Rahasia Dapur Kampung Ketupat Bandung Raup Berkah Lebaran
Sorajabar.com - Gemuruh riang Idulfitri selalu membawa serta kehangatan tradisi yang tak lekang oleh waktu. Di tengah hiruk-pikuk persiapan Lebaran, ada satu sudut di Kota Bandung yang berdenyut lebih kencang, menghidupkan kembali warisan Budaya yang kaya. Inilah Kampung Ketupat di Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, sebuah sentra yang tak pernah absen menghadirkan aroma khas daun kelapa muda dan kesibukan menganyam janur, simbol Lebaran yang selalu dinanti.
Memasuki gang-gang sempit di kampung ini, indra penciuman kita langsung disambut semerbak wangi janur yang baru dipetik. Pemandangan tangan-tangan cekatan yang tak henti menganyam kulit ketupat menjadi tontonan sehari-hari, khususnya menjelang Hari Raya Idulfitri. Bagi warga Kampung Ketupat Bandung, pembuatan ketupat bukan sekadar pekerjaan musiman, melainkan sebuah ritual kolektif yang menghidupkan kebersamaan dan merajut tali silaturahmi.
Salah satu pasangan yang turut merasakan denyut nadi kesibukan ini adalah Eli (40) dan suaminya, Soni (40). Mereka sengaja memanfaatkan waktu libur kerja untuk berpartisipasi dalam produksi massal kulit ketupat. “Di sini memang sudah tiap tahun mau lebaran pasti bikin ketupat,” tutur Eli kepada Sorajabar.com, menunjukkan betapa tradisi ini telah mendarah daging. Dalam sehari, dengan kecekatan dan kerja keras, mereka mampu menghasilkan ribuan buah ketupat. Produksi ini dimulai beberapa hari sebelum Lebaran, mengikuti ritme permintaan pasar yang melonjak drastis. Eli menambahkan, “Mulainya dari 2-3 hari sebelum lebaran, karena hari Jumat besok sudah ada yang lebaran jadi otomatis sudah mulai buat dari kemarin.” Potensi produksi harian mereka yang bisa mencapai lebih dari 1.000 buah ketupat kemudian dijual langsung ke pasar, menjadi bukti nyata geliat Ekonomi Lokal di musim Lebaran.
Untuk harganya, ketupat-ketupat dari Babakan ini bervariasi sesuai ukuran. Ketupat berukuran sedang umumnya dibanderol Rp 10 ribu per ikat, sementara ukuran besar dihargai Rp 15 ribu per ikat. Harga yang kompetitif ini memungkinkan produk mereka menjangkau berbagai kalangan masyarakat di Kota Bandung dan sekitarnya.
Denyut Nadi Ekonomi dan Tradisi Abadi
Meskipun sebagian besar warga menjadi 'pembuat ketupat musiman', ada juga yang menjadikan aktivitas ini sebagai profesi sehari-hari, seperti Sri Mulyani (50). Baginya, menganyam ketupat adalah mata pencarian utama, bukan hanya saat Lebaran. “Kalau hari biasa juga bikin, tapi hari biasa yang hijau ketupatnya, kalau lebaran yang kuning keputihan ini,” jelas Sri, membedakan jenis ketupat yang dibuatnya. Jelang Lebaran, produksinya melonjak drastis. Bayangkan, dalam kurun waktu tiga hari saja, ia bisa menghasilkan hingga 12 ribu ketupat! Angka fantastis ini seringkali masih terasa kurang jika permintaan pasar terus membanjir. “Alhamdulillah ramai. Semuanya kejual, kadang sampai kurang. Kalau kurang saya cari lagi daunnya, bikin lagi,” ungkapnya penuh syukur.
Fenomena ini juga diamini oleh Ketua RW 13 Kelurahan Babakan, Ruly. Ia mengungkapkan bahwa dari sekitar 800 kepala keluarga di wilayahnya, kini sekitar 300 di antaranya masih aktif melestarikan tradisi pembuatan ketupat. “Dulu saya masih kecil hampir tiap rumah buat ketupat, sekarang karena sudah berubah, mungkin hanya setengahnya dari total KK yang membuat ketupat, sekitar 300 KK saja,” kenangnya. Meskipun jumlahnya berkurang, semangat dan geliat produksi tetap terasa kuat, terutama saat menjelang Lebaran tiba.
Ketupat-ketupat yang telah rampung dianyam ini tidak hanya berhenti di tingkat kampung. Produk-produk ini kemudian menyebar ke berbagai pasar di seluruh Kota Bandung, dibawa dan dijual langsung oleh warga. “Menjelang lebaran itu pasti ada, hari biasa juga ada biasanya untuk penjual kupat tahu. Cuma kalau momen seperti sekarang lebih banyak yang buat,” kata Ruly. Ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal ini memiliki jangkauan yang luas dan berperan penting dalam memenuhi kebutuhan kuliner masyarakat Bandung saat Idulfitri.
Kampung Ketupat di Babakan bukan hanya sekadar pusat produksi, melainkan sebuah simbol hidup tentang bagaimana sebuah tradisi mampu menyatukan komunitas, menciptakan peluang ekonomi, dan melestarikan warisan budaya. Setiap anyaman janur yang dibuat dengan tangan cekatan adalah cerminan dari semangat gotong royong dan kebersamaan yang menjadi inti perayaan Lebaran. Ini adalah kisah tentang ketekunan, harapan, dan indahnya berbagi berkah di bulan yang suci.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar