Siti Indramayu Kisah Haru Lansia Tunanetra Berhati Teguh
Sorajabar.com - Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, masih ada kisah-kisah keteguhan hati yang menginspirasi, tersembunyi di balik kesederhanaan. Salah satunya adalah kisah Ibu Siti, seorang lansia tunanetra yang bermukim di Desa Tenajar Lor, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu. Bagi Siti, dunia memang tak pernah terlihat seutuhnya. Sejak lahir, matanya tak mampu menangkap cahaya, memaksanya menapaki kehidupan dalam kegelapan abadi.
Kini, di usianya yang diperkirakan lebih dari 60 tahun, Siti menjalani hari-harinya seorang diri. Rumahnya begitu sederhana, sebuah bangunan kecil berukuran sekitar tiga kali tiga meter, pemberian dari saudaranya. Di dalamnya, hanya ada ruang seadanya yang berfungsi sebagai tempat tidur sekaligus dapur mungil. Di sinilah Siti menghabiskan sebagian besar waktunya, meraba setiap sudut dengan tangannya yang kini mulai keriput, mengandalkan ingatan dan kepekaan indera lainnya.
Kehidupan Mandiri di Tengah Keterbatasan
Meski gelap menyelimuti, semangat mandiri tak pernah pudar dari diri Siti. Setiap pagi, setelah terbangun, ia dengan perlahan berjalan menuju sumur yang tak jauh dari rumahnya. Langkahnya mantap, hafal setiap lekuk jalan yang telah ia kenali selama bertahun-tahun. Ia membersihkan diri dan mengambil air minum, semua dilakukan tanpa bantuan penglihatan. Sebuah rutinitas yang mungkin terlihat sepele bagi kebanyakan orang, namun merupakan bukti kegigihan yang luar biasa bagi Siti.
Dahulu, untuk menyambung hidup, Siti memiliki pekerjaan yang cukup unik. Ia terampil membuat sapu lidi, memanfaatkan daun kelapa kering yang saat itu masih mudah ditemukan. Tangan-tangannya yang terlatih menganyam lidi-lidi menjadi sapu sederhana yang kemudian dijual. Namun, waktu tak berhenti. Daun kelapa kering kini semakin sulit didapat, dan sumber penghasilan kecilnya pun perlahan hilang. Sejak saat itu, hari-harinya lebih banyak dihabiskan di rumah kecilnya, merenung dalam sunyi.
Menurut penuturan tetangga, kehidupan Siti memang berbeda dari orang kebanyakan. Ia tidak pernah menikah dan menjalani fase-fase kehidupan pada umumnya. Kehidupannya terkesan "datar" sejak kecil hingga di usia senja. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan ketulusan hati yang memancar, menjadikannya sosok yang dihormati di lingkungan sekitarnya.
Cahaya Kebaikan dari Para Tetangga
Di balik keterbatasan Siti, ada secercah cahaya yang selalu menerangi: kebaikan para tetangga. Idah Qoidah (45), salah satu tetangga yang paling sering membantu Siti, mengungkapkan bahwa Ibu Siti dikenal sebagai pribadi yang sangat baik, rajin belajar, dan taat beribadah. "Ibu Siti itu punya keterbatasan di penglihatannya. Tapi orangnya baik, rajin belajar dan rajin ibadah," tutur Idah saat ditemui tim Sorajabar.com beberapa waktu lalu.
Hal yang memprihatinkan, lanjut Idah, adalah kenyataan bahwa Ibu Siti belum pernah tersentuh bantuan dari pemerintah, meskipun kondisinya sangat membutuhkan uluran tangan. Padahal, dengan kondisi tunanetra dan hidup seorang diri, bantuan tersebut tentu akan sangat berarti untuk meringankan beban hidupnya. Kebutuhan makan sehari-hari Siti pun kerap dibantu oleh keluarga Idah. Bukan karena ikatan darah, melainkan murni karena rasa Kemanusiaan dan kepedulian yang mendalam.
Ibunda Idah, Ibu Halimah, adalah sosok yang hampir setiap hari memastikan Siti mendapatkan makanan. Jika ada kerusakan pada dipan tempat tidur atau dinding rumah biliknya, keluarga Idah juga yang sigap membantu memperbaikinya. Hubungan yang terjalin antara Siti dan keluarga Idah bukan hanya sekadar hubungan tetangga biasa. Lebih dari itu, telah tumbuh ikatan kekeluargaan yang erat, didasari oleh rasa empati dan keinginan untuk tidak membiarkan Siti menjalani semuanya sendirian.
Keteguhan Hati Sang Pejuang
Meskipun hidup dengan banyak keterbatasan dan bergantung pada kebaikan orang lain, Siti tetap berusaha melakukan beberapa hal secara mandiri. Ia masih mampu memasak menggunakan kayu bakar, meskipun tidak setiap hari. Saat ditanya sejak kapan ia tidak bisa melihat, jawabannya singkat namun penuh makna. "Sejak kecil," katanya pelan, tanpa nada keluhan.
Tidak banyak yang ia minta, apalagi dikeluhkan. Bahkan ketika ditanya soal makanan favorit atau keinginannya, jawabannya pun sederhana. "Makan apa saja yang ada." Kalimat lugas ini menggambarkan bagaimana Siti menjalani hidupnya dengan penuh penerimaan, tanpa banyak tuntutan atau pilihan. Ia menerima setiap takdir yang terhampar di hadapannya dengan lapang dada.
Namun, ada satu kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan, sebuah pilar spiritual yang menopang jiwanya. Ketika waktu salat tiba, Siti akan berjalan dengan langkah perlahan menuju musala yang tidak jauh dari rumahnya. Dalam kegelapan, hatinya tetap terang, teguh menjalankan ibadahnya. Di rumahnya yang sederhana, Siti mungkin tidak pernah melihat keindahan dunia dengan mata fisiknya, namun ia menjalani hidupnya dengan kesabaran dan keteguhan hati yang luar biasa.
Kegelapan mungkin telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya sejak lahir. Tetapi, kisah Ibu Siti adalah pengingat bahwa manusia bisa tetap bertahan, bahkan berkembang, ketika dunia yang ia jalani tak pernah terlihat oleh matanya. Sebuah inspirasi tentang resiliensi, keikhlasan, dan indahnya solidaritas antar sesama di bumi Indramayu.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar