x
Game Controller
SEASON 5
BATTLE
PASS OPEN!
JOIN NOW ▶

Pergulatan Pasar Ujungberung Saat Ramadan Melawan Gempuran Online

Sorajabar.com - Bulan Ramadan adalah momen yang identik dengan peningkatan aktivitas ekonomi, khususnya di pasar-Pasar Tradisional. Namun, sebuah gambaran berbeda terlihat di Pasar Ujungberung, Bandung. Alih-alih meramaikan suasana, Ramadan tahun ini justru diwarnai sepinya pembeli, menyisakan keresahan di benak para pedagang. Mereka tidak hanya berhadapan dengan tren belanja yang bergeser, tetapi juga gempuran tak terbendung dari toko-toko daring yang menawarkan harga lebih kompetitif.

Gempuran Digital Membayangi Pedagang Tradisional

Lela, seorang pedagang baju remaja di Pasar Ujungberung, tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Menurut penuturannya, kondisi pasar belakangan ini terus mengalami penurunan jumlah pembeli. Fenomena toko online menjadi kambing hitam utama. "Kita ini kalah dengan toko online. Di sana harganya bisa lebih murah dibanding di pasar. Kalau di sini kan bisa langsung ketemu. Online Shop bikin pembeli jarang datang ke sini," keluh Lela kepada awak media. Keluhan ini bukan hanya milik Lela seorang, melainkan suara hati banyak pedagang lainnya yang merasakan dampak serupa.

Pasar Ujungberung memiliki karakteristik unik, dengan pedagang pakaian mendominasi bagian dalam, sementara penjual sembako dan bahan makanan menempati sisi luar. Bagian luar pasar sering menjadi rujukan utama bagi warga yang membutuhkan bahan makanan segar, terutama para penjual makanan yang harus berbelanja sejak dini hari. Namun, bagi pedagang pakaian, tantangan terasa jauh lebih berat. Selain harus bersaing dengan toko online, mereka juga menghadapi kompetitor langsung dari Pasar Gedebage, yang dianggap memiliki variasi barang dan jumlah pedagang pakaian yang lebih banyak.

Kendala Adaptasi Digital: Bukan Sekadar Teknologi

Di tengah era disrupsi digital, adaptasi menjadi kunci untuk bertahan. Namun, tidak semua pedagang di Pasar Ujungberung mampu melangkah ke ranah daring. Restu, pedagang topi dan gelang, mengakui bahwa ia jarang melihat sesama pedagang melakukan aktivitas penjualan online seperti live streaming. Banyak yang masih nyaman dengan cara konvensional, atau justru terhambat oleh keterbatasan pengetahuan.

Lela sendiri, misalnya, memiliki keinginan untuk berjualan online, namun niatnya harus tertunda karena kesibukan mengurus anak-anaknya yang masih kecil. "Mungkin belum ya, karena anak-anak ini masih kecil kang. Kan tidak enak kalau live streaming terus tiba-tiba anak saya menangis. Tunggu dewasa dulu, kalau sudah mandiri," ujarnya. Kendala personal seperti ini seringkali menjadi penghalang tak terlihat bagi pedagang tradisional untuk beralih ke platform digital, membuat mereka semakin tertinggal.

Solidaritas Jadi Kunci Bertahan di Era Digital

Meskipun dihantam berbagai tantangan, semangat gotong royong dan solidaritas antar pedagang di Pasar Ujungberung tetap membara. Lela menceritakan bagaimana ia dan pedagang lain saling membantu untuk tetap bertahan. "Harus saling membantu sesama pedagang. Seperti saat ini, saya mengambil dagangan dari ibu saya yang menjual pakaian muslim. Minimal pendapatan adalah masuk ke keluarga," jelas Lela. Ia mencontohkan saat dirinya membantu seorang pembeli mencari jubah gamis, yang kebetulan tidak dijual di lapaknya, namun tersedia di lapak ibunya. Praktik saling merekomendasikan dan berbagi pelanggan seperti ini menjadi strategi survival yang kuat.

  • Saling Merekomendasikan: Pedagang tidak ragu mengarahkan pembeli ke lapak sesama pedagang yang memiliki barang yang dicari.
  • Berbagi Pelanggan: Memastikan pendapatan tetap berputar di lingkungan keluarga atau sesama pedagang, menjaga roda ekonomi pasar.
  • Membangun Komunitas: Solidaritas ini memperkuat ikatan antar pedagang, menciptakan ekosistem yang saling mendukung.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di balik kerasnya persaingan dan gempuran teknologi, nilai-nilai tradisional seperti kebersamaan dan saling tolong-menolong masih menjadi benteng pertahanan bagi para pelaku UMKM di pasar tradisional. Pasar Ujungberung adalah cerminan dari banyak pasar tradisional lainnya di Indonesia yang sedang berjuang mencari identitas dan relevansi di era digital. Dukungan, edukasi, dan inovasi kolektif akan menjadi kunci bagi mereka untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di masa depan.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Pergulatan Pasar Ujungberung Saat Ramadan Melawan Gempuran Online
  • Pergulatan Pasar Ujungberung Saat Ramadan Melawan Gempuran Online
  • Pergulatan Pasar Ujungberung Saat Ramadan Melawan Gempuran Online
  • Pergulatan Pasar Ujungberung Saat Ramadan Melawan Gempuran Online
  • Pergulatan Pasar Ujungberung Saat Ramadan Melawan Gempuran Online
  • Pergulatan Pasar Ujungberung Saat Ramadan Melawan Gempuran Online

Posting Komentar

x
Leaf Organic Serum
100% VEGAN

Pure
Nature
Glow

Revitalize your skin with organic essence.

SHOP NOW
X
LEARN DESIGN • MASTER CODE • BE CREATIVE • LEARN DESIGN • MASTER CODE •
Creative
LEVEL
UP!

Unlock your potential with premium online courses.

JOIN NOW
×
Movie
Ad Sponsored
Unlimited Movies & TV
Watch anywhere. Cancel anytime.
WATCH NOW