Klaim Sensasional Trump Buka Permanen Selat Hormuz China Gembira
Sorajabar.com - Dunia kembali dihebohkan oleh pernyataan kontroversial dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Melalui platform Truth Social miliknya, Trump secara mengejutkan mendeklarasikan bahwa ia telah 'secara permanen' membuka kembali Selat Hormuz. Lebih jauh, ia mengklaim bahwa Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dan pemerintahnya menyambut baik langkah tersebut, bahkan setuju untuk menghentikan pengiriman senjata ke Iran sebagai imbalan atas upaya Washington.
Pernyataan Trump ini, yang dilaporkan oleh The Hill dan Independent.co.uk pada Kamis (16/4/2026), segera menimbulkan tanda tanya besar. Apa sebenarnya maksud dari 'pembukaan permanen' Selat Hormuz? Mengapa klaim ini muncul setelah AS justru memberlakukan blokade laut ketat di kawasan strategis tersebut?
Gejolak di Selat Hormuz dan Upaya AS Menekan Iran
Selat Hormuz adalah jalur maritim yang sangat krusial bagi perekonomian global. Sekitar sepertiga dari minyak yang diperdagangkan di laut setiap hari melewati selat ini, menjadikannya urat nadi energi dunia. Oleh karena itu, setiap gejolak di kawasan ini akan selalu menjadi sorotan utama internasional.
Sebelum klaim Trump, situasi di Selat Hormuz memang sedang memanas. Sejak awal pekan, militer AS yang dikerahkan ke wilayah tersebut telah memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang berlayar dari dan menuju pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini diambil sebagai respons atas keputusan Teheran yang secara signifikan mengurangi lalu lintas di selat tersebut, menyusul ketegangan yang memuncak dengan AS dan Israel pada akhir Februari.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan kepada The Hill bahwa blokade laut yang diterapkan Washington berjalan sangat efektif. "Seperti yang dilaporkan CENTCOM (Komando Pusat AS) kemarin, tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade, yang hanya berdampak pada kapal-kapal yang berlayar dari dan ke pelabuhan-pelabuhan Iran," tegas pejabat tersebut, menunjukkan keberhasilan tekanan Washington.
Klaim Trump dan 'Kesepakatan' dengan Tiongkok
Dalam unggahannya yang memicu perdebatan, Trump menyatakan bahwa Tiongkok "sangat senang" dengan keputusannya membuka Selat Hormuz secara permanen. "Saya melakukannya untuk mereka juga -- dan untuk dunia. Situasi ini tidak akan pernah terjadi lagi," tulis Trump dalam pernyataannya via Truth Social pada Rabu (15/4) waktu setempat.
Klaim paling mengejutkan adalah bahwa Tiongkok telah menyetujui untuk tidak lagi mengirimkan senjata ke Iran. Jika benar, ini akan menjadi pergeseran signifikan dalam hubungan Geopolitik global, mengingat Tiongkok adalah mitra dagang dan strategis penting bagi Iran.
Trump juga mengisyaratkan akan adanya pertemuan penting dengan Presiden Xi Jinping dalam beberapa pekan ke depan saat kunjungan kenegaraan ke Beijing. "Presiden Xi akan memberikan pelukan hangat kepada saya ketika saya sampai di sana dalam beberapa minggu. Kami bekerja sama dengan cerdas, dan sangat baik!!" sebutnya. Ia bahkan menutup pernyataannya dengan gaya khasnya, "Bukankah itu lebih baik daripada berperang??? TETAPI INGAT, kita sangat pandai berperang, jika perlu -- jauh lebih baik daripada siapa pun!!!"
Misteri dan Implikasi Global
Meskipun pernyataan Trump mengguncang dunia, hingga kini belum ada tanggapan resmi atau konfirmasi dari pemerintah Tiongkok terkait klaimnya. Gedung Putih juga belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kebijakan 'pembukaan permanen' Selat Hormuz ini, termasuk apakah hal ini berlaku untuk semua negara atau hanya untuk Tiongkok.
Pemerintahan AS sendiri telah menegaskan bahwa tujuan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran adalah untuk menekan Teheran agar bersedia membuka kembali Selat Hormuz dan kembali ke meja perundingan. "Presiden telah menegaskan bahwa dia ingin Selat tersebut terbuka untuk memfasilitasi arus energi bebas, dan negara-negara juga dipersilakan untuk membeli minyak dari Amerika Serikat," lanjut pejabat senior AS tersebut.
Klaim Trump ini tentu saja menambah kompleksitas pada situasi geopolitik global, terutama di Timur Tengah. Jika kesepakatan dengan Tiongkok benar-benar ada, dampaknya akan sangat besar bagi hubungan AS-Tiongkok-Iran, serta pasar energi global. Namun, tanpa konfirmasi dari Beijing, klaim ini masih menjadi misteri yang menunggu untuk terkuak. Akankah Xi Jinping benar-benar mengonfirmasi klaim Trump dan memberikan 'pelukan hangat' seperti yang ia sebutkan? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar