x
Game Controller
SEASON 5
BATTLE
PASS OPEN!
JOIN NOW ▶

Bubur Ayam Tasikmalaya Punya Rahasia Manis, Bukan Kecap!

Sorajabar.com - Siapa tak kenal Bubur Ayam Tasikmalaya? Sajian hangat nan mengenyuh hati ini selalu punya tempat istimewa di lidah para pencinta Kuliner. Tapi, pernahkah Anda bertanya-tanya, apa sebenarnya yang membuat bubur ayam khas Priangan Timur ini begitu berbeda? Bukan hanya taburan mentimun segar, melainkan sebuah rahasia turun-temurun yang mungkin tak banyak orang tahu!

Rahasia Tersembunyi di Setiap Suapan Bubur Tasik

Jika Anda mengira cairan hitam yang membasahi bubur ayam Tasikmalaya adalah kecap manis biasa, Anda keliru besar! Mang Ija (70), seorang legenda penjual bubur ayam di kawasan Citapen, Jalan Tentara Pelajar Kota Tasikmalaya, membocorkan rahasianya. "Ini gula merah, kinca yang diracik khusus. Bukan kecap," tegasnya belum lama ini. Racikan gula merah inilah yang menjadi 'DNA' unik bubur Tasik, memberikan sentuhan rasa manis gurih yang khas, sekaligus membuat tekstur buburnya sedikit lebih encer dan mudah dinikmati.

Penggunaan gula merah sebagai pengganti kecap manis adalah kearifan lokal yang telah diwariskan antar generasi. Kinca gula merah ini tidak hanya menambah kedalaman rasa, tetapi juga memberikan warna alami yang menggoda. Setiap suapan bubur Tasik akan menghadirkan kombinasi rasa asin gurih dari bubur, manis dari kinca, dan segar dari topping lainnya, menciptakan harmoni rasa yang sulit ditandingi.

Kisah Mentimun dan Para Pionir Rasa

Selain gula merah, elemen ikonik lain dari bubur ayam Tasikmalaya adalah taburan mentimun cincang. Menurut Mang Ija, penambahan mentimun ini bukanlah tanpa sejarah. Bermula di era 70-an, kelompok pedagang bubur di sekitar Bioskop Parahyangan dan bioskop lain di pusat Kota Tasikmalaya menjadi pelopornya. Nama-nama seperti Mang Udin (kakak Mang Ija) dan Mang Encu (yang terkenal dengan bubur Madmax-nya) adalah inisiator penggunaan sayuran segar ini.

"Dari mereka-mereka inilah resep bubur pakai bonteng berasal, terus akhirnya diikuti oleh pedagang lain," ujar Mang Ija. Alasan di balik penambahan mentimun pun sederhana namun genius: kesegaran. "Ah biar segar saja, kan pakai sambal jadi pedas, kalau ada mentimun lebih enak," ucap Mang Ija. Kesegaran mentimun menjadi penyeimbang sempurna bagi rasa pedas sambal dan kekayaan rasa bubur, menjadikannya pengalaman kuliner yang lengkap.

Dari 'Pangiritan' Menjadi Primadona Kuliner

Mang Ija, yang baru mengikuti jejak kakaknya berjualan bubur pada 1989, telah merasakan pasang surutnya bisnis ini selama 37 tahun. Ia mengenang masa kejayaan ketika 10 kg beras habis dalam sehari, sebuah jumlah yang berarti ratusan porsi bubur terjual. Namun, kini ia hanya menghabiskan 5 kg beras sehari. "Sekarang paling sehari 5 kg beras, berkurang karena tukang bubur banyak, dimana-mana ada," ungkapnya.

Menariknya, Mang Ija juga menyoroti pergeseran nilai bubur ayam. Dulu, bubur sering dikaitkan dengan istilah 'pangiritan' atau hidup hemat. "Dulu makan bubur itu disebut pangiritan meh teu olok kejo (irit agar tak boros nasi)," jelasnya. Stigma bubur sebagai 'makanan orang hemat' kini telah pudar. Sama seperti Nasi Tutug Oncom (Nasi TO), kuliner ikonik Tasik lainnya yang dulunya dianggap makanan rakyat jelata karena keterbatasan lauk, kini bubur ayam juga naik kelas menjadi hidangan yang dibanggakan dan dicari banyak orang.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana makanan tradisional yang awalnya sederhana, kini menjadi bagian penting dari identitas kuliner dan daya tarik wisata. "Zamannya beda sekarang mah, bubur yang harganya Rp35 ribu atau Rp50 ribu juga ada. Orang kaya, orang miskin makan bubur sama saja," tutur Mang Ija, menggambarkan bagaimana kuliner telah melampaui batas status sosial.

Mang Ija, Penjaga Autentisitas Rasa

Di tengah modernisasi dan kenaikan harga, Mang Ija tetap setia pada segmen harga bawah. Seporsi bubur ayam original khas Tasikmalaya dibanderolnya seharga Rp7 ribu, sementara setengah porsi cukup Rp5 ribu. Padahal, nilai orisinalitas dan sisi autentik sebagai pionir bubur khas Tasikmalaya sangat melekat pada dirinya, bahkan bentuk gerobaknya pun masih serupa dengan tukang bubur masa lalu yang berbentuk mobil.

Meskipun pedagang lain menjual dengan harga lebih tinggi, Mang Ija bertekad untuk menjaga harga buburnya tetap terjangkau. "Ah murah saja, menyesuaikan dengan harga bahan. Orang lain sudah Rp10 ribu atau Rp15 ribu, saya Rp7 ribu saja, supaya terjangkau oleh semua orang," pungkas Mang Ija. Dedikasinya bukan hanya tentang berjualan, tetapi juga tentang melestarikan warisan rasa dan memastikan semua lapisan masyarakat dapat menikmati kelezatan otentik bubur ayam Tasikmalaya.

Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Bubur Ayam Tasikmalaya Punya Rahasia Manis, Bukan Kecap!
  • Bubur Ayam Tasikmalaya Punya Rahasia Manis, Bukan Kecap!
  • Bubur Ayam Tasikmalaya Punya Rahasia Manis, Bukan Kecap!
  • Bubur Ayam Tasikmalaya Punya Rahasia Manis, Bukan Kecap!
  • Bubur Ayam Tasikmalaya Punya Rahasia Manis, Bukan Kecap!
  • Bubur Ayam Tasikmalaya Punya Rahasia Manis, Bukan Kecap!

Posting Komentar

x
Leaf Organic Serum
100% VEGAN

Pure
Nature
Glow

Revitalize your skin with organic essence.

SHOP NOW
X
LEARN DESIGN • MASTER CODE • BE CREATIVE • LEARN DESIGN • MASTER CODE •
Creative
LEVEL
UP!

Unlock your potential with premium online courses.

JOIN NOW
×
Movie
Ad Sponsored
Unlimited Movies & TV
Watch anywhere. Cancel anytime.
WATCH NOW