x
Game Controller
SEASON 5
BATTLE
PASS OPEN!
JOIN NOW ▶

Solusi Cerdas Susi Pudjiastuti untuk Ikan Sapu-sapu Jakarta

Sorajabar.com - Kontroversi seputar penanganan Ikan Sapu-sapu di Jakarta kembali mencuat, memicu perdebatan sengit tentang metode yang paling etis dan efektif. Di tengah hiruk-pikuk tersebut, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti hadir dengan serangkaian usulan inovatif yang tidak hanya berpotensi menyelesaikan masalah Lingkungan, tetapi juga menawarkan nilai ekonomis. Usulan ini muncul sebagai respons atas sorotan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terhadap metode pemusnahan ikan sapu-sapu dengan cara dikubur hidup-hidup, yang dianggap tidak manusiawi.

Ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus), yang dikenal juga sebagai pleco, adalah spesies ikan air tawar invasif yang dapat merusak ekosistem perairan lokal. Kemampuannya beradaptasi dengan cepat dan memakan alga, telur ikan lain, hingga detritus, membuatnya menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup spesies asli. Di banyak kota, termasuk Jakarta, populasi ikan sapu-sapu yang tidak terkendali telah menjadi masalah lingkungan yang mendesak, mendorong pemerintah daerah untuk mencari cara mengendalikannya.

MUI Soroti Metode Penguburan Hidup-hidup

Sebelum Susi Pudjiastuti menyampaikan sarannya, metode yang sempat diterapkan oleh Pemprov DKI Jakarta untuk menekan populasi ikan sapu-sapu adalah dengan mengubur ikan tersebut hidup-hidup. Namun, praktik ini menuai kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Miftahul Huda, dengan tegas menyatakan bahwa tindakan mengubur hewan hidup-hidup bertentangan dengan prinsip rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta alam) dan prinsip kesejahteraan hewan (kesrawan). Menurut Miftah, dalam sudut pandang syariah, membunuh hewan memang diperbolehkan jika mendatangkan kebaikan, namun jika dilakukan dengan cara yang menimbulkan penderitaan yang tidak perlu, seperti dikubur hidup-hidup, hal itu dianggap sebagai penyiksaan.

"Cara tersebut dianggap menimbulkan penderitaan yang tidak perlu," ujar Miftah. Ia juga menekankan bahwa dari sisi etika kesejahteraan hewan, mengubur hidup-hidup adalah tindakan yang tidak manusiawi dan tidak meminimalkan penderitaan makhluk hidup. Meskipun demikian, MUI mengakui bahwa kebijakan Pemprov Jakarta untuk mengendalikan ikan sapu-sapu adalah langkah yang baik untuk melindungi lingkungan, karena ikan ini memang dapat merusak ekosistem. "Itu sejalan dengan maqāṣid syariah yaitu masuk kategori ḍharūriyyāt ekologis modern," tambahnya, menandakan dukungan terhadap tujuan, bukan metode.

Solusi Inovatif dari Susi Pudjiastuti

Menanggapi sorotan ini, Susi Pudjiastuti menawarkan beberapa opsi yang lebih etis dan berkelanjutan. Mantan menteri yang dikenal dengan jargon "Tenggelamkan!" ini mengusulkan agar ikan sapu-sapu yang ditangkap tidak lagi dikubur hidup-hidup, melainkan diolah menjadi produk yang bermanfaat. Berikut beberapa alternatif yang disarankannya:

  • Pakan Ikan atau Ternak: Susi menyarankan agar ikan sapu-sapu digiling dan diolah menjadi pelet. Pelet ini kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan budidaya atau pakan untuk hewan ternak lainnya. Langkah ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga dapat menjadi sumber protein alternatif yang ekonomis.
  • Pupuk Tanaman: Selain pakan, ikan sapu-sapu juga bisa diubah menjadi pupuk organik. Caranya, ikan dipotong-potong kecil atau dicincang, lalu dikubur di lahan pertanian. Kandungan nutrisi dalam tubuh ikan dapat menyuburkan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman, menjadikan proses ini sebagai siklus nutrisi yang berkelanjutan.
  • Pakan untuk Peternak Kepiting dan Buaya: Susi juga menyebutkan bahwa limbah ikan sapu-sapu bisa diberikan kepada peternak kepiting atau peternak buaya. Setelah dibekukan, ikan-ikan ini dapat menjadi sumber makanan yang kaya protein untuk hewan-hewan tersebut, membuka peluang kolaborasi antara upaya pengendalian hama dan industri peternakan.

Usulan Susi Pudjiastuti ini menyoroti pentingnya pendekatan yang holistik dan berkelanjutan dalam mengelola masalah lingkungan. Alih-alih hanya memusnahkan, mengolah ikan sapu-sapu menjadi pakan atau pupuk tidak hanya menyelesaikan masalah etika yang disorot MUI, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomis. Ini adalah contoh bagaimana inovasi dapat mengubah sebuah ancaman menjadi peluang, sekaligus memastikan perlakuan yang lebih manusiawi terhadap makhluk hidup, meskipun mereka adalah spesies invasif yang perlu dikendalikan.

Langkah ini juga sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, di mana limbah dari satu proses diubah menjadi sumber daya untuk proses lainnya, mengurangi pemborosan dan dampak negatif terhadap lingkungan. Diharapkan, solusi-solusi cerdas seperti yang diusulkan Susi Pudjiastuti ini dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengendalian hama yang lebih komprehensif dan bertanggung jawab.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Solusi Cerdas Susi Pudjiastuti untuk Ikan Sapu-sapu Jakarta
  • Solusi Cerdas Susi Pudjiastuti untuk Ikan Sapu-sapu Jakarta
  • Solusi Cerdas Susi Pudjiastuti untuk Ikan Sapu-sapu Jakarta
  • Solusi Cerdas Susi Pudjiastuti untuk Ikan Sapu-sapu Jakarta
  • Solusi Cerdas Susi Pudjiastuti untuk Ikan Sapu-sapu Jakarta
  • Solusi Cerdas Susi Pudjiastuti untuk Ikan Sapu-sapu Jakarta

Posting Komentar

x
Leaf Organic Serum
100% VEGAN

Pure
Nature
Glow

Revitalize your skin with organic essence.

SHOP NOW
X
LEARN DESIGN • MASTER CODE • BE CREATIVE • LEARN DESIGN • MASTER CODE •
Creative
LEVEL
UP!

Unlock your potential with premium online courses.

JOIN NOW
×
Movie
Ad Sponsored
Unlimited Movies & TV
Watch anywhere. Cancel anytime.
WATCH NOW