x
Game Controller
SEASON 5
BATTLE
PASS OPEN!
JOIN NOW ▶

Banjir Bandung Tak Kunjung Usai Ibu Muda Ini Lolos Maut Jembatan Roboh

Sorajabar.com - Kisah perjuangan melawan bencana alam di Jawa Barat kembali mencuat, kali ini datang dari Arita Kanindia, seorang ibu muda berusia 31 tahun yang tinggal di Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Sebagai karyawan swasta di kawasan Cikapundung, Kota Bandung, setiap musim hujan tiba adalah episode kelam yang rutin ia alami. Genangan air dan kemacetan parah bukan lagi sekadar gangguan, melainkan ancaman nyata yang menguras tenaga dan pikiran.

Arita, dengan postur jangkung dan rambut pendeknya, selalu didera rasa cemas setiap kali hujan deras mengguyur Bandung. Bayangan jalanan lumpuh dan perjalanan pulang kerja yang berubah menjadi mimpi buruk selalu menghantuinya. Senyum manisnya seketika pudar, berganti kerutan di dahi saat melihat Jalan Baleendah-Bojongsoang terendam Banjir, memutus akses vital warga.

Perjuangan Tak Berujung Melawan Banjir Tahunan

“Capek banget, capek badan, capek pikiran,” ungkap Arita, menggambarkan keputusasaannya yang mendalam. Untuk sampai ke tempat kerjanya, ia biasanya melintasi Jalan Raya Laswi Ciparay yang tembus ke Jalan Raya Baleendah-Bojongsoang, lalu berlanjut ke Buahbatu, Kota Bandung. Titik banjir langganan yang sering ia temui adalah di Cikarees dan Ampera Bojongsoang. Namun, akhir-akhir ini, bahkan Jalan Siliwangi pun tak luput dari genangan jika intensitas hujan sangat tinggi.

Ketika banjir melanda dan jalan masih bisa dilewati kendaraan roda dua, Arita terpaksa berangkat lebih pagi dari biasanya. Ini adalah siasat untuk menghindari kemacetan panjang yang tak terhindarkan. “Pergi kerja harus lebih pagi dan cari jalan alternatif,” katanya.

Salah satu jalur alternatif yang sering ia gunakan adalah via Jembatan Haurhapit, yang menghubungkan Baleendah dan Bojongsoang. Meskipun kondisi jalan di jembatan ini rusak parah, becek, dan licin saat musim hujan, ia memilihnya demi menghindari macet. “Jalannya agak rusak, becek dan licin. Tapi seengganya nggak macet-macetan dan bisa sampai tempat kerja. Terus masih banyak yang belum tahu jalur itu,” tambahnya, mengungkapkan dilema yang harus ia hadapi sehari-hari.

Situasi ini bukan hal baru bagi Arita. Sejak bekerja di Kota Bandung hampir 10 tahun lalu, ia telah menyaksikan sendiri bagaimana bencana banjir seolah menjadi tradisi tahunan. Banjir yang terjadi belakangan ini bahkan ia nilai sebagai salah satu yang terparah, dengan air yang surut lalu naik kembali akibat hujan deras yang tak henti-hentinya. “Hampir setiap tahun banjir kayak gini tuh dan mungkin tahun ini paling parah karena hujannya deras terus, jadi banjir sudah surut naik lagi, naik lagi,” jelasnya.

Kondisi ini tidak hanya menciptakan kemacetan, tetapi juga seringkali memaksa pengendara untuk putar balik, menambah beban fisik dan mental. “Kalau banjir gini tuh jadi double capeknya, kena macet berjam-jam dan ujungnya putar balik,” keluhnya.

Detik-detik Mencekam di Jembatan Cijeruk

Saat banjir melanda, banyak jalan alternatif yang bisa dilintasi, termasuk jembatan-jembatan di atas aliran Sungai Citarum. Namun, jalur ini menyimpan risiko tinggi, bahkan ancaman maut. Arita mengisahkan pengalamannya yang nyaris berakhir tragis saat Jembatan Cijeruk yang menghubungkan Bojongsoang-Baleendah roboh pada Jumat, 23 Mei 2024, sekitar pukul 19.15 WIB. Jembatan apung yang terbuat dari kayu tersebut ambruk lantaran tidak kuat menahan beban ratusan sepeda motor yang melintas secara bersamaan.

Beruntung, Arita sudah lebih dulu melintas dengan selamat sebelum insiden mengerikan itu terjadi. Ia baru menyadari kejadian tersebut setelah tiba di rumah dan melihat Berita. Perasaan terkejut bercampur syukur memenuhi hatinya, menyadari betapa dekatnya ia dengan bahaya. “Waktu Jembatan Cijeruk masih kayu terakhir yang roboh pas aku lewatin selamat alhamdulillah. Pas aku lewat udah miring banget bunyi-bunyi, eh sampai rumah lihat berita jembatannya roboh,” tuturnya, dengan nada penuh kelegaan.

Di tengah kepungan banjir, Arita selalu memantau media sosial untuk mendapatkan informasi terkini mengenai kondisi jalan. Ia tak pernah memilih jalan memutar yang terlalu jauh seperti via Rancaekek-Cileunyi atau Arjasari-Banjaran-Kopo karena akan sangat membuang waktu. Jika kondisi banjir benar-benar parah, ia lebih memilih untuk tidak berangkat bekerja sama sekali.

“Kalu lagi musim kaya gini biasanya selalu mantengin instagram pasti banyak info soal banjir bisa lewat atau enggak, bosen dan capek tapi gimana lagi ya harus di jalanin, mau ngeluh tapi kadang liat anak-anak yang kebanjiran ada happy, jadi malu kalu mau ngeluh,” ungkap Arita, menunjukkan ketabahannya. Meski menghadapi kesulitan luar biasa, ia masih bisa melihat sisi positif dari anak-anak korban banjir yang tetap ceria, membuatnya malu untuk mengeluh.

Harapan Arita mungkin sama dengan harapan jutaan warga Jawa Barat lainnya: sebuah solusi permanen. “Harapan mungkin sama kaya orang-orang, masa harus seperti ini tiap tahunnya,” pungkasnya, menyuarakan kerinduan akan kehidupan tanpa bayang-bayang banjir yang selalu datang.

Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Banjir Bandung Tak Kunjung Usai Ibu Muda Ini Lolos Maut Jembatan Roboh
  • Banjir Bandung Tak Kunjung Usai Ibu Muda Ini Lolos Maut Jembatan Roboh
  • Banjir Bandung Tak Kunjung Usai Ibu Muda Ini Lolos Maut Jembatan Roboh
  • Banjir Bandung Tak Kunjung Usai Ibu Muda Ini Lolos Maut Jembatan Roboh
  • Banjir Bandung Tak Kunjung Usai Ibu Muda Ini Lolos Maut Jembatan Roboh
  • Banjir Bandung Tak Kunjung Usai Ibu Muda Ini Lolos Maut Jembatan Roboh

Posting Komentar

x
Leaf Organic Serum
100% VEGAN

Pure
Nature
Glow

Revitalize your skin with organic essence.

SHOP NOW
X
LEARN DESIGN • MASTER CODE • BE CREATIVE • LEARN DESIGN • MASTER CODE •
Creative
LEVEL
UP!

Unlock your potential with premium online courses.

JOIN NOW
×
Movie
Ad Sponsored
Unlimited Movies & TV
Watch anywhere. Cancel anytime.
WATCH NOW