Kendan Kerajaan Kuno Nagreg Kisah Resi dan Sumber Air Abadi
Sorajabar.com - Kabupaten Bandung, khususnya Kecamatan Nagreg, menyimpan jejak sejarah yang memukau. Di balik hiruk pikuk jalur mudik yang padat, tersembunyi Desa Citaman, sebuah wilayah yang pernah menjadi bagian penting dari Kerajaan Kendan. Sebuah kerajaan yang tidak hanya kaya akan sejarah, tetapi juga warisan Budaya dan kearifan lokal dalam menjaga alam, yang masih lestari hingga kini.
Dua kampung di Desa Citaman, Nenggeng dan Pamujaan, menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Dari bekas Kerajaan Kendan yang didirikan sekitar abad ke-6 M, kedua kampung ini memiliki kaitan erat dengan sejarah Tanah Sunda, jauh sebelum pengaruh Islam menyebar luas. Di Pamujaan, dahulu mungkin menjadi tempat pemujaan bagi leluhur, kini suara azan berkumandang, memanggil umat untuk salat, menunjukkan perpaduan harmonis antara masa lalu dan masa kini.
Menguak Jejak Kerajaan Kendan dan Resiguru Manikmaya
Kerajaan Kendan bukanlah kerajaan yang berdiri sendiri, melainkan bagian federal dari kerajaan besar Tarumanagara. Raja pertamanya adalah seorang resi bernama Resiguru Manikmaya, seorang pengembara kaya raya dari Bharata yang tiba di tanah Sunda dengan tujuan menyebarkan agama. Kedatangannya disambut baik, bahkan ia menikah dengan Dewi Tirthakancana, putri Raja Tarumanagara, Suryawarman.
Sebagai hadiah pernikahan, Resiguru Manikmaya dianugerahi sebuah wilayah yang kini kita kenal sebagai Kendan. Konon, nama 'Kendan' sendiri berasal dari kata 'Ka-Indra-an' yang mengacu pada batu obsidian, komoditas penting di zaman Bandung Purba yang diyakini memiliki nilai sakral. Di bawah kepemimpinan Resiguru Manikmaya, Kendan menjadi pusat kerajaan selama 86 tahun, berkembang sebagai wilayah suci atau mandala untuk peribadatan, seperti yang diindikasikan oleh nama 'Pamujaan'.
Meskipun masa Kerajaan Kendan telah berlalu dan keyakinan spiritual masyarakat telah beralih ke Islam, esensi dari nilai-nilai luhur yang diwariskan tetap terjaga. Terutama dalam hal menghormati dan memelihara alam, warisan tak ternilai yang masih diamalkan oleh warga Desa Citaman hingga hari ini.
Nuras Cai Tradisi Lestarikan Mata Air Warisan Leluhur
Salah satu nilai warisan Kerajaan Kendan yang masih sangat kuat di Desa Citaman adalah kepedulian terhadap lingkungan, khususnya sumber mata air. Wilayah ini memang dianugerahi kekayaan mata air melimpah, menjadikannya pusat kehidupan bagi masyarakat, baik untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, maupun perkebunan. Mata air Nenggeng, Cihapang, Curug Pamujaan, dan Ciseupang adalah empat di antara sumber kehidupan utama di desa ini.
Sebagai bentuk rasa syukur dan upaya pelestarian, masyarakat Desa Citaman secara rutin menggelar ritual tahunan bernama 'Nuras Cai'. Dalam bahasa Sunda, 'nuras' berarti menyaring atau menjernihkan. Namun, Nuras Cai lebih dari sekadar proses membersihkan air; ini adalah manifestasi gotong royong dan kepedulian kolektif terhadap alam. Warga secara bersama-sama membersihkan mata air dan saluran-salurannya, mengangkat lumpur, membersihkan kotoran, dan memastikan aliran air tetap lancar.
Tradisi ini, yang telah diteliti oleh Neneng Yanti Khozanatu Lahpan dan Annisa Arum Mayang dari ISBI Bandung, menunjukkan bagaimana budaya masyarakat ladang di masa Kerajaan Kendan masih relevan dan terus dijaga. Nuras Cai adalah simbol nyata bahwa nilai-nilai kebaikan, kebijaksanaan, dan harmoni dengan alam dari masa lalu dapat terus hidup dan menjadi panduan bagi kehidupan modern. Ini adalah bukti bahwa semangat para leluhur, termasuk Resiguru Manikmaya, masih bersemayam dalam setiap tetes air yang mengalir di Nagreg.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar