Terungkap! Kisah Lebaran Cirebon Era Kolonial yang Penuh Drama
Sorajabar.com - Kota Cirebon, sebuah mutiara pesisir di Jawa Barat, sejak era Hindia Belanda telah menjadi jantung perekonomian yang berdenyut kencang. Sebagai kota pelabuhan yang strategis, denyut kehidupan masyarakatnya tak lepas dari berbagai gejolak, mulai dari konflik, wabah penyakit, hingga goncangan ekonomi yang mendalam. Dinamika ini secara langsung turut mewarnai suasana perayaan Lebaran dari tahun ke tahun, menjadikannya sebuah cerminan Sejarah yang penuh liku.
Ketika Lebaran Cirebon Redup: Kisah Krisis Ekonomi 1935
Pada pertengahan tahun 1930-an, tepatnya 1935, Kota Cirebon merasakan Lebaran yang jauh berbeda dari biasanya. Tanpa keriuhan, tanpa gemuruh petasan, tanpa semarak yang lazimnya menyertai hari kemenangan. Suasana perayaan hari raya di ‘Kota Wali’ ini kala itu begitu hening, seolah ditelan kesunyian yang mencekam.
Kelesuan ini bukan tanpa alasan. Sebuah laporan dari surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 9 Januari 1935 mengungkap bahwa Lebaran di Cirebon berlangsung jauh lebih tenang karena dampak krisis ekonomi global yang saat itu tengah mencengkeram. “Penghematan akibat kekurangan uang dirasakan baik di kota maupun di pedesaan,” demikian kutipan dari laporan tersebut. Masyarakat, baik di perkotaan maupun pedesaan, merasakan betul dampak krisis ini, menyebabkan daya beli anjlok drastis.
Pasar-pasar yang biasanya ramai menjelang Idulfitri mendadak sepi. Para pedagang mengeluhkan penjualan yang buruk, omzet mereka merosot tajam. Ironisnya, di tengah keterpurukan ini, toko-toko milik warga Jepang justru kebanjiran pembeli. Mereka menawarkan harga yang lebih miring dan cara pajangan barang dagangan yang menarik perhatian. Fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat mencari pilihan termurah di tengah himpitan ekonomi.
Meski demikian, ada secercah harapan yang muncul dari kondisi ini. Krisis justru mendorong masyarakat kembali melirik produk-produk lokal. Sarung dan pakaian tradisional dalam negeri kembali menjadi primadona. Lonjakan penggunaan sarung memberikan angin segar bagi industri rumahan yang kala itu sedang berjuang. “Ini juga merupakan tanda yang menyegarkan bahwa sarung, pakaian nasional, semakin banyak dipakai lagi, yang memberikan dukungan signifikan kepada industri sarung yang sedang berkembang,” tulis surat kabar tersebut, menandakan kebangkitan kecil di tengah krisis besar.
Lebaran Kembali Berseri di Tahun 1937
Dua tahun berselang, wajah Lebaran di Cirebon mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Tahun 1937 menjadi saksi bisu kembalinya semarak hari raya. Laporan dari Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 8 Desember 1937 menggambarkan suasana yang kontras dengan tahun 1935. Dentuman petasan dan pijar kembang api kembali menghiasi langit malam Lebaran, menandakan kembalinya kegembiraan.
Toko-toko penjual kembang api diserbu pembeli, saking ramainya sampai-sampai salah satu toko besar di Pasuketan harus ditutup sebagian demi mencegah risiko kebakaran. Aktivitas penjualan kembang api ini diawasi ketat oleh pihak kepolisian, dengan sistem penjualan melalui satu pintu untuk menjaga ketertiban dan keamanan.
Selain kembang api, toko-toko Jepang juga kembali menuai keuntungan besar. Masyarakat berbondong-bondong mencari pakaian baru. “Tampaknya hampir semua orang memiliki jaket baru tahun ini. Toko-toko Jepang khususnya telah menikmati banyak pelanggan dalam beberapa hari terakhir,” demikian laporan tersebut, menunjukkan indikasi membaiknya daya beli masyarakat.
Bayang-bayang Kejahatan Pasca-Lebaran 1939
Namun, euforia kembalinya kemeriahan tak bertahan lama. Dua tahun setelahnya, tepatnya 1939, suasana Lebaran di Cirebon justru diselimuti bayang-bayang ketegangan. Surat kabar kala itu ramai memberitakan lonjakan aksi kriminalitas, baik selama hari raya maupun setelahnya. Pembobolan rumah, perampokan, hingga pencurian terjadi di berbagai sudut kota, menciptakan rasa tidak aman di tengah masyarakat.
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 18 September 1939 secara rinci melaporkan berbagai kasus pencurian. Salah satu korban adalah seorang warga Eropa berinisial AE van der B, yang kamarnya dibobol dan harta bendanya digasak maling. Sepeda menjadi salah satu barang incaran utama para pelaku kejahatan. “Tidak kurang dari delapan sepeda dicuri selama beberapa hari terakhir,” tulis laporan tersebut, dengan sepeda-sepeda tersebut langsung diubah agar sulit dikenali pemilik aslinya.
Aksi kriminalitas ini bahkan menyasar fasilitas publik. Seorang dokter di Rumah Sakit Pamitran, Moh T, melaporkan hilangnya uang dari brankas rumah sakit. Perusahaan dagang besar juga tak luput dari incaran. “Di perusahaan Geo Wéhry sepuluh peti ikan sarden senilai 118 gulden dibobol pencuri,” imbuh laporan tersebut, menggambarkan betapa maraknya kejahatan yang terjadi pasca-Lebaran kala itu.
Rangkaian peristiwa sejarah ini memberikan gambaran jelas bahwa perayaan Lebaran di Cirebon pada masa Hindia Belanda bukanlah peristiwa yang statis. Ia selalu berfluktuasi, sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, dinamika sosial, dan stabilitas keamanan yang melingkupinya dari zaman ke zaman. Kisah ini menjadi pengingat akan ketahanan dan adaptasi masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar