibadah Haji, pilar kelima dalam rukun Islam, adalah perjalanan spiritual yang menjadi dambaan setiap Muslim yang mampu. Kemampuan ini tidak hanya mencakup kesiapan niat dan fisik, tetapi juga kecukupan finansial untuk perjalanan ke Tanah Suci serta kebutuhan keluarga yang ditinggalkan. Sejak disyariatkan oleh Nabi Muhammad SAW ribuan tahun silam, jejak para penunainya terus mengukir sejarah, termasuk di bumi Nusantara. Namun, siapakah sosok pertama dari wilayah yang kini kita kenal sebagai Indonesia, khususnya dari Tanah Sunda, yang berhasil menunaikan rukun Islam yang agung ini?
Sejarah mencatat bahwa proses masuknya Islam di wilayah Sunda diperkirakan terjadi pada akhir abad ke-14 Masehi. Pada awal abad ke-15 M, gaung Islam semakin meluas hingga merasuk ke lingkungan kerajaan. Dari sinilah muncul nama yang akan menjadi legenda: Haji Purwa.
Siapa Sosok Haji Purwa? Bratalegawa dari Kerajaan Galuh
Haji Purwa adalah sebutan kehormatan bagi Bratalegawa, seorang putra raja bernama Prabu Bunisora. Ia lahir pada tahun 1272 Saka atau sekitar 1350 Masehi. Keturunannya yang mulia terhubung langsung dengan Prabu Niskala Wastu Kancana, yang merupakan kakek dari Prabu Siliwangi, salah satu raja paling terkenal di Tanah Sunda.
Bratalegawa berasal dari Kerajaan Galuh, sebuah kerajaan besar yang berlokasi di wilayah Ciamis, Jawa Barat. Kerajaan Galuh sendiri didirikan pada tahun 612 Masehi dan memiliki peranan penting dalam sejarah Sunda. Meski lahir sebagai seorang bangsawan dan berhak atas kehidupan istana yang nyaman, Bratalegawa justru menunjukkan ketertarikan yang mendalam pada dunia perdagangan. Saat dewasa, ia tumbuh menjadi seorang saudagar yang sangat kaya raya.
Memanfaatkan posisinya sebagai anggota keluarga kerajaan, Bratalegawa berhasil memperluas jaringan usahanya secara masif. Ia memiliki banyak kapal dagang yang melintasi samudra, menguasai berbagai perhiasan berharga, hingga memiliki aset yang tak terhitung jumlahnya. Perjalanannya sebagai pedagang membawanya berlayar ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Sumatera, Malaka, Tiongkok, India, Persia, hingga Semenanjung Arab. Dari ekspedisi inilah, ia membangun relasi yang luas dengan berbagai kalangan dan dari beragam daerah, membuka pintu-pintu baru bagi kehidupannya.
Kisah Perjalanan Cinta dan Ibadah Sang Saudagar
Dalam salah satu perjalanannya yang tak terhitung jumlahnya, Bratalegawa bertemu dengan seorang perempuan cantik asal India bernama Farhana. Farhana adalah putri dari seorang saudagar kaya raya dari Gujarat yang beragama Islam. Pertemuan ini berujung pada kisah cinta yang indah, dan Bratalegawa jatuh hati kepadanya.
Setelah menikah, Bratalegawa dan istrinya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pelayaran mereka ke wilayah Arab. Dalam perjalanan ini, mereka sempat singgah di Arab Saudi. Di sinilah, berdasarkan beberapa catatan sejarah, Bratalegawa menunaikan ibadah haji di Makkah. Sebuah perjalanan yang tentu sangat menantang dan memakan waktu berbulan-bulan di masa itu, jauh berbeda dengan fasilitas modern sekarang.
Selama berada di Makkah, Bratalegawa tidak hanya fokus pada ibadah, tetapi juga memanfaatkan kesempatan untuk mempelajari berbagai ilmu keislaman. Konon, ia bahkan kemudian mengadopsi nama Islam: Haji Baharuddin al-Jawi. Sekembalinya ke Ciamis, jejak ibadahnya telah mengukir namanya di tengah masyarakat. Ia dikenal luas dengan sebutan Haji Purwa Galuh, sebuah nama yang menggabungkan kehormatan spiritual dengan asal-usul kerajaannya.
Kisah Bratalegawa yang inspiratif ini tercatat dalam berbagai sumber kuno yang menjadi harta karun sejarah Tanah Sunda, seperti naskah Carita Parahiyangan dan Naskah Pangeran Wangsakerta. Keduanya menjadi bukti otentik tentang eksistensi dan peran penting Haji Purwa dalam sejarah penyebaran Islam dan perjalanan haji di Nusantara.
Jejak Sejarah Haji di Nusantara: Bukan Hanya Satu Kisah
Meskipun Bratalegawa dikenal sebagai sosok pertama dari Sunda yang berhaji, perlu dicatat bahwa beberapa tokoh lain juga disebut-sebut sebagai orang Indonesia pertama yang menunaikan ibadah mulia ini. Dalam literatur sejarah, misalnya, Laksamana Malaka diduga telah berhaji sekitar tahun 1482 M, menunjukkan adanya interaksi maritim dan keagamaan yang kuat di masa itu.
Selain itu, ada juga pendapat yang menyebutkan Pangeran Abdul Dohhar, putra dari Sultan Tirtayasa, sebagai jemaah haji pertama dari Nusantara. Ia disebutkan berangkat ke Makkah sekitar tahun 1630 M, ditemani oleh para pedagang dan ulama dari berbagai wilayah kepulauan ini, dengan menggunakan kapal layar. Perjalanan haji di era tersebut merupakan sebuah ekspedisi yang luar biasa, seringkali memakan waktu hingga dua tahun lamanya, penuh dengan risiko dan tantangan di lautan lepas.
Bahkan, ada kemungkinan orang Nusantara sudah jauh lebih dulu menunaikan haji sebelum kisah Bratalegawa. Beberapa sejarawan mengaitkan hal ini dengan Kerajaan Sriwijaya. Ada catatan yang menyebutkan hubungan antara Raja Sriwijaya, Sri Indravarman, dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz sekitar tahun 726 M. Sri Indravarman juga diduga telah masuk Islam pada tahun 718 M, sehingga sangat besar kemungkinannya ia memiliki kapasitas dan kesempatan untuk pergi haji ke Makkah. Ini menunjukkan betapa panjang dan kompleksnya sejarah haji di Nusantara.
Apapun versi sejarah yang paling akurat, kisah-kisah para jemaah haji perdana ini menunjukkan semangat keislaman yang kuat dan keberanian luar biasa dalam menunaikan ibadah. Mereka adalah pelopor yang membuka jalan bagi jutaan Muslim Nusantara lainnya untuk merangkul panggilan suci ke Baitullah.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar