Terkuak! Penyebab Harga Daging Sapi Rp160 Ribu di Bandung
Sorajabar.com - Hiruk pikuk pagi di Pasar Kosambi, Kota Bandung, pada awal Maret lalu tiba-tiba diwarnai oleh pemandangan tak biasa. Sebuah tim gabungan yang terdiri dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), Satreskrim Polrestabes Bandung, dan Pemerintah Kota Bandung tampak menyusuri lorong-lorong pasar. Misi mereka jelas dan mendesak: menyingkap misteri di balik kabar harga daging sapi yang melambung hingga Rp160 ribu per kilogram, sebuah angka yang memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat.
Misi Penyelidikan di Pasar Kosambi
Kunjungan mendadak ini bukanlah tanpa alasan. Desas-desus tentang harga daging sapi yang menembus batas wajar, terutama menjelang bulan suci Ramadan, telah sampai ke telinga para pemangku kebijakan. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, merasa perlu turun langsung ke lapangan. Ia ingin memastikan apakah kenaikan harga ini murni dinamika pasar atau ada indikasi anomali yang perlu ditindaklanjuti.
Di salah satu lapak daging, pedagang bernama Aji mengungkapkan bahwa fluktuasi harga adalah "irama tahunan" yang kerap terjadi saat permintaan meningkat drastis, khususnya menjelang bulan puasa dan Lebaran. "Sekarang Rp150-160 ribu per kilogramnya, soalnya banyak yang cari juga buat puasa ini kan," kata Aji, seraya memprediksi kenaikan serupa akan kembali terjadi jelang Idulfitri. Namun, ia menjamin ketersediaan stok di lapaknya akan tetap aman.
Terkuak! Rahasia di Balik Harga Tinggi
Setelah serangkaian pengecekan dan konfirmasi di lapangan, tabir di balik angka Rp160 ribu itu akhirnya tersingkap. Bukan karena kelangkaan atau praktik penimbunan, melainkan karena adanya permintaan khusus dari konsumen. I Gusti Ketut Astawa menjelaskan bahwa harga dasar daging sapi sebenarnya masih berada di kisaran Rp130 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram.
“Harga Rp140 ribu paha belakang, apabila tidak dibersihkan lemak-lemaknya. Jadi begitu ada request atau permintaan dari konsumen untuk dibersihkan, sehingga dagingnya daging murni, maka tentu harganya akan melebihi dari harga batas. Jadi sudah clear, paha belakang seharga Rp140 ribu, paha depan 130 ribu, tidak dibersihkan,” jelas Gusti. Ini berarti, kenaikan harga tersebut adalah biaya tambahan untuk "jasa bersih-bersih" yang menghasilkan daging murni tanpa lemak.
Fakta ini seharusnya mampu menenangkan masyarakat. Artinya, jika konsumen membeli daging sapi dalam kondisi standar tanpa request pembersihan khusus, harganya tetap berada di level yang relatif stabil dan wajar. Informasi ini juga menegaskan bahwa isu "biang kerok" harga mahal bukanlah spekulan atau kelangkaan, melainkan preferensi konsumen itu sendiri.
Stabilitas Harga Pangan Lain dan Peringatan Keras
Tak hanya fokus pada daging sapi, tim gabungan juga menyisir komoditas pokok lainnya di Pasar Kosambi. Hasilnya? Mayoritas harga pangan masih dalam kondisi aman dan stabil. Gusti merinci, "Bawang putih bagus Rp38 ribu per kilo, bawang merah antara Rp41 ribu per kilo, cabai rawit masih bagus, beras medium Rp13.500, premium Rp14.900, ada yang sedikit di atas tapi relatif masih stabil. Kemudian, yang lain-lain daging ayam bagus harga Rp40.500 per kilo masih relatif bagus, kemudian telur masih oke."
Bapanas juga dengan tegas menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu terjebak dalam panic buying. Pasokan pangan di Pasar Kosambi dipastikan melimpah dan cukup untuk memenuhi kebutuhan warga hingga momen Lebaran tiba. "Artinya semua posisi harga di Pasar Kosambi relatif stabil dan tentu yang tidak kalah penting adalah pasokannya sangat-sangat cukup," imbuh Gusti.
Di sisi lain, Kasatreskrim Polrestabes Bandung, AKBP Anton, turut memberikan peringatan keras. Pihaknya bersama para pemangku kepentingan terkait akan memperketat pengawasan di lapangan. Ini bertujuan untuk mencegah praktik penimbunan atau upaya-upaya spekulasi yang dapat merugikan masyarakat. "Jika memang dirasa ada hal-hal yang perlu kami intervensi, kami akan bersama-sama turun ke lapangan," pungkas Anton, menegaskan komitmen aparat dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan.
Dengan transparansi ini, diharapkan masyarakat Kota Bandung dan sekitarnya dapat berbelanja dengan tenang, tanpa perlu khawatir akan isu-isu harga yang tidak berdasar. Harga yang stabil dan stok yang melimpah adalah kabar baik bagi semua, khususnya menjelang perayaan besar.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar